Worship in the Suffering

Referensi Kotbah 25 Oktober 2020

Dalam kehidupan ini, setiap kita pasti mengalami berbagai peristiwa, baik itu menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Sangat mudah memuji Tuhan dan bersyukur ketika kita mengalami hal-hal yang menyenangkan, semua berjalan dengan lancar, tidak ada masalah. Namun bukan hal mudah untuk bisa memuji Tuhan dan bersyukur ketika banyak pergumulan hidup yang kita hadapi.

Kita bisa melihat pergumulan dari Habakuk. Habakuk melihat bagaimana bangsa Kasdim menindas Yehuda namun sepertinya Tuhan diam saja. Di mata Habakuk Tuhan sepertinya tidak memiliki niat untuk menolong. Hal ini tampak dalam Habakuk 1:2-3 dimana Habakuk berseru, “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.”

Namun dalam pergumulannya bersama Tuhan, Tuhan begitu sabar. Dalam 2:1-20, Tuhan mengatakan bahwa orang Kasdim yang sombong akan celaka dan menghadapi penghukuman. Namun Tuhan menginginkan Habakuk tetap percaya pada-Nya. Hal ini bisa dilihat dalam 2:4, “Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.” Kesabaran Tuhan membuat Habakuk berubah sikap. Habakuk memberikan pernyataan iman yang begitu luar biasa, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku” (3:17-19). Ucapan ini menunjukkan bahwa Habakuk tidak kecewa dengan kondisinya. Walau situasi lebih sulit, dia tetap akan memuji Tuhan dan bersukacita.

Jemaat sekalian, manusia adalah mahluk terbatas. Hanya bisa mengetahui masa lalu dan apa yang terjadi saat ini. Namun Allah tidak terbatas, Allah tahu akan masa lalu, saat ini dan masa depan. Sehingga percaya akan janji-janji Tuhan dalam Alkitab akan memampukan kita untuk tetap dapat bersukacita, meski dalam pergumulan. Kondisi boleh sesulit apapun, situasi bisa berubah. Namun janji Tuhan tidak pernah berubah, ya dan Amin. Tuhan Yesus memberkati.

– Bp. Cahyono Candra –