Worship as a Spiritual Warfare (Ibadah sebagai Peperangan Rohani)

Referensi Kotbah 11 Oktober 2020

2 Tawarikh 20:1-30

Konteks peperangan rohani dalam perikop ini adalah campur tangan ilahi yang tidak dapat dilihat mata jasmani, tetapi itu sungguh nyata ada dan terbukti terjadi.  Peperangan rohani yang terjadi pada diri Yosafat, raja Yehuda adalah ketika dia mendengar bahwa bani Moab dan bani Amon serta sepasukan orang Meunim bersatu akan menyerang kerajaan Yehuda (ay. 1-2). Dalam takutnya, Yosafat tidak meminta bantuan kepada manusia tetapi memutuskan untuk mencari TUHAN, bahkan mengajak seluruh orang Yehuda mencari TUHAN dan berpuasa, berlutut sujud menyembah-Nya (ay. 3-4).

Dalam doanya kepada TUHAN, Yosafat mengakui tidak mempunyai kekuatan menghadapi musuh yang besar, tidak tahu apa yang harus dilakukan (ay. 5-12). Dalam pergumulan dan peperangan rohaninya, TUHAN menjawab doa Yosafat melalui Yahaziel (ay. 14-17). Mendengar nubuatan kemenangan dari Allah itu membuat raja Yosafat dan segenap rakyat Yehuda sujud menyembah Allah (ay. 18). Puji-pujian bagi TUHAN pun dikumandangkan oleh bani Kehat dan bani Korah dengan suara yang sangat nyaring (ay. 19) sebagai wujud ungkapan syukur mereka atas TUHAN yang bertindak.

Keesokan harinya, dalam perjalanan menuju medan perang, ada beberapa orang yang diangkat Yosafat untuk memuji TUHAN. Ketika mereka mulai bersorak-sorai memuji Tuhan, saat itulah mukjizat Tuhan terjadi dimana musuh dikalahkan (ay. 21-24). Yosafat melihat dan membuktikan Tuhanlah yang berperang menghadapi bani Moab, bani Amon dan orang-orang Meunim; Orang Yehuda sama sekali tidak berperang sebagaimana yang dinubuatkan Yahaziel.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus, hari ini melalui 2Taw. 20:1-30 kita belajar bahwa beribadah, menyembah, memuji Tuhan Yesus Kristus tidak hanya sebatas di bibir saja. Pujian itu pun memiliki kuasa ketika kita nyanyikan dengan segenap hati. Melalui pergumulan hidup yang tidak mudah, baik itu kesehatan, ekonomi, karier, masalah rumah tangga, dan lainnya, kita diajar untuk terus meninggikan dan memuji Tuhan. Dengan demikian, sebagaimana yang dialami Yosafat dan rakyat Yehuda, kita pun akan mengalami pertolongan Tuhan yang tidak kasat mata itu, namun sungguh nyata dan terbukti. Kiranya kita sekalian dimampukan untuk terus mengandalkan Tuhan dan memuji nama-Nya. Amin.

~ Pdt. Daniel Lie ~