THOSE WHO ARE CALLED CHRISTIANS

Referensi Kotbah 23 Agustus 2020

1 Petrus 4:12-19

“Kristen bukanlah sekadar agama, tetapi Kristen adalah identitas,” demikian dikatakan oleh para ahli sejarah Gereja. Identitas apakah sebenarnya yang harus dibangun oleh seorang yang menyebut dirinya Kristen? Bercermin dari sejarah lahirnya Kekristenan, dapat dikatakan bahwa identitas terkuat dari Kekristenan adalah penderitaan. Kristen lahir di tengah berbagai tekanan dan penganiayaan hebat yang dilakukan oleh bangsa Romawi dan juga dari orang-orang Yahudi. Itu sebabnya Kekristenan lahir sebagai agama yang tangguh. Semakin ditekan, semakin maju. Semakin dibabat, semakin merambat. Identitas berikutnya yang tidak kalah penting dari seorang Kristen adalah sukacita.

Penderitaan dan sukacita adalah dua hal yang sangat berlawanan. Bagaimana mungkin orang yang menderita dapat bersukacita? Bukankah seharusnya sukacita atau rasa bahagia akan datang bersamaan dengan kondisi kecukupan, kelimpahan, dan kenyamanan? Dalam konsep teologi Kristen, dikenal sebuah pemahaman bahwa penderitaan itu membawa kita ke dalam persekutuan dengan Kristus. Jadi sukacita orang Kristen lahir bukan karena kenyamanan dan kecukupan materi atau perasaan gembira, tetapi sukacita itu datangnya dari persekutuan kita dengan Kristus. Semakin dekat dan menyatu dengan Tuhan, membuat penderitaan sehebat apapun tidak dapat merenggut sukacita setiap orang yang menyebut dirinya Kristen. Selanjutnya, identitas yang juga kuat melekat dalam diri seorang Kristen adalah tidak malu membawa Kristus di dalam dirinya karena Kristus tidak pernah mempermalukan orang percaya apapun dan bagaimanapun keadaannya.

Kristen adalah identitas hebat yang diletakkan Allah pada diri umat-Nya, meskipun nama itu awalnya diberikan sebagai ejekan terhadap pengikut Kristus. Tangguh menghadapi hidup, berjalan dengan iman dan sukacita, terus bersaksi tanpa bisa dihentikan oleh apapun juga termasuk penderitaan, itulah ciri kehidupan Kristen yang sejati. Di tengah kesusahan besar yang terjadi di dunia ini oleh karena pandemi yang berkepanjangan dan berbagai persoalan hidup lainnya yang datang silih berganti, sudah seharusnyalah setiap orang yang menyebut dirinya Kristen semakin bersinar, yakni dengan menunjukkan identitasnya yang sejati agar hidupnya tetap menjadi terang dan kesaksian meskipun di tengah tantangan hidup yang tidak mudah dihadapi. Justru dalam tekanan hebat itulah identitas Kristen menunjukkan kemurniannya.

Casthelia Kartika, D.Th.