Tanda Kemurahan Allah

Pelangi. Walaupun tidak semua kita masih suka menggambar pelangi, tetapi setiap kali pelangi nampak di awan-awan setelah hujan, seperti ada rasa senang bisa melihat kehadirannya. Memang tidak setiap ada hujan, kita dapat melihat pelangi. Kita harus ada pada posisi di mana Matahari memantulkan cahayanya melalui butir-butir air hujan yang sedang turun itu, kepada kita.

Cahaya yang terurai yang menjadi spektrum warna itu menyenangkan bagi setiap yang melihatnya. Ada fenomena alam lainnya – circumhorizontal arc dan circumzenithal arc– yang menyerupai pelangi, yang disebabkan oleh butiran es yang terdapat pada awan yang lebih tinggi lagi dari awan hujan. Butiran es yang ada pada awan yang lebih tinggi itu, juga menyajikan warna-warna seperti pada pelangi, tetapi tidak berbentuk busur (melengkung). Warna-warna pada circumhorizontal arc dan circumzenithal arc mengikuti pola awan yang biasanya mendatar dan terurai seperti kain.

Ketika Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh, Allah memakai “busur pelangi” di awan sebagai “tanda perjanjian” (Kej. 9: 13-16). Perjanjian Allah dengan Nuh adalah wujud kemurahan Allah kepada manusia dan semua makhluk hidup yang ada di dunia (Kej. 9:17). Air bah tidak menghilangkan dosa dan kelemahan manusia. Nuh “yang mabuk” karena anggur dan Ham “yang menghina orangtuanya” sehingga dikutuk oleh Nuh, adalah bukti bagaimana dosa terjadi dalam keluarga yang baru saja diselamatkan Allah dari air bah. Perjanjian itu adalah pernyataan bahwa Allah mau bersabar, menahan diri dan menangguhkan penghukuman-Nya atas dosa sampai pada waktu yang telah ditentukan-Nya, dengan cara yang berbeda dengan yang baru saja dilakukan-Nya.

Selanjutnya, Allah yang Maha-hadir dan Maha-tahu, tidak perlu berada di tempat tertentu untuk dapat “melihat” kehadiran pelangi di bumi ini, agar diingatkan pada janji-Nya. Ia secara simultan pada waktu yang sama melihat seluruh pelangi yang ada di seluruh muka bumi ini. Jika sampai hari ini kita masih melihat pelangi, itu juga berarti bahwa Allah telah setia memelihara perjanjian-Nya dengan Nuh dan seluruh makhluk hidup, termasuk kita di dalamnya.

Sebagaimana pelangi menandai Perjanjian “Anugerah umum” Allah bagi manusia dan seluruh ciptaan-Nya di bumi, demikian juga bagi orang percaya, ada “tanda perjanjian” lain yang menandai Perjanjian “Anugerah Khusus” Allah. Sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus) yang ditetapkan Allah bagi kita adalah tanda yang menandai perjanjian yang Allah adakan antara diri-Nya dan kita umat-Nya. Berbeda dengan Perjanjian dengan Nuh, Perjanjian yang disimbolkan dengan Baptisan dan Perjamuan Kudus bersifat menyelamatkan (redemptive) dan terbatas pada umat tebusan-Nya saja.

Setiap kali kita melihat “tanda kemurahan-Nya” baik pelangi di awan, maupun melalui sakramen yang dilayankan, mari kita terus bersyukur karena janji-Nya itu. Allah setia memelihara perjanjian-Nya, sehingga janji-Nya nyata dalam hidup kita. Dengan cara itu, kita selamat dan dipelihara dari kedahsyatan murka Allah terhadap segala dosa dan kejahatan, saat ini dan yang akan dilaksanakan kelak pada hari penghukuman-Nya. Amin!

Doa: Terima kasih Tuhan untuk meterai keselamatan-Mu. Kami aman tinggal di dalam-Mu! Amin!

~ Pdt. Albert Adam ~