PESAN BULAN OIKOUMENE

Bersama Menghadapi Bencana

Kisah Para Rasul 11:26-30

Apalah arti sebuah nama? Begitu pertanyaan retorik yang sering diungkapkan tentang nama. Benarkah demikian juga halnya dengan nama “Kristen” (Yunani Christianos)? Tentu “orang Kristen” berarti pengikut Kristus, tetapi di era awal Kekristenan nama itu kemudian mengandung stigma. Komunitas yang menyandang julukan “Christianos” tidak ikut-ikutan dengan kehidupan dan keyakinan masyarakat zamannya yang hedonis dan korup (bd. 1 Ptr 4:3-4). Wajar saja bila mereka sering menjadi sasaran kecurigaan dan bahkan fitnah.

Akan tetapi, konteks sosial di fajar Kekristenan menunjukkan bahwa komunitas “Kristen” bukanlah kelompok eksklusif yang tidak peduli pada penderitaan yang melanda dunia mereka. Sejak awal, ajaran cinta kasih yang berulang kali dipesankan oleh Yesus dari Nazaret (Mat 22:37-39; Mrk 12.30-31; Yoh 15:17) mendorong mereka untuk berbagi hidup dengan sesama mereka. Di pangkalan misi Kristen pertama di Antiokhia, kepedulian ini diwujudnyatakan ketika seluruh dunia (oikumene) ditimpa bencana kelaparan yang dahsyat pada masa Kaisar Klaudius. Menurut penuturan Lukas, bencana kemanusiaan ini menggenapi nubuat Nabi Agabus (Kis 11:28). Ternyata, bencana kelaparan ini juga dilaporkan oleh Flavius Yosefus, sejarawan Yahudi yang hidup di abad pertama Kekristenan. Diperkirakan sekitar 45-46 M, banyak orang yang mati kelaparan di Yerusalem.

Namun, fokus teks kita bukan penggenapan nubuat itu melainkan apa yang dilakukan murid-murid dengan identitas barunya. Mereka memutuskan untuk mengumpulkan sumbangan semampu mereka untuk membantu saudara-saudara di Yudea untuk dikirimkan dengan perantaraan Paulus dan Barnabas. Apa yang mereka lakukan, meskipun dalam skala kecil, mengungkapkan solidaritas “oikumenis”, wujud kepedulian yang terarah kepada korban-korban bencana sedunia, tentu saja dalam batasan dunia (oikumene) yang dikenal di zamannya.

Mengikuti jejak umat “Kristen” purba, gereja-gereja di sepanjang sejarah mempunyai panggilan dan misi yang sama untuk mewujudnyatakan cinta kasih Kristus kepada para korban bencana dalam beragam bentuknya, baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Urgensi panggilan dan misi kemanusiaan semakin nyata ketika dunia (oikumene) kita dilanda wabah dan aneka bencana yang menelan korban tanpa membeda-bedakan identitas etnis, suku, agama dan ikatan primordial lainnya.

Dalam konteks dunia kita saat ini yang dilanda pandemi (dari istilah Yunani pas ‘seluruh’ dan demos ‘penduduk, rakyat’), kita disadarkan akan nasib kita bersama sebagai warga dunia yang sehari-hari menyaksikan dampaknya dari segi medis, ekonomis, sosio-politis, dan juga religius. Di tanah air kita, sementara ancaman pandemi Covid 19 belum berlalu, di berbagai belahan negeri ini bencana susul-menyusul melanda dan menelan korban-korbannya.

Kondisi darurat ini dan kesadaran yang kian tumbuh sebagai penghuni dunia yang serba rapuh mengajak umat Kristus untuk memperkokoh ikatan persaudaraan dan  mempertajam visi oikumenis untuk turut menjadi “sesama” melalui kepedulian dan tindakan nyata. Kita mengingat ajaran Yesus dari Nazaret yang terus menginspirasi dan menggerakkan kita untuk meneladani orang Samaria yang bermurah hati kepada korban kejahatan karena panggilan kemanusiaan (Luk 10:25-37). Kita belajar dari perumpamaan yang dicatat Lukas bahwa menjadi sesama bukanlah sekadar wacana tetapi tindakan nyata yang digerakkan oleh belas kasih sebagai nilai dasar kemanusiaan (10:33, 36-37).

Narasi-narasi yang disusun oleh Lukas mengenai kehidupan dan kesaksian gereja Kristus di era awal itu tetap mendorong kita untuk bersaksi melalui pewartaan Kabar Baik dengan menjadikannya benar-benar sebagai kabar baik bagi Indonesia di abad ke- 21 dan khususnya di tahun-tahun penuh pergumulan dan perjuangan ini. Gereja-gereja di seluruh pelosok negeri kita diajak untuk melihat oikumene kita dalam konteks-konteks kehidupan masyarakat kita, entah itu dalam situasi bencana di Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Timur, dan daerah-daerah yang bahkan masih luput dari pantauan publik tetapi tak henti-hentinya didera oleh aneka kekerasan terhadap manusia dan alam.

Namun, solidaritas di negeri bencana seyogianya juga dalam bentuk kerjasama untuk pengurangan resiko bencana (mitigasi) mengingat masih lemahnya kerja pemerintah daerah untuk itu. Kita bisa mengurangi banyak korban dan kerusakan akibat fenomena ekstrem alam, seandainya kita sendiri tidak menjadi bagian dari agen kerusakan lingkungan. Gereja-gereja di Indonesia perlu bergerak bersama selangkah lebih maju untuk membangkitkan gerakan mitigasi bencana sebagai cara hidup Kristen. Dengan respons tanggap bencana seperti itu, akan banyak energi dan sumber daya kita bisa untuk hal-hal lain seperti memerangi kemiskinan dan memajukan pendidikan.

Pesan Bulan Oikoumene PGI pada tahun ini mengingatkan kita bahwa secara historis maupun teologis kekristenan telah berkelindan dalam upaya-upaya penanggulangan bencana sebagai bagian dari panggilan imannya. Pada jejak iman yang sama, kita patut bersyukur atas keterlibatan gereja-gereja di Indonesia untuk turut menanggulangi bencana Pandemi Covid-19 selama ini di dalam seluruh kapasitas yang dimiliki. Dengan rasa syukur pula kita mengapresiasi kerjasama gereja-gereja di Indonesia untuk turut memikul beban saudara-saudara kita yang terpapar bencana di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang baru saja dihantam Siklon Seroja, dan saat ini masih berjuang keras untuk memulihkan dampak kerusakan yang dialami mereka.

Sebagai bagian dari Gerakan Oikoumene di Indonesia kita terpanggil untuk terus meneladani Yesus Kristus yang menghampiri dan memberi diri untuk membantu mereka yang membutuhkan. Pada teladan Sang Juru Selamat ini, kita diajak untuk menyatakan kasih bagi sesama; kasih yang menjembatani semua orang dari beragam latar belakang untuk bekerjasama dalam situasi kebencanaan guna membangun masa depan yang lebih baik.  Selamat Merayakan Bulan Oikoumene