PERUBAHAN HIDUP

Referensi Kotbah 02 Februari 2019
Mikha 6 : 1 – 8

Dalam perikop firman Tuhan ini, nabi Mikha menggunakan bahasa legal untuk menggambarkan suatu “adegan” pengadilan, yaitu TUHAN sedang menghakimi Israel. Mikha 6:1, “Baiklah dengar firman yang diucapkan TUHAN: Bangkitlah, lancarkanlah pengaduan di depan gunung-gunung, dan biarlah bukit-bukit mendengar suaramu!” Kata “pengaduan” dalam bahasa Inggris “contend,” “riyb” dalam bahasa Ibrani memiliki arti istilah legalnya: “menghakimi” (to judge).
Ada dua pertanyaan dari TUHAN kepada umat Israel:1) Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepada-Mu?
2) Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? TUHAN meminta umat Israel untuk menjawab: Jawablah Aku! (dalam bahasa Ibrani kata ini sering digunakan dengan pengertian “memberi kesaksian”).
Mengapa kedua pertanyaan itu disampaikan TUHAN kepada umat Israel?
Ayat 9-16 memberi penjelasan pelanggaran-pelanggaran yang telah diperbuat umat Israel:
1) Mereka memakai neraca palsu.
2) Melakukan banyak kekerasan, dusta, dan penipuan.
3) Berpaut kepada ketetapan-ketetapan Omri (lih. 1 Raj. 16:25-26).
4) Berpaut kepada segala perbuatan Ahab dan bertindak menurut rancangan mereka (lih. 1 Raj. 16:30-33).

Seperti raja-rajanya, bangsa Israel telah melakukan kejahatan dengan berpaling menyembah berhala dan tidak setia melakukan firman Tuhan, tidak melakukan keadilan, melainkan dusta dan penipuan. Meskipun demikian, mereka tetap datang ke bait Allah untuk mempersembahkan korban. Seakan TUHAN dapat disogok dan tutup mata dengan urusan dosa mereka. Padahal yang TUHAN inginkan adalah mereka hidup dengan rendah hati di hadapan TUHAN yang telah membebaskan mereka dari perbudakan, bahkan yang telah menyertai dan memberkati mereka.
Dalam konteks hidup kita sekarang ini, kedua pertanyaan TUHAN perlu kita renungkan. Sejauh mana kita mengingat anugerah dan segala kebaikan yang telah TUHAN lakukan kepada kita, dan sejauh mana kita telah hidup taat dan setia melakukan firman-Nya.
Hukuman-hukuman yang akan TUHAN jatuhkan kepada umat Israel antara lain:
1. Tuhan memukul dan menanduskan mereka (ay. 13).
2. Mereka makan, tetapi tidak kenyang (ay. 14a).
3. Mereka menyingkirkan sesuatu, tetapi tidak dapat menyelamatkannya. Apa yang dapat diselamatkan akan diserahkan kepada pedang (ay. 14b).
4. Mereka menabur, tetapi tidak menuai (ay. 15a).
5. Mereka mengirik buah zaitun, tetapi tidak berurap dengan minyaknya; juga mengirik buah anggur, tetapi tidak meminum anggurnya (ay. 15b).
6. Membuat mereka menjadi ketandusan dan menjadi sasaran suitan (ay. 16b).
7. Mereka menanggung celaan dari pihak bangsa-bangsa (ay. 16c).
Dosa selalu ada akibat dan hukumannya. Oleh sebab itu, marilah kita menanggalkan segala perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.
Walaupun akan menerima hukuman TUHAN, bangsa Israel masih diberi kesempatan untuk bertobat, firman Tuhan melalui nabi Mikha memberi tahu mereka apa yang baik.
Yang dituntut TUHAN adalah suatu perubahan hidup (ayat 8), yang:
1. Berlaku adil
2. Mencintai kesetiaan
3. Hidup dengan rendah hati di hadapan TUHAN.
TUHAN memberikan anugerah dan kesempatan kepada kita untuk perubahan hidup. Sebab maksud kemurahan Allah adalah untuk menuntun kita kepada pertobatan. Selagi masih diberi kesempatan, marilah kita berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan TUHAN.

~ Pdt. Martin Elvis ~