PENYERTAAN ALLAH DALAM PELAYANAN PENDAMAIAN

2 Korintus 5:11-21

Perikop hari ini dilatarbelakangi dari keadaan jemaat Korintus yang menolak kerasulan dan otoritas Paulus bagi jemaat ini.  Jemaat di Korintus lebih terpikat dengan pemimpin rohani yang kaya dan pintar berpidato, dibandingkan Paulus yang sering menderita (2Kor. 6:4-5), miskin (2Kor. 6:10), dan tidak pandai bicara di depan umum (2Kor. 10:10-11; 11:16-17). Karena itu, Paulus menyampaikan bahwa ia lebih senang berkenan di hadapan Tuhan, dibanding membanggakan hal-hal lahiriah (ay. 11-12).  Ia dapat bersikap demikian karena ia telah memahami dan mengalami sendiri besarnya kasih Kristus yang rela mati bagi kepentingan dirinya manusia berdosa (ay. 14-15), hingga menjadikannya sebagai ciptaan baru (ay. 17).

Paulus sadar tidak ada hal yang dapat dibanggakan di hadapan Allah, karena “semuanya ini dari Allah” (ay. 18).  Allah-lah Sang inisiator yang memulai segalanya.  Dalam anugerah-Nya, Allah mengambil inisiatif untuk memperbaiki relasi-Nya dengan manusia berdosa.  Bapa mengutus Anak-Nya yang Tunggal untuk datang ke dalam dunia, menyatakan kehendak-Nya kepada dunia berdosa, sampai mati terkutuk di atas kayu salib agar relasi-Nya dengan manusia diperdamaikan (ay. 18-19).  Tanpa inisiatif Allah, maka kita semua masih menjadi musuh-musuh Allah.

Berita pendamaian ini haruslah disampaikan kepada banyak orang.  Lalu, siapa yang Allah pakai untuk memberitakan kabar baik ini?  Yaitu setiap kita yang telah menerima pendamaian dari Allah, yang hidupnya telah menjadi milik Kristus (ay. 15) dan menjadi ciptaan baru dalam Kristus (ay. 17).  Hanya mereka yang telah menerima pelayanan pendamaian Kristus yang dapat membagikannya kepada orang lain.  Maka pertanyaannya adalah apakah Bapak/Ibu/Saudara/i telah menerima pelayanan pendamaian Kristus?  Sediakah kita dipakai oleh Allah sebagai pelayan berita pendamaian, meski harus menderita?

Dalam rangka mensyukuri HUT Ke-82 Sinode Gereja Kristus, marilah setiap kita yang telah menerima pelayanan pendamaian ini terus berani menceritakannya kepada sanak keluarga kita, rekan kerja, ataupun orang di sekitar kita.  Biarlah kasih Kristus menguasai kita untuk menjadi saksi-Nya.  Amin.

Dibuat oleh: Sdri. Paula Ch. Mulyatan