PENGHARAPAN AKAN KASIH SETIA TUHAN

Ratapan 3:19-33

Membaca kitab Ratapan 3:19-33 ini, kesan pertama yang didapat ialah Yeremia sedang meratap karena pergumulan yang sangat berat. Namun begitu, dalam kondisi yang demikian tidak membuatnya kehilangan keyakinan dan pengharapan akan kasih setia Tuhan yang tidak berkesudahan. Dari sikap yang ditunjukkan Yeremia di atas, kita belajar bahwa :

Pertama, Yeremia menerima pergumulan Yehuda sebagai pergumulannya pribadi

Meski memberi kesan bahwa ratapan Yeremia karena pergumulannya pribadi (ay. 1-19), namun sebenarnya bukan demikian. Yeremia meratap karena menyaksikan kondisi Yehuda yang harus mengalami hukuman Tuhan atas ketidaktaatan mereka dengan mengizinkan kota Yerusalem dihancurkan serta seluruh penduduknya menjadi tawanan. Apa yang terjadi pada Yehuda inilah, yang ikut dirasakan Yeremia sebagai pergumulannya sendiri. Ini jadi bukti sikap empati dan pedulinya Yeremia kepada kondisi Yehuda, sekalipun hal itu adalah konsekuensi logis yang harus diterima Yehuda akibat perbuatan mereka sendiri. Dalam semangat kesatuan tubuh Kristus (1 Kor. 12:26) marilah kita juga ikut peduli dengan pergumulan, kesulitan, penderitaan Saudara/i kita, terlebih di masa pandemi yang belum berakhir.

Kedua, Yeremia tetap berharap akan kasih setia Tuhan

Jika dicermati, maka ayat 1-18 punya nada yang berbeda dengan ayat 19-33. Sebelumnya ada nada kesedihan, kesusahan, penderitaan namun sesudah itu berganti dengan nada yang berbeda dari sebelumnya. Mengapa demikian? Karena, Yeremia yang mewakili kaum Yehuda ingin menunjukkan bahwa:

  1. Sekalipun harus menderita akibat ketidaktaatan pada Tuhan, namun keyakinan dan pengharapan akan kasih setia Tuhan kepada umat yang dikasihi-Nya tidak berubah (ay. 25-26). Karena “tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan, walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi” (ay. 31-32).
  2. Penting untuk menyadari dan memahami bahwa hukuman Tuhan atas umat-Nya, bukan hanya untuk menunjukkan keadilan-Nya, tapi juga menjadi pembelajaran bagi umat-Nya agar tidak kompromi dengan dosa dan sungguh mau hidup benar (ay. 27-30).

Biarlah kita semua juga tetap beriman dan tidak kehilangan pengharapan akan kasih setia Tuhan yang tak berkesudahan, di dalam situasi sulit apapun termasuk dalam masa pandemi yang kita semua hadapi saat ini. Tetap mengarahkan hati kita untuk menjalani hidup yang berkenan pada Tuhan  dan senantiasa meyakini bahwa pertolongan Tuhan sungguh tidak akan pernah terlambat bagi anak-anak-Nya. Amin!

~ Pdt. Widianto Yong ~