Pelayan yang Teruji

Referensi Kotbah 8 November 2020

1 Tesalonika 2:1-12

Jemaat di Tesalonika adalah jemaat hasil pelayanan Paulus pada perjalanan misinya yang kedua.  Jemaat ini terdiri dari beberapa orang Yahudi yang percaya, sejumlah besar orang non Yahudi, serta perempuan-perempuan terkemuka (Kis. 17:1-4).  Pertobatan besar ini mengundang reaksi iri hati dari orang-orang Yahudi lainnya, sehingga mereka bersama gerombolan perusuh menghasut orang banyak untuk menuduh Paulus dan Silas sebagai guru palsu dan pemberontak Kaisar (17:5-7).  Akibatnya, Paulus dan Silas harus melarikan diri ke daerah Berea (17:10) dan surat ini menjadi usaha Paulus untuk berhubungan kembali dengan orang-orang Kristen di Tesalonika.

Dalam perikop ini Paulus sedang menjawab setiap tuduhan yang ditujukan kepadanya.  Paulus dituduh sebagai guru yang datang memberi pengajaran untuk mendapatkan keuntungan pribadi.  Memang pada abad pertama, ada beberapa orang yang mengaku sebagai guru, namun sebenarnya mencari keuntungan pribadi, baik itu uang, kepuasan seksual, hingga popularitas diri.  Maka dari itu, Paulus menjelaskan maksud kedatangannya.

Paulus mengatakan bahwa kesaksiannya di antara orang Tesalonika tidaklah sia-sia (2:1) karena di Tesalonika lahir jemaat Kristus dan mereka menjadi saksi bagi daerah-daerah di sekitar mereka (1:8).  Meskipun ia harus menanggung penganiayaan dan penghinaan di Filipi (2:2, lih. Kis. 16:19-40), ia tetap berani memberitakan Injil.  Paulus pun mengakui keberanian itu ia peroleh karena “pertolongan Allah” (ay. 2).  Kekuatan ilahi inilah yang menopangnya.

Paulus menambahkan bahwa keberanian itu dilakukan bukan untuk keuntungan pribadi atau menyenangkan orang, melainkan lahir dari motivasi yang murni untuk menyenangkan Allah (2:3-6).  Keberanian itu juga berasal dari kasihnya yang besar bagi jemaat Tesalonika (2:7-12).  Ia menggambarkan dirinya seperti seorang ibu yang merawat, mengasuh, bahkan rela mengorbankan diri bagi anak-anak rohaninya (2:7-9).  Sekaligus seperti seorang ayah yang menyediakan bimbingan rohani dan perlindungan kepada mereka (2:11-12).  Tentu Paulus tidak sedang membesar-besarkan dirinya.  Ini dilakukan semata-mata untuk menjawab tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya.  Paulus pun berulang kali mengatakan Allah dan jemaat Tesalonika adalah saksi dari setiap yang ia lakukan dan tulis (2:1-2, 5, 9-11).  Tak salah jika kita menyebutnya sebagai pelayan yang teruji.

Sama seperti Paulus, kita pun dipanggil sebagai pelayan Injil yang teruji.  Teruji berarti tetap berani walaupun menderita dan dicaci-maki.  Berani karena kita rindu menyenangkan Allah dan mengasihi sesama kita.  Jangan sampai Injil itu berhenti di kita dan kita menjadi batu sandungan.  Mari dengan giat kita terus memberitakan Injil kepada sesama, sambil kita juga terus menguji motivasi dan kasih kita.  Hingga akhirnya, Allah sendiri yang menguji setiap pekerjaan tangan kita bagi kemuliaan Dia.  Tuhan Yesus memberkati.

~ Pdt. Setiawan Sutedjo ~