HIDUP SEBAGAI ORANG BERHIKMAT

Referensi Kotbah 26 Juli 2020

I Raj. 3: 1-15

Nas hari ini menceritakan tentang Salomo yang tetap menunjukkan kasihnya kepada Tuhan dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya.  Pada suatu hari ia pergi ke Gibeon untuk mempersembahkan korban dan di sanalah Tuhan menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam.  Dalam mimpi itu berfirmanlah Allah, “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” (ay. 5).

Salomo tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhnya tetapi hikmat dan pengertian.  “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat” (ay. 9).  Adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal demikian.  Maka Tuhan mengabulkan doa Salomo, diberikan hati yang penuh hikmat dan pengertian (ay. 12),  bahkan memberikan hal yang tidak diminta oleh Salomo yaitu kekayaan, kemuliaan sehingga tidak akan ada seorang pun seperti Salomo di antara raja-raja. 

Kunci kehidupan Salomo adalah hidup menurut jalan Tuhan dan tetap mengikuti ketetapan dan segala perintah-Nya (ay. 14).  Demikianlah juga dituliskan dalam Amsal 1:7, “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”  Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat.

Hal inilah yang hendak disampaikan dan diajarkan kepada kita, agar kita mengerti bahwa untuk mendapatkan hikmat Tuhan adalah dengan hidup takut akan Tuhan.  Hikmat Tuhanlah yang akan menolong dan memimpin kita dalam kehidupan ini, baik saat kita menghadapi kesulitan, pergumulan bahkan dalam berbagai macam permasalahan.  Oleh karena itu hendaklah kita memohon hikmat Tuhan agar kita mampu menjalani hidup ini dalam anugerah dan kehendak-Nya.

Namun sayang sekali di akhir hidupnya, Salomo terlena dengan kesuksesan dan pencapaiannya.  Ia jatuh ke dalam dosa dan penyembahan berhala.  “Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing” (1 Raja 11:1).  Ia jatuh karena tiga “ta” yaitu: tahta, harta dan wanita sehingga berangsur-angsur Salomo mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain.  “Sebab pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya” (11: 4).  “Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel …” (11: 9).

Apa yang dialami Salomo dapat menjadi peringatan bagi kita semua, bahwa walaupun seorang memiliki hikmat Allah tetapi ketika dia tidak sepenuh hati berpaut pada Tuhan, maka Tuhan pun murka kepadanya.  Oleh karena itu baiklah kita senantiasa menjaga hati dan kehidupan kita dalam takut akan Tuhan, baik diri kita sendiri beserta seluruh keluarga kita.  Tuhan Yesus memberkati.  Amin.

~Pdt. Setiawan Sutedjo~