GRACE ALONE

Referensi kotbah 5 Juli 2020

Roma 7:13-26

Taurat dan spiritualitas Kristen saat ini sering kali dilihat sebagai dua hal yang bertentangan dan tidak ada relevansinya. Ada orang yang berpendapat bahwa Taurat dan Kitab-kitab Perjanjian Lama, tidak lagi ada peran apapun dalam kehidupan Kristiani. Karena orang percaya “…telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus,” dan telah menjadi milik Kristus (7:4). Orang percaya juga “…telah dibebaskan dari hukum Taurat,” mati bagi Taurat (7:6). Dan “…sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut hukum Taurat.” (7:6).

Nas-nas di atas dijadikan alasan bahwa Taurat sudah tidak ada peran apapun dalam kehidupan orang percaya karena “sudah lama, usang.” Bertentangan dengan itu, Paulus malah menekankan bahwa Hukum Taurat itu kudus, perintah-perintahnya juga kudus, benar dan baik! (7:12). Jadi benarkah Taurat—sebagai Firman Allah—tidak ada guna dan relevansinya lagi bagi gereja Tuhan saat ini?

Kita tidak boleh lupa bahwa Paulus juga menulis di suratnya yang lain, bahwa “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Tim. 3:16, 17). Jelas bahwa “segala tulisan” yang dimaksud adalah seluruh bagian Kitab Suci yang kita miliki saat ini, termasuk Taurat itu sendiri (Bdg. Rm. 3:31).

Lalu bagaimana kita memahami peran Taurat dalam hidup rohani (spiritualitas) gereja Tuhan saat ini, sementara nas yang kita baca hari ini menjelaskan bahwa kita tidak lagi hidup di bawah Taurat, tetapi di bawah kasih karunia (grace)?

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam nas ini, yaitu Taurat, Dosa dan Hakikat Kemanusiaan yang sudah jatuh dalam dosa:

  1. Taurat sebagai hukum TUHAN, menuntut kita untuk hidup Kudus sama seperti TUHAN yang kudus. Standar ini, kembali pada keinginan TUHAN agar manusia mencermin gambar-Nya secara sempurna.
  2. Dosa, adalah hukum yang bekerja kuat dalam diri manusia, sejak kejatuhan manusia pertama. Dosa memperhamba semua manusia tanpa kecuali. Semua manusia yang lahir kemudian, dikandung dan dilahirkan dalam dosa, sekalipun ia belum melakukan ‘perbuatan dosa’ dari dirinya sendiri.
  3. Hakikat manusia yang sudah jatuh dalam dosa, tidak mungkin lepas dari perhambaan dosa melalui usahanya sendiri

Karena kenyataan tingginya tuntutan hidup rohani dari Allah dan kenyataan bahwa manusia yang telah jatuh dalam dosa tidak mungkin menggenapi tuntutan Allah itu, maka Paulus berkata: “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (7:24). Seruan Paulus ini mewakili seruan semua orang yang telah berada dibawah kuasa dosa. Tetapi kebuntuan itu bukan akhir pengharapan manusia. Ada jalan yang disediakan Allah agar manusia dibebaskan dari perhambaan dosa. Itulah sebabnya dalam segala kegagalan manusia mengikuti perintah-perintah Taurat, disediakan “kurban” yang menjadi “pengganti” bagi kematian sebagai penghukuman karena dosa, yang seharusnya dipikul manusia pelaku dosa itu (bdg. Ibrani 10:1-3). Sistem kurban dalam Taurat adalah bayangan dari pengurbanan Kristus yang melepaskan manusia dari tubuh maut mereka! Itulah inti pengucapan syukur Paulus.

Grace-alone (hanya kasih karunia) atau istilah latinnya yang kita kenal ‘sola-gratia’, yang memungkinkan kita lepas dari perhambaan dosa dan menghidupi hidup rohani (spiritual life) dalam Kristus Yesus. Dengan demikian spiritualitas Kristen tidak dibangun atas dasar usaha manusia, tetapi atas kasih-karunia Allah. Tuntutan Taurat tidak hilang, tetapi ‘diperhitungkan’ digenapi oleh kita yang ada dalam Kristus Yesus.

Mari bersyukur pada Allah yang telah mengaruniakan keselamatan kepada kita melalui Kristus Yesus Tuhan kita, yang memungkinkan kita menjalankan hidup rohani sebagaimana yang dikehendaki-Nya dan yang terus memelihara kita oleh kasih karunia-Nya sampai Ia datang kembali. Amin!

~ Pdt. Albert Adam ~