GEMBALA YANG BAIK

Yohanes 10:11-18

Dalam perikop ini Yesus menyatakan diri sebagai PINTU untuk masuk ke dalam kandang domba (ay. 9), sekaligus sebagai GEMBALA YANG BAIK (ay. 10). Pernyataan Yesus ini dikatakan dalam perumpamaan (ay. 1-6), tetapi para pendengar tidak mengerti maksudnya. Itu sebabnya Tuhan Yesus menjelaskan secara detail pada ayat 11-18.

Yesus sebagai Gembala yang baik ini seakan dikontraskan pada pasal sebelumnya (pasal 9), tentang orang Farisi yang mengklaim diri sebagai gembala-gembala namun mewajibkan orang banyak mengikut mereka dan menghasut mereka untuk menentang Yesus karena menganggap Yesus sebagai penyusup dan penyesat (Matthew Henry, Tafsiran Injil Yohanes, Momentum 1-11, hal. 686). Peristiwa perseteruan Yesus dengan orang Farisi ini terjadi setelah Yesus mencelikkan mata orang yang buta sejak lahir. Seharusnya orang Farisi bersyukur dan takjub melihat mukjizat yang Yesus lakukan. Tapi yang terjadi sebaliknya, orang Farisi menuduh Yesus tidak datang dari Allah dan pendosa (9:16, 24). Itulah nilai yang diberikan orang Farisi terhadap pribadi Yesus.

Ada dua perspektif yang dapat menjadi perenungan kita minggu ini, yaitu:

  1. Sebagai anggota jemaat yang dipercayakan Tuhan sebagai gembala, janganlah menjadi gembala seperti ahli Taurat dan orang Farisi, yang hanya mencari keuntungan pribadi seperti dikatakan pada ayat 8, “Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, …”. Namun hendaklah kita mengingat nasihat dari Petrus dalam 1 Petrus 5:2 untuk, “Gembalakanlah kawanan domba Allah … jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri.”  Seorang gembala yang baik juga perlu berhati-hati untuk tidak meninggalkan yang digembalakan, seperti dikatakan pada Yoh 10:12, “… seorang upahan yang bukan gembala, bukan pemilik domba, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba, … serigala menerkam dan menceraikan domba-domba itu.” Gembala yang baik bertanggung jawab akan domba-dombanya. Domba-dombanya akan selamat, masuk dan keluar pintu kandang menemukan padang rumput.
  2. Sebagai anggota jemaat yang diumpamakan Tuhan sebagai domba.
    Sebagai domba seharusnya kita mengenal suara gembala kita. Kita perlu ingat bahwa kita adalah satu kawanan domba milik Tuhan Yesus, Sang Gembala Agung. Jangan lagi mendengarkan suara gembala lain atau orang asing yang menyesatkan kita yang sebenarnya adalah pencuri, perampok yang membinasakan (ay. 8, 10).

Salah satu aplikasi kehidupan demikian terlihat dalam sebuah Care Group GKK. Para pemimpin dipanggil untuk menggembalakan anggota-anggotanya dengan bertanggung-jawab. Sebaliknya para anggota-anggotanya juga memiliki hati untuk mendengarkan mereka yang dengan tulus menuntun mereka kepada Gembala Agung.

Akhirnya, sebagai tubuh Kristus, marilah kita menjadi gembala yang bertanggung jawab jika kita dipercaya sebagai seorang gembala dan marilah kita menjadi domba yang selalu menurut akan suara gembala yang baik terhadap mereka yang menggembalakan kita.

~ Pdt. Em. Daniel Lie ~