BUKAN YESUS YANG KU KENAL

Referensi Kothbah 23 Feb 2020

Matius 17 : 1 – 9

‚ÄúTetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” adalah sebuah pertanyaan dari Yesus kepada Petrus (Mat 16:15) yang kemudian dijawab dengan begitu meyakinkan oleh Petrus dan mendapatkan pujian daripada Yesus karena Bapa di Sorga menyatakan hal tersebut kepadanya (16:17). Namun jawaban yang begitu mantap tersebut menyisakan pertanyaan apakah Petrus sungguh-sungguh memahami apa yang disebutkannya? Karena saat Yesus menyatakan akan penderitaan yang akan ditanggungnya (16:21), Petrus malah melarang Yesus dan Yesus harus menegur Petrus karena tidak memahami apa yang menjadi rencana Allah. Petrus hanya melihat sosok Mesias yang penuh kejayaan duniawi, dan dia tidak dapat benar-benar memahami arti Mesias yang sedang dijalankan Yesus yang harus menebus manusia.

Bukan saja Petrus, mungkin ada banyak orang saat ini keliru memahami sosok Yesus Kristus. Ada yang memahami-Nya sebatas seorang guru moral, atau sekedar seorang nabi, atau bahkan hanya tokoh fiktif. Belum lagi banyak yang mencibir dan mengejek mengenai sosok yang dianggap Tuhan namun harus tidak berdaya di atas salib. Tidak mengherankan pemahaman yang keliru membuat beberapa orang Kristen meninggalkan imannya dan menganggap sia-sia mempercayai Yesus.

Peristiwa Transfigurasi yang diceritakan dalam perikop ini, merupakan sebuah peristiwa yang penting bagi para murid khususnya Petrus dan Yohanes. Peristiwa transfigurasi ini sedang mempersiapkan Petrus dan Yohanes, beserta murid lainnya sebagai saksi mata kemuliaan Yesus menjelang kematian-Nya. Peristiwa transfigurasi adalah peristiwa yang sangat jelas bagi Petrus untuk menyaksikan bukti kemuliaan Yesus sebagai Tuhan. Selain penampakan Yesus yang berubah rupa dan legitimasi dari Bapa yang bersuara menyatakan perkenaan-Nya kepada Yesus, ada juga penampakan Musa dan Elia. Musa sebagai nabi yang menyampaikan hukum Taurat Allah kepada umat, sesungguhnya merepresentasikan Hukum. Elia sebagai nabi yang diangkat ke langit oleh Allah, merepresentasikan nubuatan nabi. Ketika Yesus berbincang dengan Musa dan Elia, sesungguhnya hendak menyatakan bahwa Yesus inilah yang menjadi pusat pemberitaan dari Hukum dan nubuatan nabi. Suara Bapa turut menegaskan akan keilahian Yesus. Lengkaplah kesaksian yang diterima murid-murid tersebut akan keilahian Yesus: Diri Yesus yang mulia, penegasan Hukum Taurat dan nubuatan nabi, serta suara Allah sendiri.
Sebagai umat Allah yang hidup di zaman ini, kita diingatkan kembali akan kemuliaan dan keilahian Yesus yang kita sembah. Dunia ini memiliki banyak pemikiran dan teori yang seringkali membuat kita meragukan Dia. Namun mari kita lihat peristiwa ini sebagai suatu peristiwa nyata yang dicatat dan memiliki saksi mata yang meneguhkan kemuliaan Yesus. Selain itu, karena Dia adalah Tuhan yang hidup, maka jalanilah hidup bersama dengan Dia. Ketika kita menghadapi kesulitan, ada perasaan frustasi dan seakan kehilangan harapan, janganlah lari kepada kuasa gelap dan hal-hal dunia lainnya, melainkan pandanglah kepada Dia yang memiliki kuasa kehidupan dalam menuntun kita. Percayalah kepada Yesus dan jadikan Dia sebagai pemimpin segala aspek hidup kita. Jika Dia adalah pemimpin hidup kita, maka tanggalkanlah segala hal yang menghambat kita untuk sungguh-sungguh mencintai dan melayani Allah. Amin.

~ Pdt. Richard Natasasmita ~