BERGUMUL BERSAMA TUHAN

Referensi Kotbah 19 Juli 2020

Kejadian 32:22-32

Keputusasaan.  Mungkin kata itu yang menyelimuti pikiran Yakub yang sedang berjalan pulang ke tanah kelahirannya.  Kata “pulang” bukan menjadi kata yang nyaman, melainkan mencekam bagi Yakub karena dia harus menemui Esau, abangnya.

Di suatu malam ketika Yakub sudah menyeberangkan keluarga dan segala miliknya, ia duduk sendirian di seberang sungai Yabok (32:24).  Kemungkinan besar Yakub sedang mempertimbangkan strategi untuk menemui Esau yang datang bersama 400 orang (32:6).  Ia menduga abangnya belum bisa mengampuni kesalahan yang ia buat belasan tahun silam ketika ia menipu dan merebut hak kesulungan Esau (25:29-34; 27:1-40).  Ia juga menduga bahwa kedatangan Esau dengan 400 orang adalah untuk membalaskan dendam dan membunuh keluarga, serta dirinya (32:7, 11).

Di tengah malam keputusasaan itu, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang bergulat dengan Yakub semalam-malaman (32:24).  Saat fajar menyingsing, orang itu sadar bahwa Yakub tidak akan menyerah, sehingga ia memukul sendi pangkal paha Yakub hingga terpelecok, dan berkata, “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.”  Yakub menjawab, “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku” (32:25-26).

Yakub sadar bahwa hidupnya sudah di ujung tanduk.  Ia yang selama ini mengandalkan akal dan kelihaiannya untuk membangun masa depan, kini mengakui bahwa ia berada di jalan buntu.  Yakub tidak mempunyai pegangan apapun selain kepada janji yang telah ia terima dari Allah yang mengatakan, “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau” (31:3).  Ia juga berharap pada berkat yang ia terima dari ayahnya, sehingga ia berkata, “Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan berbuat baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung” (32:12; bdk. 28:3-4).  Karena itulah, kini Yakub dengan berani memohon berkat Tuhan untuk kelanjutan masa depannya.

Menariknya, orang itu tidak langsung memberkati namun bertanya, “Siapakah namamu?”  Pada waktu itu, sebuah nama sangat penting maknanya.  Sebuah nama menggambarkan siapa diri orang tersebut.  Nama adalah identitas.  Dan Yakub dengan jujur mengatakan bahwa namanya adalah, “Yakub.”  Si penipu yang menipu abang dan ayahnya.  Si perebut hak kesulungan Esau dan ternak-ternak Laban.  Nama itu menggambarkan keseluruhan hidup Yakub yang menggunakan tipu muslihat untuk merajut kehidupan dan keluarganya.  Akhirnya, orang tersebut berkata, “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang” (32:28).  Matahari terbit dan orang itu menghilang.

Pergulatan Yakub dan laki-laki tersebut—yang Yakub sadari sebagai Allah (32:30)—menjadi peneguhan bagi Yakub bahwa Allah benar-benar akan menepati janji-Nya dan memilih dia sebagai bangsa yang besar.  Pergulatan itu juga meyakinkan Yakub bahwa Allah akan berperang (arti nama Israel) baginya untuk melanjutkan masa depannya.  Meskipun ia harus pincang seumur hidupnya (32:31), tetapi luka itu menjadi pengingat atas berkat besar yang telah ia terima.

Kehidupan yang kita jalani sekarang mungkin berat, menyakitkan, melelahkan, bahkan penuh keputusasaan sampai kita mau menyerah.  Tapi mungkin saja situasi yang sulit ini menjadi momen kita dapat berserah sama Tuhan.  Kita dipojokkan pada keadaan di mana tidak bisa lagi mengandalkan otak dan rencana kita sendiri, tapi kita membutuhkan Tuhan yang berperang bagi kita.  Teruslah bergumul bersama Tuhan.  Kita akan keluar sebagai pemenang yang terberkati, meski harus terluka.  Biarlah luka-luka yang kita jalani ini menjadi pengingat bahwa Tuhan berperang bersama dengan kita.

Tuhan Yesus menolong setiap kita!  Amin.

 

~Sdri. Paula Ch. Mulyatan ~