A HAPPY & HEALTHY “STAY AT HOME” FAMILY

Referensi Kotbah 13 September 2020

Efesus 5:22-33

Ada kisah memilukan dari sebuah keluarga yang katanya Kristen. Suatu waktu suami dan istri sedang ribut dan tidak dapat disembunyikan lagi dari anak-anak mereka yang mulai takut, cemas, dan frustrasi. Mungkin konflik terjadi karena perbedaan pendapat di antara mereka, namun anak-anak bisa jadi menangkapnya sebagai kebencian antara ayah dan ibunya. “Mama… Papa… berpelukan,” seru putus asa anak-anak sambil menangis. Kedua orang tua tertegun. Sang suami berkata, “Jadi istri tunduklah eeh ini malahan nanduk.” Sang istri tidak mau kalah lalu menjawab, “Jadi suami nggak punya perasaan. Boro-boro dapat kasih sayang, yang ada makian.”

Kitab Efesus menerangkan bagaimana seharusnya relasi seorang suami dan istri sebagai pasangan, yaitu belajarlah dari relasi Kristus dengan jemaat-Nya. Jadi berkenaan dengan hidup Tuhan Yesus sebagai kepala dan jemaat-Nya ialah tubuh Kristus.

Istri ditetapkan Tuhan sebagai penolong dan membantu suami dengan cara tunduk kepada suami sebagai wujud menunjukkan kewajibannya dengan penuh hormat (ay. 22-24, 33). Karena itu, istri perlu mengembangkan roh yang lembut dan tenang (1 Pet. 3:4) dan pengatur rumah tangga yang baik (1 Tim. 2:15; 5:14; Tit. 2:5). Ketaatan istri sama seperti kepada Tuhan (Gal. 3:28). Bukan isu gender atau adat istiadat, tetapi  inilah relasi Kristus dan jemaat-Nya (ay. 22-25; 28-29; 33).

Suami ditetapkan Tuhan menjadi kepala atau pemimpin yang bertanggung jawab untuk mengasihi istri dan keluarganya (ay. 25-33), bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani (ay. 23-24), seperti kasih, perlindungan, perhatian untuk sejahtera sebagaimana Kristus mengasih jemaat-Nya (ay. 25-33). Kata “kasih” diulang hingga 3 kali (ay. 25, 28, 33) yang menandakan penekanan keras, tidak seperti yang dunia lakukan, yaitu sekadar kasih sentimental seperti lagu-lagu kekinian. Jika tidak ada kasih dari Kristus sebagai sumber, maka jangan harap istri akan tunduk. Terakhir, suami juga diminta kesetiaan yang mutlak pada istrinya (ay. 31).

Kembali pada kisah keluarga Kristen di atas. Bahagialah karena anak-anak mereka dipakai Tuhan untuk mengingatkan dasar “A Happy & Healthy Family,” yaitu melihat ayah dan ibunya rukun. Kecekcokan diganti menjadi kecocokan karena pasutri menjalankan peran masing-masing sebagai bagian ketundukan pada Kristus, sekaligus menempatkan Kristus sebagai Sang Kepala rumah tangga yang memimpin keluarga stay@home.

Pnt.K. Adma H. Tantra ~