Dalam minggu advent yang ke 4 ini kita akan membahas kitab Roma 1: 1-7. Dalam nats ini terdapat dua (2) pokok pikiran yaitu: tentang diri Paulus dan Injil Yesus Kristus. Paulus memulai suratnya dengan memberikan keterangan mengenai dirinya sendiri: “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah” (1). Kata “hamba” dalam kalimat tersebut mempunyai dua latar belakang pemikiran yaitu
1. Hamba = Doulos = Budak.
Yesus telah mengasihi dan memberikan diriNya sendiri bagi Paulus dan oleh karena itu, dia yakin bahwa ia bukan lagi miliknya sendiri, tetapi seluruh hidupnya adalah milik Yesus Kristus. Ia tidak mempunyai hak apa-apa terhadap tuannya. Hamba menggambarkan ketulusan tanggung jawab dari kasih.
2. Kata “hamba” juga mempunyai arti lain. Di dalam PL kata “hamba” lazim digunakan untuk menggambarkan orang besar yang diangkat Allah - Musa adalah hamba Allah (Yos. 24:29). Merupakan gelar kebanggaan para nabi. Orang besar yang dimaksud di dalam PL adalah mereka yang mendengar dan menjawab panggilan Allah.
Sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa menjadi hamba Yesus Kristus adalah suatu panggilan anugerah dan sekaligus sebagai tanggung jawab dari kasih yang besar dan kehormatan dari pekerjaan yang mulia. Grace And Responsibility. Anugrah dan tanggung jawab. Yesus berkata kepada murid-muridNya : Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu (Yoh. 15 : 16).
Selanjutnya, Paulus membicarakan tentang INJIL Yesus Kristus, yang merupakan bukti utama kasih Allah untuk manusia berdosa. Dalam perikop kita hari ini, terdapat dua bukti penting tentang tema kita. Yesus Kristus adalah Anak Allah yang berkuasa:
- Inkarnasi (Yoh. 3:16).
Inkarnasi bukan sebuah upaya penyamaran, tetapi usaha dan cara yang Allah pilih untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Karena dosa manusia tidak bisa dibayar dan ditebus oleh usaha perbuatan dan kesalehan manusia. Seandainya bisa, lalu untuk apa Tuhan datang ke dunia. Apakah ingin menarik perhatian manusia, dan menjadi pahlawan? Namun karena kepentingan dan keterdesakkan penebusan dosa manusia, maka Allah pencipta langit dan bumi rela menjadi manusia. Allah masuk di dalam sejarah dunia.
Inkarnasi adalah satu titik kontak. Tuhan mengasihi manusia dan Tuhan menurunkan satu titik kontak. Titik kontak ini bersumber dari atas menuju kebawah dan mengakibatkan inkarnasi. Inkarnasi berarti Tuhan menjadi daging. Tuhan yang tidak kelihatan sekarang bisa dilihat, Allah menyatakan diri dalam tubuh dan hidup sebagai manusia. Inilah fokus dari Kristologi. Pertemuan dua dunia, antara yang kekal dan yang sementara. Inilah kristalisasi iman kristen yang benar. Bahkan salah seorang pemikir besar di dalam jemaat mula-mula berkata: “Yesus menjadi seperti kita, supaya kita menjadi seperti Dia”
- KebangkitanNya.
Bukti bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang berkuasa, bukan hanya menyembuhkan orang sakit, namun alampun tunduk kepadaNya, bahkan membangkitkan orang mati. Dalam Yohanes pasal 11, Yesus Kristus membangkitkan Lazarus dari kematian. Ia berkata: “Akulah Kebangkitan dan Hidup”. Apa arti kalimat tersebut? Kalimat itu berarti Ia bukan hanya mampu membangkitkan Lazarus tetapi Ia adalah Kebangkitan dan Hidup. Yesus bukanlah akibat tetapi sebab, Ia adalah sumber dari Kebangkitan Lazarus tersebut. Kebangkitan Lazarus adalah hasil dari Kristus sebagai Kebangkitan dan Hidup. Karena itu Ia bukan saja membangkitkan Lazarus tetapi Ia juga bangkit dari kematianNya. He is risen! KebangkitanNya membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa. Ia telah mati tetapi kemudian bangkit kembali. Yesus tetap hidup dan berkuasa dari dahulu, sekarang sampai selamanya. Puji Tuhan, Haleluya!
Implikasi dari kesaksian Alkitab ini adalah Yesus merupakan fokus dari kepercayaan Kristen. Ia adalah sumber kehidupan kita, sumber pertolongan dan sumber kekuatan dalam menjalankan hidup dan menghadapi pergumulan kita saat ini. Demikian pula kita diharapkan menjadi saksi Kristus di dalam dunia yang “gelap” ini. Karena untuk siapakah Injil itu? Ayat 5 menjawab untuk semua bangsa. Supaya mereka percaya dan taat kepada namaNya (5). Paulus rindu agar tongkat estafet pemberitaan Injil terus bergulir di dalam sejarah dunia ini (6). Sekarang tongkat estafet itu berada di tangan kita. Bagaimana sikap kita? Selamat menjadi saksi Kristus. Kuasa KebangkitanNya tetap menyertai kita sebagai saksi-saksiNya. Soli Deo Gloria!
Oleh :
Pdt. Setiawan Sutedjo


