YEHEZKIEL DIUTUS KEPADA UMAT YANG TIDAK SETIA

Referensi Kotbah 08 Juli 2018

Yehezkiel 2 : 1 – 10

Ketika panggilan Tuhan datang atas Yehezkiel dan pengutusan dirinya oleh Tuhan kepada umat Israel (Yehuda), ada beberapa kebenaran mendasar yang patut untuk direnungkan :
1. Pengutusan bukan inisiatif Yehezkiel tapi datang dari Tuhan ( ay 1-3 )
Allah berfirman dan mengutus Yehezkiel yang dipanggil dengan sebutan anak manusia. Panggilan dan pengutusan Yehezkiel itu, semata-mata atas dasar inisiatifNya.
Hal ini penting untuk dipahami Yehezkiel dan juga setiap orang yang dipanggil dan diutus untuk melayani Tuhan. Sebab hal ini untuk mencegah kita sebagai “anak manusia” yang lemah dan terbatas jatuh pada sikap merasa diri layak atau merasa diri mampu.
Faktanya seringkali kita menjadi sombong ketika meraih sukses seolah-olah itu karena kemampuan diri kita sendiri tetapi menyalahkan Tuhan ketika gagal!
Jika hari ini kita boleh dipilih dan diutus serta dimampukan untuk melayani-Nya, semua itu hanya karena anugrah-Nya bagi kita melalui Roh Kudus yang bekerja di dalam dan melalui diri kita.

2. Tetap memberitakan Tuhan dan firman-Nya dalam segala situasi ( ay 4-5,7 )
Yehezkiel diutus oleh Tuhan dengan tujuan:
a. agar firman Tuhan disampaikan kepada umat Israel, baik mereka mendengarkan ataupun tidak.
b. agar kaum Israel mengetahui ada seorang nabi di tengah-tengah mereka.

Kehendak Tuhan atas umat-Nya dapat disampaikan melalui pengutusan Yehezkiel sebagai nabi. Walau tidak ada jaminan akan mendapatkan respon yang baik, namun setidaknya hal itu boleh menunjukan bahwa Tuhan tetap peduli dan setia kepada umat-Nya meski mereka sendiri bersikap sebaliknya terhadap Tuhan.
Dalam pelayanan kita, mungkin saja respon yang diterima berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan. Namun hal itu jangan sampai dijadikan alasan bagi kita untuk merasa gagal dalam pelayanan atau bahkan jadi penghalang bagi kita untuk tetap setia menyaksikan Tuhan dan firman-Nya apapun situasi dan kondisi yang dihadapi

3. Dalam pengutusan itu tidak bersandar pada diri sendiri tetapi pada penyertaan Tuhan ( ay 6,8-10 )
Dari awal, Yehezkiel sudah diingatkan akan keterbatasan dan kelemahannya juga dengan kondisi dari umat Israel yang dilayaninya sebagai bangsa pemberontak, keras kepala dan tegar hati bahkan digambarkan seperti onak dan duri dan kalajengking.
Artinya ini bukan pelayanan yang mudah bagi Yehezkiel, tetapi juga bukan hal yang tidak mungkin untuk dijalaninya.

Semua itu dapat dan mungkin dilakukan jika Yehezkiel :
a. tidak menjadi takut terhadap respon umat yang dilayaninya
Melayani umat Israel sebagai bangsa pemberontak tentu ada banyak perasaan yang muncul dalam diri Yehezkiel, termasuk rasa takut. Karena itu, Tuhan menguatkan hamba-Nya agar tidak perlu takut dan jika ia sungguh meyakini bahwa ada penyertaan Tuhan bagi hamba-Nya maka semuanya pasti dapat dijalani dengan baik
b. menjadi pribadi yang mendengar dan taat serta menerima firman-Nya
Yehezkiel bukan hanya didorong untuk tidak menjadi takut, tetapi juga harus punya kesaksian hidup yang benar sebagai utusan Tuhan. Melayani bangsa pemberontak bukan berarti Yehezkiel juga boleh jadi pemberontak, ia harus menjadi teladan dalam hal mendengar (memperhatikan dengan sungguh) firman Tuhan, mentaati (melakukan) firman Tuhan dan menerima (menjadikan firman Tuhan, bagian yang tak terpisahkan dari hidup).
Karena ia merepresentasikan pribadi Tuhan yang mengutusnya. Jika ia tidak hidup benar, maka bukan hanya nama Tuhan tidak dipermuliakan tetapi juga pelayanannya tidak akan berdampak positif dan menjadi berkat.

Kondisi yang dihadapi dan dirasakan Yehezkiel bisa jadi juga akan kita hadapi dan rasakan dalam pelayanan. Namun meski sulit dan penuh tantangan, Tuhan tidak akan membiarkan kita menghadapinya sendirian. Kita harus menjaga kesaksian hidup agar tetap menjadi teladan yang memuliakan nama-Nya dan menjadi berkat bagi banyak orang.

~ Pdt. Widianto Yong ~