Tuhanlah Sukacitaku

Referensi Kotbah 27 Agustus 2017
Mazmur 16

Jika orang bertanya: “Bagaimana kita dapat tetap bersukacita, sebagaimana yang dikatakan Firman Tuhan?” (1Tes.5:16). Mungkin akan ada berbagai jawaban terhadap pertanyaan tersebut, sesuai dengan pemahaman dan pertumbuhan rohani seseorang. Seseorang dapat saja menjawab, bahwa ia akan berusaha untuk bersukacita bagaimanapun situasi hidupnya: ketika semua tidak berjalan lancar, ketika segala sesuatu tidak bersahabat dengannya, ia akan berusaha untuk bersukacita. Seorang yang lain akan menjawab, bahwa sejujurnya tidak mungkin untuk selalu bersukacita. Hidup manusia itu beraneka ragam masalahnya, dan Tuhan juga tidak akan menghambat (sedemikian) kita tidak bisa lagi mengalami berbagai emosi manusia lainnya, seperti senang, sedih, kesal, galau, kuatir, takut, dan lain sebagainya. Jadi, tidak mungkin kita bisa ‘selalu’ bersukacita. Benarkah kedua sikap diatas itu?
Daud, mengalami berbagai gejolak emosi manusia, sebagaimana manusia normal lainnya. Dari banyak tokoh Alkitab, mungkin Daud adalah seorang yang paling banyak menulis kekayaan emosi dalam kitab Mazmur. Ia merasakan ketakutan, kekuatiran, kemarahan, kesedihan, kesenangan, kebahagiaan, dan berbagai emosi lainnya. Dalam Mazmur hari ini, ia menyebutkan sukacitanya karena TUHAN, yang menghalau ketakutannya terhadap maut.

Bagaimanakah TUHAN menjadi sukacita dalam hati Daud, sorak-sorai dalam jiwa Daud, dan ketentraman tubuh Daud? (ay. 9). Mari kita lihat beberapa hal yang disebutkan dalam nas kita hari ini:
1. TUHAN adalah Penjaga yang melindungi Daud (ay. 1)
2. TUHAN sebagai Tuan dalam kehidupan Daud (ay. 2)
3. TUHAN adalah satu-satunya yang baik bagi Daud (ay. 2)
4. TUHAN adalah warisan dan piala bagi Daud, sumber kehidupan yang menyenangkannya (ay. 5, 6)
5. TUHAN adalah Penasihatnya (ay. 7)
6. TUHAN yang berdiri di dekatnya adalah fokus yang senantiasa dipandang oleh Daud (ay. 8)
7. Daud mengalami kebaikan TUHAN (ay. 10, 11): TUHAN tidak menyerahkannya ke dunia orang mati, TUHAN Memberitahu jalan kehidupan, Daud mengalami sukacita berlimpah dihadapan TUHAN, Daud mendapatkan nikmat dari TUHAN senantiasa.
Tetapi, mungkin orang berkata: “Bukankah kasus Daud malah menegaskan bahwa, tidak mungkin sekaligus mengalami sukacita dalam bersamaan dengan kondisi negatif lainnya?” Jawabnya: “Sebaliknya yang terjadi!” Dalam Alkitab, sukacita bukan sekedar emosi. Ia muncul dari dalam diri orang percaya sebagai ‘buah pekerjaan Tuhan’. Perjanjian Baru lebih jelas lagi menegaskannya, bahwa sukacita adalah ‘Buah Roh’ (Gal. 5:22-23). Karenanya, sukacita dapat hadir dalam diri orang percaya, tidak peduli situasi dan kondisi yang sedang dialami saat itu – jika saat itu ia berserah kepada Tuhan.
Sukacita (oleh Roh-Nya) dalam kita semakin besar seiring dengan besarnya pengenalan kita akan DiriNya, rencana-Nya, pekerjaan-Nya, kuasa-Nya, hikmat-Nya, dan segala sesuatu yang dapat kita kenal dari-Nya, serta ketaatan kita kepada-Nya. Sukacita seperti itu tidak akan pernah digoyahkan oleh apapun dan oleh siapapun (bd. Fil. 1:18, 2:17, 4:4; 1Pet. 4:13).
Sudahkah Tuhan menjadi sukacita kita? TUHAN yang telah menyatakan diri dalam Kristus Yesus, adalah sukacita yang sesungguhnya! Mari kita lebih mengenalNya, dekat denganNya senantiasa. Amin!

~ Pdt. Albert Adam ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *