Tugas dan Tanggung Jawab Gereja Terhadap Kemiskinan

 

Referensi Kotbah 06 Agustus 2017
Matius 25 : 31 – 45; Yohanes 12 : 8

Tuhan Yesus berkata, “… orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu” (Yohanes 12:8), maka kita perlu merenungkan bersama apa tugas dan tanggung jawab kita, sebagai gereja, terhadap kemiskinan. Harian Kompas 26 Juli 2017 menurunkan berita, “Hak Dasar 11 juta Anak Terampas”. Jika ada 11 juta anak yang miskin, berapa lagi jika dihitung termasuk orang dewasa? Lantas, bagaimana respon kita?
Hukum Tuhan yang terutama adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama manusia. “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (1 Yohanes 4:20-21). Kasih kepada sesama dinyatakan dalam tindakan nyata menyalurkan berkat yang telah kita terima dari Tuhan sebagai sumber berkat, seperti: memberi makanan dan minuman kepada mereka yang haus dan lapar, tumpangan bagi orang asing, pakaian kepada mereka yang tidak mempunyai pakaian, melawat yang sakit, mengunjungi orang yang ada di dalam penjara, dsb.

Matius 25:31-45 menulis tentang penghakiman terakhir: manusia akan dibagi dua kelompok, kelompok domba-domba dan kelompok kambing-kambing, lalu kelompok domba-domba yang diberkati Tuhan akan menerima Kerajaan yang telah disediakan sejak dunia dijadikan. Mengapa? Firman Tuhan berkata:
1. Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan;
2. Ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum;
3. Ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
4. Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian;
5. Ketika Aku sakit, kamu melawat Aku;
6. Ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku;
Firman Tuhan kepada mereka yang melakukan pelayanan kasih: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Sedangkan Firman Tuhan kepada mereka yang tidak melakukan pelayanan kasih: “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah tersedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.”
Jika demikian apakah itu berarti kita diselamatkan oleh perbuatan? Sekali-kali tidak, justru firman Tuhan menyatakan kepada kita bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati,” Yakobus 2:26.) Sebagai orang beriman, marilah kita menyatakan kasih kepada Tuhan dan sesama dengan melakukan perbuatan-perbuatan dalam bentuk pelayanan kasih.
Kita bersyukur gereja mempunyai bidang pelayanan kasih: pelayanan pendidikan umum dan teologia, pelayanan kesehatan, pelayanan diakonia, pelayanan bimbingan belajar, pelayanan misi ke pedalaman, dsb. Marilah kita semua ikut ambil bagian dalam pelayanan kasih gereja, sehingga dapat berdampak mengurangi kemiskinan di negeri tercinta ini.
Tuhan memberkati!

~ Pdt. Martin Elvis ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *