Tanggung Jawab Gereja Terhadap Kejahatan Manusia

Referensi Kotbah 13 Agustus 2017
Kejadian 6 : 1 – 8

Dosa adalah pelanggaran yang manusia lakukan terhadap perintah Allah dan jelas sekali Alkitab mengatakan bahwa upah dosa adalah maut, artinya dosa yang dilakukan akan selalu membawa suatu konsekuensi bagi hidup manusia. Hal itu bisa kita lihat kembali dalam kisah penciptaan bagaimana konsekuensi dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa menyebabkan mereka hidup terpisah dari Allah (Kejadian 3).

Kejadian 6:1-8 kembali menceritakan kejahatan manusia yang berdosa itu. Ketika manusia itu bertambah banyak, maka kejahatan yang dilakukan pun semakin banyak, kehidupan manusia semakin jauh dari Allah, sehingga Allah bermaksud memusnahkan manusia. Dalam bagian ini dikatakan dosa atau kejahatan yang dilakukan adalah terjadinya perkawinan campur antara anak-anak Allah dan anak-anak manusia. Anak-anak Allah yang dimaksudkan adalah mereka yang sudah mengenal Allah YHWH, sedangkan anak manusia adalah mereka yang tidak percaya dan yang tidak kudus pada waktu itu. Oleh karena keberdosaan manusia itu maka Roh Tuhan tidak akan tinggal dalam manusia. Karena tercemarnya anak-anak Allah, maka Allah murka kepada manusia.

Pada ayat 5 dikatakan bahwa “kejahatan manusia besar”. Ayat ini mengajarkan bahwa anak-anak Allah kudus menjadi bobrok karena saling mengawini dengan keturunan anak-anak perempuan manusia yang tidak mengenal Allah; kejahatan manusia itu “besar di bumi” dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.

Oleh karena itu maka pada ayat 6 dikatakan “menyesallah Tuhan”: hal ini mau menggambarkan kepiluan hati Allah yang sangat dalam karena kebobrokan manusia yang telah diciptakan.
Allah berfirman bahwa Dia akan memusnahkan manusia dari bumi ini, namun tidak semuanya manusia itu dimusnahkan. Pada ayat 8, Allah menyelamatkan seorang yang berkenaan kepada-Nya yaitu Nuh, seorang yang tulus hati dan jujur dan taat kepada Allah dalam generasinya. Hal itu merupakan penyataan kasih karunia Allah kepada manusia.
Dari nas ini kita belajar bahwa Allah begitu murka akan setiap dosa yang kita lakukan, namun selalu ada kasih karunia bagi kita yang hidup benar dan mau mengakui akan segala dosa-dosa kita di hadapan Allah. Hidup benar di dalam dunia yang cemar tentu tidaklah mudah bagi kita sebagai gereja, namun kita harus tetap percaya dan yakin bahwa gereja dipanggil untuk menjadi alat kemuliaan Tuhan memimpin dan membimbing setiap orang untuk hidup kudus di hadapan Allah dan menjauhi segala kejahatan yang membawa kepada kebinasaan. Untuk itu kita sebagai gereja memiliki tanggung jawab untuk terus menyuarakan kebenaran kepada setiap orang sehingga kejahatan-kejahatan yang ada tidak semakin berkembang akan tetapi setiap orang boleh menyadari akan dosa dan tidak hidup di dalamnya.

~Ibu Susi Sihaloho~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *