SYAFAAT DI HADAPAN HAKIM SELURUH BUMI

Referensi Kotbah 28 Juli 2019

Kejadian 18 : 16 – 33

Dalam sebuah persahabatan, seseorang biasanya menceritakan kepada sahabatnya akan hal-hal yang akan dilakukannya. Sahabat yang karib akan terbuka kepada orang yang dianggapnya dekat. Tetapi Allah dengan Abraham? Kita mungkin agak heran dengan perikop yang kita baca, akan sebuah kisah dimana Allah tampak menimbang-nimbang untuk membicarakan kepada seorang manusia atas sebuah rencana-Nya. Bukankah DIa bebas bercerita dan bebas pula menyembunyikan. Belum lagi terjadi tawar-menawar dari seorang Abraham seakan rencana Allah itu masih dapat berubah-ubah.
Semua hal yang kita baca dari perikop ini perlu dimengerti dalam sebuah pemahaman akan kedekatan hubungan antara Allah dan Abraham. Abraham juga disebut sebagai sahabat Allah (2Taw 20:7). Abraham adalah orang pilihan Tuhan, yang akan menerima janji Tuhan dan keturunannya menjadi umat Tuhan untuk melakukan kebenaran dan keadilan (ay.19). Karena itu apa yang terjadi dalam perikop ini merupakan sebuah

gambaran bagaimana hati Abraham yang mengerti mengenai sifat Allah yang benar dan adil (ay.25). Abraham memahami bahwa Allah di dalam penghukuman-Nya adalah benar dan adil yang akan menghakimi dan menghukum dalam keadilan. Karena itu, tawar-menawar Abraham kepada Allah bukan menunjukkan sebuah sikap kurang ajar kepada Allah, melainkan sebuah bukti bahwa Allah tetap bertindak dalam kebenaran dan keadilan-Nya, dan tetap mengingat akan keberadaan orang yang benar.
Tentu saja Abraham tidak sedang berusaha mengubah atau menentang rencana Tuhan (karena Tuhan tidak pernah berubah), melainkan dalam negosiasinya (atau dapat kita mengerti sebagai sebuah doanya kepada Tuhan) Abraham berusaha memahami kebenaran dan keadilan Allah. Dalam hal ini kita belajar bahwa doa bukanlah berusaha mengubah rencana Tuhan, namun doa adalah sebuah tindakan berusaha memahami kehendak dan pribadi Allah. Semakin kita berdoa dengan pemahaman seperti ini, maka kita akan semakin bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan.
Di dalam doanya itu, kegigihan Abraham bukanlah menunjukkan sebuah pemaksaan kehendak, malahan Abraham sedang memperlihatkan sebuah hati yang penuh belas kasihan. Abraham juga tidak sekedar egois hanya memikirkan nasib Lot, keponakannya, namun Abraham memiliki kepeduliaan terhadap orang-orang benar, jika ada, di Sodom. Doa yang kita naikkan kepada Tuhan, seharusnya bukan semakin membuat kita menjadi egois dengan memikirkan kepentingan kita belaka, namun doa-doa yang kita naikkan kepada Tuhan harusnya melatih hati kita untuk lebih berbelas kasihan dan melihat keadilan terhadap segala hal yang ada di sekeliling kita.

~ Pnt.K. Richard Natasasmita ~