Siap Sedia Menyambut Kedatangan Yesus Yang Kedua

Referensi kotbah 24 Desember 2017

Matius 24 : 37 – 44

Mengapa ada gereja-gereja Protestan (dan pada umumnya gereja Katolik) yang tidak merayakan Natal sebelum tanggal 24 Desember malam atau malam Natal? Ini karena mereka ketat mengikuti kalender gerejawi, yaitu minggu Adven. Minggu Adven adalah minggu penantian kedatangan Kristus. Baik mengenang kedatangan pertama, maupun menanti kedatangan kedua. Dalam penghayatan kalender liturgi yang tepat Minggu Adven adalah masa mempersiapkan diri merayakan kedatangan Kristus yang pertama. Kalau belum datang dan belum lahir tentu belum waktunya dirayakan. Sama seperti jika kita mengucapkan selamat ulang tahun beberapa hari sebelum tanggalnya, tentu akan terasa janggal.
Kebaktian dan perayaan Natal sebelum tanggal 24 lebih karena pertimbangan praktis daripada teologis (khususnya pemahaman kalender gerejawi): takut jemaat terlanjur berlibur dan acara Natal sedikit yang datang. Bagi saya pribadi, merayakan Natal sebelum tanggal 24 Desember bukanlah dosa, tetapi kita patut belajar menghayati yang seharusnya. Kalaupun ada perayaan dan ibadah Natal sebelum 24 Desember ada baiknya dihayati tetap sebagai masa Adven, masa penantian!
Sinode Gereja Kristus menetapkan tema hari ini tentang menyambut kedatangan Kristus yang kedua. Ini adalah suatu yang wajar karena penghayatan masa Adven di atas. Memang pemahamannya menjadi ganda: antisipasi merayakan kedatangan pertama melalui kelahiran-Nya dan pengharapan akan kedatangan-Nya yang kedua sebagai raja.

Dalam nas kita hari ini pesan utamanya adalah di ayat 42 dan 44: “berjaga-jagalah” dan “siap sedialah” menanti kedatangan Anak Manusia, yaitu Yesus Kristus. Untuk menguatkan pesan ini kitab Matius mengawali dengan mengingatkan para pembaca tentang peristiwa Nuh (ay. 37-39). Nuh sudah memberitakan tentang air bah tetapi orang-orang tidak percaya (2Pet 2:5). Mereka menjalani kehidupan seperti biasa. Mereka “makan dan minum”dan “kawin mengawinkan”. Ketika air bah datang mereka dilenyapkan. Gambaran kedua adalah di ay. 43, jika tuan rumah tahu kapan pencuri akan datang maka ia akan berjaga-jaga. Masalahnya adalah tidak ada seorang pun yang tahu kapan pencuri akan datang! Karena itu sikap yang baik adalah berjaga-jaga.
Sejalan dengan tulisan tentang Nuh sebelumnya, ayat 40-41 memperlihatkan pemisahan. Ada yang tinggal dan ada yang dibawa. Berdasarkan Luk 17:34-37), yang dibawa adalah mereka yang akan ke tempat di mana ada mayat yang dikerumuni burung nasar. Artinya yang dibawa adalah mereka yang dihakimi dan dihukum oleh Allah.
Bagi kita orang percaya, kedatangan Kristus kedua merupakan saat berbahagia karena Kristus yang akan menjadi raja sepenuhnya dalam kerajaan-Nya dan kita akan menjadi anggota kerajaan-Nya; karena itu kita merindukan dan mengharapkannya. Juga, sebelum kedatangan Kristus kedua menjadi nyata, marilah kita siap sedia dengan menjalani kehidupan kita sebaik-baiknya sebagai anggota Kerajaan Allah, yaitu dengan menyatakan kehendak-Nya di bumi, seperti di surga. Maranatha!

~ Pdt. Djeffry Hidajat ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *