SIAP MENGHADAPI PENGARUH TEKNOLOGI DALAM KELUARGA

Referensi Kotbah 16 September 2018

Firman Tuhan yang tertulis dalam 2 Timotius 3:1-9 telah nyata terjadi pada zaman ini dalam konteks pengaruh teknologi, yaitu: mencintai diri sendiri, berpusat pada diri, asyik dengan gadget, hubungan sosial dipindahkan ke aplikasi media sosial, banyak berita hoax yang disebarkan, banyak orang menjadi narsis, sombong, pamer, fitnah lewat media sosial, berontak kepada orang tua karena merasa dibatasi, terlalu bergantung kepada gadget, tidak dapat mengekang diri/menguasai diri sehingga kecanduan media sosial, games, pornografi dan lain sebagainya. Menuruti dan memuaskan hawa nafsu sesuai keinginannya, walaupun beribadah tetapi memungkiri kekuatannya.

Ada banyak perkembangan teknologi dan produknya yang memberikan manfaat kepada manusia, tetapi di lain pihak menimbulkan dampak buruk bagi manusia. Perkembangan teknologi tidak dapat dibendung, kita perlu mengantisipasi dan juga siap menghadapi dan mengatasi pengaruh buruknya. Dari dunia pendidikan, Menteri Ristek, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) mengatakan: “Pada era revolusi industri 4.0, masa depan bangsa Indonesia bertumpu kepada anak muda penerus bangsa.

Kreativitas dan inovasi dari anak muda akan melahirkan berbagai sumber ekonomi baru yang akan menjadi motor penggerak ekonomi bangsa di era Revolusi Industri 4.0.” (Istilah “Industrie 4.0″ berasal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik).
Jika anak muda penerus bangsa dapat menguasai teknologi dan memanfaatkannya dengan tepat, maka akan menjadi motor penggerak ekonomi bangsa, tetapi jika anak muda lebih dikuasai oleh teknologi dan diperalat teknologi, maka akan menimbulkan banyak masalah. Di Tiongkok, menyebut pengaruh teknologi yang membuat anak muda kecanduan dan bermasalah di sebut dengan istilah “Heroin Electronics”.

Bagaimana kita dapat siap menghadapi pengaruh teknologi dalam keluarga?
Menurut Matthew Eppinette: “Amatlah penting bagi kita untuk mengenal bukan hanya terhadap ancaman dari kehadiran teknologi, tetapi juga kesempatan untuk taat kepada mandat budaya yang Tuhan berikan. Seorang teolog menegaskan, masalah tidak terletak pada teknologi itu sendiri, melainkan pada kerangka moral yang berkurang, yang olehnya dapat berkata kepada kita bagaimana dengan benar menolak atau menerimanya.” Dalam menghadapi anak-anak muda yang sering tidak taat dan tidak disiplin, Christie Les mengatakan, anak-anak muda memerlukan bentuk
disiplin yang korektif (mengatasi) dan preventif (mencegah). Biasanya disiplin hanya dilihat sebagai tindakan korektif. Lebih lanjut dikatakan, tujuan dari disiplin adalah menolong anak-anak bertumbuh dalam kedewasaan Kristen dan memberikan dorongan untuk mendisiplin diri sendiri. Tetapi fondasi yang menjadi prinsip dalam pendekatan yang efektif untuk mendisiplin adalah “unconditional love” yaitu kasih Allah Bapa, untuk anak-anak yang kita perhatikan. Hal tersebut dapat mengajarkan kepada anak-anak mengenal kebenaran dan memiliki iman yang tahan uji terhadap tantangan zaman.
~ Pdt. Martin Elvis ~