Pilih Mana : Hikmat Atau Kebodohan

Referensi Kotbah 19 Agustus 2018
Amsal 9 : 1 – 18

Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa, banyak orang semakin pandai, tetapi kepandaian mereka tidak menjamin bahwa mereka hidup benar, punya karakter yang baik, dan punya integritas dalam hidupnya. Terbukti bahwa orang-orang yang ditangkap oleh KPK adalah orang-orang pandai: mereka adalah kepala-kepala daerah dan pejabat-pejabat negara. Juga banyak orang yang pandai tetapi kehidupan moralnya tidak baik. Banyak orang pandai yang justru menyalahgunakan kepandaiannya untuk perbuatan jahat. Oleh sebab itu tidak cukup manusia itu pandai saja, setiap manusia mutlak membutuhkan hikmat dari Tuhan.
Ayat 1-3 menunjukkan bahwa orang yang berhikmat adalah orang yang memikirkan dan menyiapkan segala sesuatunya dengan baik bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri tetapi juga untuk kepentingan orang lain.
Ayat 10 mengatakan, “Permulaan hikmat adalah takut akanTuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang mempunyai pengertian bahwa Tuhan adalah Tuhan Yang Mahakudus, oleh sebab itu dia akan hidup menghormati dan menghargai Tuhan. Dengan demikian, apa yang dilakukannya selalu adalah hal-hal yang berkenan di hadapan Tuhan, karena ada hikmat yang dari Tuhan. Inilah yang membedakan hikmat dari Tuhan dengan hikmat dunia

Hikmat dunia sifatnya hanya horizontal, hanya untuk mendatangkan kebaikan secara horizontal dengan sesama manusia, tetapi hikmat orang Kristen adalah hikmat yang dari Tuhan – di samping mendatangkan kebaikan bagi sesama manusiam, juga setiap apa yang kita lakukan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, karena Tuhan akan mengadili kita umat manusia atas apa yang kita perbuat (Pengkhotbah 12:13-14).
Ayat 6, 13-14 mengingatkan kepada kita supaya jangan hidup seperti orang bodoh atau orang bebal – mereka juga menawarkan hal-hal yang menarik, namun apa yang dilakukannya akan membawa mereka pada kematian (ay. 18), artinya akan merugikan mereka sendiri. Kita perlu hikmat yang dari Tuhan untuk memilih berbagai macam tawaran dalam hidup.
Sebagai orang-orang percaya sudah seharusnya memilih untuk hidup berhikmat karena :
• Hikmat berguna untuk menuntun hidup kita di jalan yang benar.
Amsal 4:11, “Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus.”
• Dengan hikmat kita bisa menjalani hidup dengan moral yang baik.
• Dengan hikmat kita dapat membangun kehidupan ke depan dengan baik, bukan Cuma untuk kepentingan diri kita sendiri tetapi juga bisa menjadi berkat bagi orang lain.
Dengan hidup berhikmat kita akan diberkati Tuhan.

~ Pdt. Puspa Noviana ~