Pergilah Beritakan Firman

Referensi Kotbah 15 Juli 2018

Amos 7:7-17
Amos mendapat penglihatan yang ketiga berupa tali sipat, satu perkakas tukang bangunan untuk memastikan bangunan yang sedang dikerjakan dalam keadaan tegak. Tali sipat adalah tali dengan berbandul (biasanya berbahan tembaga atau timah) yang menjadi tolok ukur lurus-miringnya suatu bangunan: bila bandul semakin dekat dengan tembok maka semakin tegak, tetapi bila semakin menjauh berarti semakin miring.
TUHAN berdiri dekat sebuah tembok dengan tali sipat di tangan-Nya, memeriksa keadaan rohani bangsa Israel yang tidak pernah bertobat (ingat penglihatan pertama berupa kawanan belalang yang menghabisi tumbuh-tumbuhan, menyusul penglihatan kedua berupa api yang menghabisi yang tersisa). Amos sejak penglihatan pertama sudah berdoa syafaat mohon pengampunan bagi bangsa Israel; setelah penglihatan kedua, ia berdoa lagi memohon belas kasihan TUHAN.
Marilah kita memeriksa diri: jika posisi saya adalah umat yang ‘miring’ atau menjauh dari TUHAN, maka dengan datangnya Firman Tuhan marilah mendekat kepada TUHAN dan memohon belas kasihan. Jika posisi saya sebagai Amos, maka perlu ketaatan untuk mengingatkan orang lain; sekalipun mungkin tidak akan dapat respon yang positif tetapi haruslah taat kepada TUHAN yang mengutus.
Ay 11: Berita Firman Tuhan tidaklah mengenakkan dan negatif, mengingatkan adanya peribahasa: “Manis jangan lekas ditelan, pahit jangan lekas dimuntahkan”, artinya kata-kata manis / sanjungan dan pujian jangan cepat dipercayai, sebaliknya kata-kata keras / kritik jangan cepat ditolak.

Rupanya Amazia tidaklah peka namun pekak (tidak bagus pendengarannya) menghadapi Amos.
TUHAN seringkali memakai orang yang lemah dan bodoh dipandang dunia menghadapi orang yang pintar dan berkuasa (1Kor 1:27). Di sini kita melihat Amazia mengusir Amos karena dianggap melawan raja dan bangsa Israel dan mencari makan di Israel … dijawab oleh Amos bahwasanya dia hanya menuruti perintah TUHAN untuk pergi dan mendatangi Israel dan yang kedua dia bukanlah nabi yang profesional tetapi hanya peternak dan pemungut buah ara dan tidak mendapat dukungan keuangan dari kerajaan seperti Imam Amazia yang seharusnya mewakili ALLAH bukan perutnya sendiri (yang tidak sadar akan dosa2nya dan dosa yang di perbuat Israel dengan meniadakan keadilan dan kebenaran ALLAH…ingat tali sipat yang miring menjauhi tembok).
Jika ada teguran dari lembut hingga mengeras terimalah sebagai bagian kesempatan untuk bertobat dan berbalik dari kemiringan hidup dan berhati2lah jika ternyata bersifat final artinya tidak ada lagi belas kasihan dari TUHAN. Marilah kembali jika sudah miring…belajar seperti Amos yang lebih taat pada TUHAN melebihi raja dan imam Amazia…maukah kita pergi memberitakan Injil?

~ Pnt.K. Adma H. Tantra ~