PERGI MENCARI YANG TERHILANG

Referensi Kotbah 12 Mei 2019

Kisah Para Rasul 9 : 32 – 43

Jika kita mengamati perjalanan pelayanan Petrus sesudah peristiwa Pentakosta, maka ada banyak hal yang dapat dipelajari tentang dirinya dan juga pelayanannya. Salah satunya adalah seperti yang terdapat dalam Kisah Para Rasul 9:32-43, yang memberikan kita kebenaran penting tentang pelayanan Petrus yang menjadi berkat, yaitu:
Pertama, Ia yang pergi mengunjungi dan bukan menunggu dikunjungi. Dalam pelayanannya, Petrus bisa saja merasa nyaman dengan situasi damai saat itu dan jemaat yang hidup dalam takut akan Tuhan seperti yang terjadi di Yudea, Galatia dan Samaria (bnd Kis 9:31a), tetapi nyatanya, Petrus justru mengambil sikap untuk pergi berkeliling dan berkunjung ke mana-mana. Untuk apa hal itu dilakukan? Tentu saja, untuk menjadi saksi bagi Kristus (bnd Kisah 1:8) dan melakukan pelawatan untuk mengajar serta menguatkan jemaat-jemaat, termasuk yang di Lida dan Yope. Jadi Petrus keluar dari zona nyamannya dan pergi berkeliling agar ia boleh menghadirkan pelayanan yang menjadi berkat bagi banyak orang.

Hari ini, ketika kita ditanya apakah masih relevan untuk memberitakan Injil? Apakah pelawatan masih dibutuhkan? Maka biasanya dengan cepat kita semua menjawab : “tentu saja, masih relevan dan dibutuhkan!” Tetapi jika di tanya apakah kita semua sudah ikut ambil bagian di dalamnya.? Dari fakta jumlah kehadiran jemaat yang menurun dan regenerasi pelawat yang tidak berjalan baik, maka suka atau tidak suka kita harus jujur mengakui belum semua di antara kita yang sungguh-sungguh mau dan sudah terlibat di dalamnya.

Jika demikian, apakah kita masih betah berpangku tangan atau mulai ikut ambil bagian dalam pelayanan yang menjadi berkat?

Kedua, Ia meninggikan Yesus dalam pelayanannya dan bukan dirinya sendiri. Dalam melaksanakan pelayanannya, ternyata Petrus tidak hanya bersaksi, mengajar dan menguatkan melalui kata-kata tetapi juga disertai tindakan melakukan mukjizat terhadap Eneas dan Dorkas. Dan ay 35,42 menunjukkan bahwa sesudah peristiwa mukjizat itu banyak orang berbalik dan percaya kepada Kristus. Pertanyaan ialah benarkah mereka berbalik karena mukjizat? Atau apakah mukjizat jadi keharusan bagi suatu pelayanan penginjilan jika ingin menuai banyak jiwa?

Jawabannya tentu saja tidak. Mengapa? Karena :
a) Orang-orang di Lida, Saron dan Yope dapat berbalik dari dosanya dan percaya kepada Kristus itu bukan karena mukjizat, tetapi karena kuasa Roh kudus yang menyertai pelayanan Petrus dan yang bekerja dalam hati setiap mereka yang mendengarkan pengajarannya (bnd Kisah 9:31c; Roma 10:17; 1 Kor 12:3)
b) Tidak semua orang percaya memiliki karunia melakukan mukjizat (1 Kor 12:10a), tetapi setiap orang percaya dipanggil untuk beritakan Injil (Mat 28:19-20)
c) Petrus memiliki karunia dan kuasa untuk melakukan mukjizat (Kis 1:8) tapi hal itu dilakukannya demi nama Yesus Kristus, artinya ia ingin menunjukkan kepada orang banyak bahwa Yesuslah yang jadi fokus untuk ditinggikan dalam pelayanannya, bukan dirinya bukan pula mukjizatnya. Dengan begitu, Petrus sungguh-sungguh hanya ingin meninggikan Kristus, karena ia percaya bahwa ketika Kristus ditinggikan Ia akan menarik banyak orang datang kepadaNya (bnd Yoh 12:32), dan itu dibuktikan dalam peristiwa banyaknya orang yang ada di Lida dan Saron serta Yope yang berbalik dan percaya, tetapi bukan kepada Petrus dan mukjizat yang diperbuatnya melainkan kepada Yesus Kristus (ay 35,42).

Dalam pelayanan pemberitaan Injil, siapakah yang menjadi fokus utamanya? Diri kitakah? Atau Karunia yang kita miliki? Atau sungguh hanya nama Yesus Kristus yang kita tinggikan! Biarlah hanya nama Yesus yang kita tinggikan dalam seluruh hidup dan pelayanan kita, sehingga banyak jiwa yang ditarik datang kepadaNya.

~ Pdt. Widianto Yong ~