Pertobatan Yang Sejati

Matius 3 : 1 – 12 

Setelah selama empat ratus tahun bangsa Israel tidak lagi mendengar suara nabi yang menyampaikan firman-Nya, lalu sesuai dengan nubuat nabi Yesaya, tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea (Padang gurun ini luas, di dalamnya ada enam kota dengan desa-desanya). Di tempat inilah Yohanes Pembaptis berkhotbah: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”. Penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan meresponi firman Tuhan dengan mengaku dosa dan memberi diri dibaptis.Tetapi ketika ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.”(Mat. 3:7). Di bagian yang lain, teguran yang keras juga disampaikan oleh Tuhan Yesus dengan kalimat yang sama: “Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.” (Matius 12:34)

Orang Farisi adalah golongan tradisional yang terdiri dari para rabi dan ahli Taurat yang sangat berpengaruh. Orang Saduki adalah golongan yang lebih liberal terdiri dari pemimpin agama Yahudi, yang sebagian besar terdiri dari imam-imam.  Ular  sering dilambangkan sebagai iblis: pembohong dan pembunuh, mempunyai sifat licik, munafik, suka menjilat, mementingkan diri sendiri, dan membuat konflik.  Meskipun penampilan yang memikat,  namun mereka memilik bisa yang   mematikan,

dan penuh dengan kedengkian serta kebencian terhadap segala sesuatu yang baik. Jika suatu pertobatan hanya untuk penampilan, dari luar kelihatan suci dan taat, tetapi di dalam hati tetap jahat, maka pertobatan itu bukanlah pertobatan yang sejati.

Apakah pertobatan yang sejati itu? Matius 3:8 mengatakan: “jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” Kalimat ini sama seperti yang Tuhan Yesus katakan dalam Matius 12:33: “Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.”

Buah pertobatan sejati adalah buah Roh yang dihasilkan dari pertobatan dengan ketaatan dan hidup menurut pimpinan Roh Kudus. (Gal. 5:22-23, buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, dan penguasaan diri).  Yohanes Pembaptis menekankan bahwa Tuhan Yesus sebagai pusat kehidupan kita, Dialah yang akan membaptis kita dengan Roh Kudus, sehingga pertobatan kita akan menghasilkan buah Roh. Peringatan bagi kita yang tidak menghasilkan buah akan dihakimi. Gandum akan dikumpulkan ke dalam lumbung, sedangkan jerami akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan, yaitu neraka.
Dosa bukanlah sekedar tindakan atau perbuatan pelanggaran, tindakan justru membuktikan bahwa pada dasarnya esensi manusia telah berdosa sejak saat kejatuhan manusia pertama dalam dosa. Jadi dosa tidak dapat diselesaikan dengan perbuatan, melainkan melalui kelahiran baru yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri manusia.

Amsal 6:16-19 menulis tujuh dosa yang dibenci Tuhan, yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: 1. Mata sombong, 2. Lidah dusta,3. Tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, 4. Hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, 5. Kaki yang segera lari menuju kejahatan, 6. Seorang saksi dusta yang menyembur-nyembur kebohongan, dan 7. Yang menimbulkan pertengkaran saudara.

Jika hari ini kita masih hidup dalam dosa, BERTOBATLAH!  Tuhan memberi kita kesempatan dan anugerah pengampunan. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (I Yoh. 1:9). Tetapi jika seseorang mengatakan bahwa ia telah bertobat namun masih terus-menerus berbuat dosa dan menikmatinya, maka mungkin sekali sebenarnya ia belum bertobat dan belum lahir baru. Allah tidak akan membiarkan setiap umat-Nya hidup dalam dosa, “Karena Tuhan akan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia akan menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibr. 12:9).

Jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan

 

Oleh :  Pdt. Martin Elvis

PBSR 921 Andaikan Ku Melakukan (Bahasa CintaMu)

1. Andaikan ku melakukan, yang luhur mulia
Jika tanpa Kasih cinta, hampa tak berguna.

Reff:
Ajarilah kami bahasa cinta-Mu,
agar kami dekat pada-Mu ya Tuhanku
Ajarilah kami bahasa cinta-Mu,
agar kami dekat pada-Mu

2. Andaikan ku memahami, Bahasa semua.
Hanyalah bahasa cinta kunci tiap hati.

3. Andaikanku mendermakan, segala milikku
Tapi hanyalah kasih-Mu sanggup membah’giakan

4. Cinta itu lemah lembut, sabar sederhana
Cinta itu murah hati rela menderita

1 33 34 35 36