YUNUS DIPAKAI UNTUK BANGSA-BANGSA LAIN

YUNUS DIPAKAI UNTUK BANGSA-BANGSA LAIN – MISI SEDUNIA

Yunus 4 Kitab Yunus, adalah salah satu kitab dalam Perjanjian Lama yang sangat jelas dan kuat mengajarkan tentang pelayanan Misi kepada bangsa lain. Dan Yunus adalah nabi Tuhan yang diutus untuk masuk dalam pelayanan misi untuk bangsa lain. Membaca pasal yang keempat dari kitab Yunus, menunjukkan kepada kita sikap Yunus, mengapa ia tidak bersedia diutus untuk menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Ninewe. Sebab, Yunus tidak menghendaki pertobatan bangsa ini tetapi menginginkan Ninewe yang selalu melakukan kekerasan dan kejahatan ini (termasuk kepada Israel), dibinasakan. Sikap yang tentu bertentangan dengan tugas dan panggilan yang dikehendaki Tuhan atas pelayanan Yunus. Tentu firman Tuhan ini, tidak sekedar menceritakan kisah nabi Yunus, tetapi ini adalah firman Tuhan yang juga ditujukan kepada kita sebagai jemaat Tuhan. Ada dua hal penting yang dikemukakan dalam teks firman Tuhan ini:

1. Pelayanan Misi adalah pelayanan untuk Semua Bangsa dan didasarkan pada Kehendak TUHAN serta demi Tujuan TUHAN. (ayat 1-9) Alkitab menyaksikan dengan jelas, bahwa ada umat TUHAN yang mempunyai pandangan yang keliru tentang panggilan pelayanan misi kepada bangsa-bangsa lain. Alkitab terang-terangan menyaksikan ada pelayan yang pikirannya masih sempit. Oleh karena nasionalisme yang dangkal serta pemahaman tentang kasih Allah yang sangat tipis. Akibatnya ialah, ketidaktaatan terhadap panggilan misi. Dan kalaupun kemudian melakukan pelayanan misi, tetap saja dilakukan dengan keinginan yang berbeda dengan keinginan dan tujuan TUHAN. Firman Tuhan menghendaki Yunus untuk harus masuk dalam pelayanan misi, dengan tujuan memberitakan firman Tuhan, supaya manusia berdosa bertobat dan diselamatkan. Perhatikanlah Amanat Agung Tuhan Yesus dalam Injil Matius 28:19-20: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Bagian firman Tuhan ini mengingatkan kita sebagai umat TUHAN. Bagaimana dengan kita? Apakah kita, gereja kita juga melaksanakan panggilan Misi? Dan kalau melaksanakan, apakah hanya untuk lingkungan sendiri? Serta apakah dilaksanakan dengan kerinduan seperti kerinduan TUHAN?

2. Pelayanan Misi adalah pelayanan yang didasarkan pada belaskasihan TUHAN atas orang berdosa (ayat 10-11) Memperhatikan keseluruhan pasal dalam kitab Yunus dan secara khusus pasal yang keempat, Nampak bahwa pelayanan misi kepada bangsa-bangsa lain adalah pelayanan yang didasarkan pada hati kasih (ayat 10-11). Kebenaran ini disinggung oleh Yunus dalam ayat 2, bahwa TUHAN adalah Allah yang pengasih dan penyayang. Panjang sabar serta berlimpah kasih setia. Injil Yohanes 3:16, menegaskan prinsip ini; “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Pertanyaan penting bagi kita ialah bagaimana dengan program pelayanan misi yang kita laksanakan? Apakah hanya sekedar program? Ataukah sebuah panggilan pelayanan yang kita lakukan atas dasar kasih?

Pada minggu kelima yang adalah minggu misi dalam lingkungan GKK, marilah kita melayani dengan didasarkan pada, kehendak serta tujuan Tuhan atas kita serta melayani dengan hati penuh kasih.

Oleh : Pdt. Dennie Olden Frans

PERTOBATAN NINIWE

Yunus 3
Allah berfirman agar Nabi Yunus pergi ke Niniwe dan berseru agar Niniwe bertobat. Namun jiwanya yang picik tidak mampu menerima kenyataan bahwa Allah juga mengasihi bangsa-bangsa lain. Hatinya yang dengki tidak sanggup membayangkan bangsa Niniwe diselamatkan. Itu sebabnya pikirannya yang degil itu lalu mencari cara untuk menjauhi Allah. Dia melarikan diri ke Tarsis. Apakah kedegilan hati dari seorang Nabi Allah dapat membatalkan rencana kekal Allah bagi Niniwe? Mari kita lihat rencana Allah bagi bangsa Niniwe

1. Allah Mengasihi Niniwe (ayat 1-3 )
Allah adalah Allah yang panjang sabar Sifat ini hampir selalu dikaitkan dengan sifat kasih sayang dan kemurahan Allah terhadap orang berdosa dan pemberontak, Niniwe sebenarnya patut terkena murka Allah. Namun kesabaran Allah yang membuat Allah tidak langsung memberikan penghukuman kepada Niniwe. Pemberian waktu dan tempat bagi manusia dengan maksud agar mereka bertobat.Panjang sabar Allah adalah kesempatan yang diberikan untuk bertobat. ” Allah sangat mengasihi manusia, tetapi di sisi yang lain, Allah tidak berkompromi dengan dosa.

2. Allah bekerja di dalam diri orang Niniwe, sehingga mereka bertobat (ay 5-8). 
Sejak kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, maka manusia selalu ada keinginan untuk berbuat dosa dan tidak akan mau bertobat.Manusia tidak mempuyai kesadaran untuk melepaskan diri dari dosa kalau Allah tidak bekerja di dalam dirinya untuk menginsafkan manusia dari dosa. Manusia itu mati secara rohani dan karena itulah maka ia tidak akan mau dan tidak akan bisa bertobat secara sendiri. Hanya kalau Allah bekerja dalam diri manusia, maka barulah manusia itu bisa percaya / bertobat . Orang-orang Niniwe mau mendengarkan teguran Tuhan dan lalu bertobat, menunjukkan bahwa Tuhan telah bekerja dalam diri mereka, karena karya Tuhanlah yang membuat orang Niniwe merasa bahwa mereka telah berdosa.

3. Berharap Adanya Pengampunan Tuhan.(ayat 9-10)
Orang Niniwe menyadari akan kejahatan mereka dihadapan Allah sehingga mereka tidak dapat tahu apakah Allah akan mengampuni kesalahan mereka atau tidak. Kedaulatan kekal Allah menentukan keberadaan kita namun Kedaulatan kekal Allah itu tidak meniadakan tanggung jawab manusia untuk melakukan bagian mereka masing-masing. Hal ini terlihat dimana orang-orang Niniwe mereka berusaha dan berharap dapat melunakkan hati Tuhan dengan berdoa dan berpuasa.

Berespon akan teguran Tuhan atas kehidupan adalah suatu keharusan yang perlu diperhatikan.Bertobatlah jika Firman Tuhan itu menegur kita , jangan pernah mengeraskan hati dihadapan Tuhan,jika kita tidak mau mengalami cambukan yang keras yang Tuhan berikan kepada setiap orang yang keras hati.

Oleh :

Pnt.K. Lily Ester

Doa Syukur Atas Pergumulan Hidup

Referensi Kotbah 08 Januari 2011
Yunus 2

“Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!” Yunus 2:9

Biasanya bila kita belum pernah terjepit, mengalami kesesakan atau dalam keadaan yang menakutkan, kita sulit mengucap syukur kepada Tuhan. Seringkali Tuhan mengijinkan kita mengalami masalah dan masuk dalam kegelapan agar kita mengerti dan menyadari bahwa hanya Tuhan yang sanggup melepaskan. Namun terkadang saat kita mengalami ujian berat kita putus asa, lari meminta pertolongan manusia dan meninggalkan Tuhan.
Ketika Yunus mengalami ujian berat dan berada di ujung maut karena “…tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.” (Yunus 1:17), ia berseru kepada Tuhan dari dalam perut ikan itu dan mengarahkan iman pengharapanannya kepadaNya, “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.” (Yunus 2:2).
Iman kita perlu diuji kadarnya. Bila tiada kesulitan, tentu semua orang bisa mengucap syukur dan bersorak-sorai. tetapi saat kita diijinkan mencicipi kesulitan/penderitaan, bisakah kita mengucap syukur dan tetap fokus pada Tuhan? Jangan sekali-kali berpegang pada kekuatan sendiri atau berharap pada manusia, nanti kita akan kecewa dan terluka. Jalan terbaik adalah berseru kepada Tuhan dan menanti-nantikanNya saja. Ketuklah pintu hati Yesus dengan seruan yang keluar dari dalam jiwamu yang letih lesu seperti yang dilakukan Yunus, “Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.” (Yunus 2:7).
Jangan mengeluh dan menggerutu! Ucapkanlah syukur walaupun gelap pekat menyelubungi kita dan secercah sinar pun tiada. Yunus yang seharusnya sudah dicerna dalam perut ikan sanggup ditolong Tuhan dan dikeluarkanNya hidup-hidup. Dalam Dia selalu ada jalan keluar! Lalu Yunus bersyukur dan berkata, “…yang kunazarkan akan kubayar. ..” (Yunus 2:9).
Pernahkan kita bernazar apabila Dia sanggup menolong kita? Sudahkah kita memenuhinya?
– Diambil AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN
“Berserulah Kepada Tuhan”

Panggilan Tuhan Terhadap Yunus

Referensi Kotbah 08 Januari 2011

Yunus  1

“Datanglah firman Tuhan kepada Yunus … Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepadaKu.”    (Yunus 1 : 1-2)

            Kita di dunia ini bukan suatu kebetulan. Tuhan menciptakan dan menempatkan kita di dunia untuk menggenapi rencanaNya melalui panggilan khusus yang Tuhan sudah siapkan bagi kita. Panggilan Tuhan dalam hidup kita bukan untuk dilupakan atau diabaikan melainkan harus dikerjakan. Ia mau supaya kita hidup dan menjalani panggilan itu untuk kebaikan kita, kebaikan orang lain serta kemuliaan namaNya (Efesus 2 : 10).

          Dalam Yunus 1 : 1 – 17,  kita menemukan bahwa Tuhan memiliki panggilan terhadap Yunus. Melalui panggilan Tuhan terhadap Yunus, ada banyak hal yang dapat kita pelajari, beberapa di antaranya adalah :

1.     Tuhan memiliki panggilan kepada setiap orang (1 : 1-3) Panggilan Tuhan terhadap Yunus supaya pergi ke Niniwe dan memberitakan pertobatan merupakan pergumulan yang berat baginya. Bahkan Yunus pun membenci orang-orang Niniwe, mengapa ? Karena bangsa Niniwe adalah bangsa yang sangat jahat (Yun 3:8) dan sadis / penumpah darah (Nahum 3:1). Bangsa Israel  pernah ditawan dan diperlakukan kejam oleh orang Niniwe.  Oleh karena itu, sulit bagi Yunus untuk mentaati panggilan Tuhan melayani orang Niniwe. Yunus tidak terima kalau Tuhan menginginkan orang-orang Niniwe bertobat dan bebas dari hukumanNya. Bagi Yunus, bangsa Niniwe itu jahat maka pantas dihukum dan dibinasakan. Tetapi Allah justru sangat mengasihi orang-orang Niniwe dan menginginkan mereka bertobat.

Penerapan : Seperti Yunus, Tuhan juga punya panggilan kepada setiap orang termasuk kita. Allah rindu semua orang mengetahui kasihNya. Oleh karena itulah, Tuhan memanggil kita untuk mengasihi dan melayani setiap orang, termasuk orang-orang yang menurut kita tidak pantas untuk dikasihi dan layani.  Mungkin mereka adalah orang-orang yang berbuat jahat kepada kita / yang menghianati kita / mempersulit hidup kita, dll.  Atau bahkan mereka adalah keluarga atau sahabat yang sudah melukai perasaan kita.  Maukah kita belajar mengasihi, seperti Tuhan mengasihi semua orang ?

 2.     Resiko menolak panggilan Tuhan (1 : 4 – 17)

Respon Yunus terhadap panggilan Tuhan adalah tidak taat sehingga ia melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan (ayat 3a). Pada waktu itu, mereka beranggapan bahwa Tarsis adalah ‘ujung bumi’, sehingga untuk pergi ke Tarsis Yunus harus belayar selama satu tahun. Yunus  berpikir dengan melarikan diri ke Tarsis ‘ujung bumi’, maka ia bisa lari dari panggilan Allah. Yunus lupa bahwa Allah Mahatahu, di manapun kita  berada Tuhan hadir di sana (Mazmur 139 : 7-10). Yunus juga tidak menyadari bahwa ketidaktaatannya terhadap panggilan Allah membawa resiko bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya yaitu nyawa mereka terancam bahaya.

Penerapan : Memenuhi panggilan Tuhan bukan berarti tanpa pengorbanan, karena kita harus keluar dari zona nyaman dengan segala resiko yang ada. Meskipun begitu, TAAT pada panggilan Tuhan adalah pilihan terbaik apapun resikonya – berat tapi jadi berkat !  Sebaliknya, jika menolak panggilan Tuhan tentu ada resikonya seperti Yunus mengalami masalah bahkan menjadi sumber masalah bagi orang lain. Bagaimana respon kita panggilan Allah, Apakah kita mau taat secara langsung seperti Maria, ‘. . .  jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Lukas 1: 38); Atau memilih seperti Yunus, kita mau taat setelah dipaksa / dihajar / dididik Tuhan ?

“Dalam perjalanan hidup ini, kita merasa sudah berkorban banyak hal  untuk taat pada panggilan Tuhan. Ternyata, ini adalah sebuah pemahaman yang keliru. Sebenarnya bukan kita  yang berkorban banyak untuk Tuhan tetapi justru Tuhan yang meresikokan diri lebih besar dengan mempercayakan pelayanan yang mulia kepada kita. Segala sesuatu  dapat Tuhan lakukan sendiri dengan sempurna tanpa bantuan kita, namun Tuhan ajak kita bersama-sama untuk melakukannya. Itu sebab setiap pelayanan yang ada biarlah kita melihat sebagai sebuah anugerah, apapun itu. Kita melakukannya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia ataupun gereja sehingga engkau tidak akan pernah kecewa” (saduran tulian Pdt. Yohan Candawasa).  Marilah kita benar-benar mendengar dan melakukan apa yang Tuhan mau, maka Tuhan akan memberkati pelayanan kita, dan orang lainpun akan mendapatkan berkat dari pelayanan yang ada.

  

Oleh :

Ibu  Relly  Rajagukguk 

Hidup Bukan Sekedar Rutinitas


Lukas 5 : 1 – 11

Tahun Baru adalah pergantian tahun yang merupakan momentum untuk menyadari secara mendalam, bahwa kita memiliki waktu / masa hidup dalam dunia ini. Kita diingatkan bahwa kita hidup dalam ruang dan waktu tertentu.

Keterikatan perjalanan hidup dalam ruang dan waktu menyadarkan kita sebagai makhluk yang kecil dan lemah di hadapan Tuhan yang mengatur alam semesta ini. Sepatutnya, manusia mengucapkan syukur, berterima-kasih karena masih diberi kesempatan menjalani kehidupan dalam ruang dan waktu ini.

Ada kebiasaan baik bagi keluarga, menjelang dini hari pergantian tahun, anggota keluarga lengkap mengadakan kebaktian, memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan atas karunia penyertaan Tuhan  dalam satu tahun ke belakang dan mendoakan agar di tahun yang baru, rahmat dan penyertaan Tuhan terus beserta kita. Setelah itu masing-masing anggota keluarga saling bermaafan satu dengan yang lain atas khilaf dan kesalahan yang telah dilakukan diiringi nasihat-nasihat bijak Firman Tuhan yang kembali menyegarkan kehidupan kita di tahun yang baru.

Dalam bacaan Firman Tuhan hari ini kita melihat hal indah dan patut kita belajar dan melakukannya di tahun baru 2012, yaitu : KETAATAN.

Dalam ayat 4 kita melihat bahwa Yesus menyuruh Petrus untuk pergi ke tempat yang dalam dan menjala ikan di sana. Sebetulnya Petrus mempunyai alasan-alasan rasionil untuk mengabaikan perintah Yesus itu, seperti :

  1. Yesus adalah tukang kayu, bukan nelayan. Bagaimana mereka sebagai nelayan harus menuruti nasihat dari tukang kayu dalam hal menangkap ikan ?
  2. Sepanjang malam itu mereka tidak mendapat ikan (ayat 5), padahal malam adalah waktu yang terbaik untuk menangkap ikan. Tetapi sekarang Yesus menyuruh mereka menjala ikan pada pagi / siang hari.

Tetapi, hal yang luar biasa adalah : sekalipun ia mempunyai alasan-alasan rasionil tersebut, ia tetap mentaati perintah itu !

Penerapan :  Di tahun baru 2012 mari kita bertekad kalau mendapat perintah Tuhan, dan saudara mempunyai alasan yang rasionil untuk tidak mentaati perintah Tuhan itu, apakah saudara tunduk pada Firman Tuhan ataukah pada alasan rasionil saudara?  Saudara bebas menentukan, misalnya :

  • Tuhan menyuruh Saudara untuk jujur. Tetapi, dalam hal-hal tertentu, seperti dalam bisnis / pekerjaan, kejujuran bisa merugikan kita / mengurangi keuntungan kita. Akankah saudara tetap jujur?
  • Tuhan menyuruh saudara untuk memberi persembahan persepuluhan, tetapi ternyata penghasilan saudara tidak mencukupi kebutuhan hidup saudara !  Lalu, bagaimana?  Apakah saudara tetap taat pada perintah Tuhan?
  • Tuhan menyuruh saudara untuk mengasihi musuh, bahkan untuk membalas kejahatan dengan kasih. Tetapi kalau hal itu saudara lakukan, maka para musuh itu pasti akan makin menjadi-jadi dalam menjahati saudara. Apakah hal itu saudara jadikan alasan untuk tidak mentaati Firman Tuhan ?

Hal yang luar biasa kita lihat akibat ketaatan Petrus  ini menyebabkan terjadinya suatu mujizat, yaitu mereka menangkap begitu banyak ikan, sehingga jala mulai koyak dan perahu hampir tenggelam karena dipenuhi ikan.

Kalau selama ini saudara terus bersikap acuh tak acuh terhadap Yesus, atau sekedar menjadi pengikut pendeta / gereja / keluarga, bertobatlah !   Tuhan Yesus sudah mati di atas kayu salib untuk menebus dosa saudara, maka mulai saat ini tinggallah di dalam Dia, berbuahlah dan nikmati keindahan persekutuan dengan Dia.  Selamat Tahun Baru. Tuhan memberkati saudara. Amin.

 

Oleh :

Pdt. Adieli Waruwu

Yesus Kristus Adalah Anak Allah Yang Berkuasa

Roma 1 : 1 – 7

                Dalam minggu advent yang ke 4 ini kita akan membahas kitab Roma 1: 1-7.  Dalam nats ini terdapat dua (2) pokok pikiran yaitu: tentang diri Paulus dan Injil Yesus Kristus.  Paulus memulai suratnya dengan memberikan keterangan mengenai dirinya sendiri: “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah” (1).  Kata “hamba” dalam kalimat tersebut mempunyai dua latar belakang pemikiran yaitu

1. Hamba = Doulos = Budak.

Yesus telah mengasihi dan memberikan diriNya sendiri bagi Paulus dan oleh karena itu, dia yakin bahwa ia bukan lagi miliknya sendiri, tetapi seluruh hidupnya adalah milik Yesus          Kristus.  Ia tidak mempunyai hak apa-apa terhadap tuannya. Hamba menggambarkan ketulusan tanggung jawab dari kasih.

2. Kata “hamba” juga mempunyai arti lain.  Di dalam PL kata “hamba” lazim digunakan untuk menggambarkan orang besar yang diangkat Allah – Musa adalah hamba Allah (Yos. 24:29).    Merupakan gelar kebanggaan para nabi.  Orang besar yang dimaksud di dalam PL adalah mereka yang mendengar dan menjawab panggilan Allah.

Sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa menjadi hamba Yesus Kristus adalah suatu panggilan anugerah dan sekaligus sebagai tanggung jawab dari kasih yang besar dan kehormatan dari pekerjaan yang mulia. Grace And Responsibility. Anugrah dan tanggung jawab. Yesus berkata kepada murid-muridNya : Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi  Akulah yang memilih kamu (Yoh. 15 : 16).

Selanjutnya, Paulus membicarakan tentang INJIL Yesus Kristus, yang merupakan bukti utama kasih Allah untuk manusia berdosa.  Dalam perikop kita hari ini, terdapat dua bukti penting tentang tema kita.  Yesus Kristus adalah Anak Allah yang berkuasa:

–        Inkarnasi (Yoh. 3:16).

Inkarnasi bukan sebuah upaya penyamaran, tetapi usaha dan cara yang Allah pilih untuk menyelamatkan manusia yang berdosa.  Karena dosa manusia tidak bisa dibayar dan       ditebus oleh usaha perbuatan dan kesalehan manusia.  Seandainya bisa, lalu untuk apa Tuhan datang ke dunia.  Apakah ingin menarik perhatian manusia,  dan  menjadi  pahlawan?  Namun karena kepentingan dan keterdesakkan penebusan dosa manusia, maka Allah pencipta langit dan bumi rela menjadi manusia.  Allah masuk di dalam sejarah dunia.

Inkarnasi adalah satu titik kontak.  Tuhan mengasihi manusia dan Tuhan menurunkan satu titik kontak.  Titik kontak ini bersumber dari atas menuju kebawah dan mengakibatkan inkarnasi.  Inkarnasi berarti Tuhan menjadi daging.  Tuhan yang tidak kelihatan sekarang bisa dilihat, Allah menyatakan diri dalam tubuh dan hidup sebagai manusia. Inilah fokus dari Kristologi.   Pertemuan dua dunia, antara yang kekal dan yang sementara.  Inilah kristalisasi iman kristen yang benar.  Bahkan salah seorang pemikir besar di dalam jemaat mula-mula berkata: “Yesus menjadi seperti kita, supaya kita menjadi seperti Dia”

–        KebangkitanNya.

Bukti bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah yang berkuasa, bukan hanya menyembuhkan orang sakit, namun alampun tunduk kepadaNya, bahkan membangkitkan orang mati.  Dalam Yohanes pasal 11, Yesus Kristus membangkitkan Lazarus dari kematian. Ia berkata: “Akulah Kebangkitan dan Hidup”.  Apa arti kalimat tersebut?  Kalimat itu berarti Ia bukan hanya mampu membangkitkan Lazarus tetapi Ia adalah Kebangkitan dan Hidup. Yesus bukanlah akibat tetapi sebab, Ia adalah sumber dari Kebangkitan Lazarus tersebut.  Kebangkitan Lazarus adalah hasil dari Kristus sebagai Kebangkitan dan Hidup.  Karena itu Ia bukan saja membangkitkan Lazarus tetapi Ia juga bangkit dari kematianNya.  He is risen!  KebangkitanNya membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang berkuasa.  Ia telah mati tetapi kemudian bangkit kembali.  Yesus tetap hidup dan  berkuasa dari dahulu, sekarang sampai selamanya.  Puji Tuhan, Haleluya!

Implikasi dari kesaksian Alkitab ini adalah Yesus merupakan fokus dari kepercayaan Kristen.  Ia adalah sumber kehidupan kita, sumber pertolongan dan sumber kekuatan dalam menjalankan hidup dan menghadapi pergumulan kita saat ini.  Demikian pula kita diharapkan menjadi saksi Kristus di dalam dunia yang “gelap” ini.  Karena untuk siapakah Injil itu?  Ayat 5 menjawab untuk semua bangsa.  Supaya mereka percaya dan taat kepada namaNya (5).  Paulus rindu agar tongkat estafet pemberitaan Injil terus bergulir di dalam sejarah dunia ini (6).  Sekarang tongkat estafet itu berada di tangan kita.  Bagaimana sikap kita?  Selamat menjadi saksi Kristus.  Kuasa KebangkitanNya tetap menyertai kita sebagai saksi-saksiNya.  Soli Deo Gloria!

Oleh :

Pdt. Setiawan Sutedjo

1 30 31 32 33 34