Kristus Berkuasa Atas Maut dan Hidup

Referensi Kotbah 1 April 2012
Yohanes 11 : 33 - 44

Maria dan Marta memiliki konsep yang sama yaitu Lazarus tidak akan mati seandainya Yesus ada di Betania dimana mereka tinggal (21, 32). Seandainya pun Lazarus bangkit, berarti bangkit pada akhir zaman, bukan saat itu (24). Yesus tidak bermaksud berlambat-lambat datang menyembuhkan Lazarus, tetapi kematian Lazarus untuk : “menyatakan kemuliaan Allah, yaitu Anak Allah akan dimuliakan (4)”

Hati Yesus menjadi masygul (mengerang) dan sangat terharu ketika melihat Maria dan orang-orang Yahudi menangisi kematian Lazarus, bahkan Yesus pun turut menangis (33, 35). Ada dua respons orang banyak tentang kesedihan Yesus atas kematian Lazarus.

  1. Sebagai ungkapan kasih Tuhan kepada Lazarus (36)
  2. Meragukan kuasa Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian (37).

Masygul di sini menurut  penafsir ada yang memaknai sebagai kemarahan Yesus atas dosa, toh mereka yang turut sedih dan menghibur Maria dan Marta tidak akan menjadikan Lazarus hidup kembali dari kematian. Yesus masygul atas sikap mereka yang meragukan kuasa-Nya.

Lazarus sudah mati selama empat hari dan sudah berbau (39), tetapi Yesus sanggup membangkitkannya karena memang Yesuslah kebangkitan dan hidup (25). Yesus bisa saja membangkitkan Lazarus tanpa menggeser batu penutup gua kubur; tanpa menengadah ke atas dan berdoa kepada Bapa dengan didengar oleh banyak orang; tanpa berteriak kepada Lazarus untuk keluar dari kubur.

Semua itu dilakukan Yesus supaya orang banyak yang berdiri mengelilingi-Nya pada saat itu percaya bahwa Allah Bapa yang mengutus Yesus (42). Orang banyak tidak dapat berdalih bahwa memang Lazarus yang sudah mati empat hari yang dibangkitkan, dibuktikan dengan mereka sendirilah yang diperintahkan Yesus untuk membuka kain kapan dan kain peluh (44).

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus, marilah kita bersyukur dan percaya dengan sungguh bahwa Yesuslah kebangkitan, itu sebabnya minggu depan kita jemaat Gereja Kristus Ketapang dan seluruh orang percaya di muka bumi ini  merayakan Paskah yaitu kebangkitan Yesus dari kematian.

 

Oleh :

Pnt. K. Daniel Lie

Kristus Berkuasa Atas Kehidupan Manusia

Yohanes 9 : 1 – 12

Referensi Kotbah 25 Maret 2012

Mungkin kita pernah mendengar seseorang mengatakan “Dosa siapa itu sampai dia harus menderita seperti ini?”

Sama seperti apa yang dipertanyakan oleh murid-murid Tuhan Yesus ketika mereka sedang berjumpa dengan orang yang buta sejak lahir. “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?

Murid-murid menanyakan hal ini karena orang-orang Yahudi berpendapat bahwa penyakit dan penderitaan seseorang disebabkan oleh dosa orang itu atau dosa orang tuanya (Yoh. 5 : 14; Kel. 20 : 5).

Dalam hal ini Tuhan Yesus tidak mau memperdebatkan apa yang dipertanyakan oleh murid-murid-Nya, karena Tuhan Yesus tahu bahwa itu tidak ada gunanya. Tuhan Yesus tidak mempermasalahkan dosa siapa. Sehingga Jawab Tuhan Yesus terhadap pertanyaan murid-murid-Nya adalah  : “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, dimana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia

Bagi Tuhan Yesus ada hal yang lebih penting daripada sekedar hanya menanyakan dosa siapa. Karena memang pada kenyataannya manusia sudah jatuh dalam dosa dan hidup di dalam dunia yang berdosa, sehingga dimungkinkan manusia untuk mengalami penderitaan. Dan tidak perlu lagi menanyakan dosa siapa.

Yang penting bagi Yesus adalah :

1.       Ada pekerjaan-pekerjaan Allah yang akan dinyatakan

Hal ini terjadi pada si orang buta yang sejak lahir, ketika Tuhan Yesus peduli terhadapnya dan menyembuhkannya maka orang buta  tersebut menjadi percaya kepada Yesus dan menyembah-Nya. Orang buta ini bukan hanya sembuh secara  jasmani saja, tetapi ia juga mengalami kesembuhan rohani, ia menjadi percaya Tuhan Yesus.

2.       Selama masih ada kesempatan, Yesus harus mengerjakan apa yang ditugaskan-Nya oleh Bapa-Nya.

Yesus tahu akan tugas-Nya datang ke dunia yaitu menjalankan rencana Bapa-Nya di sorga. Oleh sebab itu dengan waktu yang ada, waktu yang terbatas sebelum kematian-Nya tiba, Yesus menyadari bahwa Ia harus giat bekerja menjalankan tugas-Nya. Ia menolong orang yang buta sejak lahir.

3.       Menjadi Terang dunia, selama Ia ada di dalam dunia.

Tuhan Yesus yang adalah sumber terang itu, segera menyembuhkannya dan memberikan terang itu. Sehingga si buta dapat melihat terangnya cahaya. Disamping itu, Terang Kristus juga menerangi hati orang buta itu. Sehingga membuat orang buta itu percaya Tuhan Yesus.

Tiga hal inilah yang dinilai penting oleh Tuhan Yesus, yang dapat kita simpulkan bahwa Tuhan Yesus datang kedunia untuk memberikan pertolongan kepada manusia yang hidup dalam penderitaan dan dalam kegelapan dosa.

Manusia hanya diminta untuk meresponnya dengan kerendahan hati dan iman.

Seperti halnya orang buta tersebut, dia dengan rendah hati menerima apa yang Yesus telah perbuat atas dirinya yaitu mengoles matanya dengan tanah dan ludah-Nya, dan dia taat akan perintah Tuhan Yesus untuk membasuh mukanya di kolam Siloam. Sehingga terjadi kesembuhan baik secara jasmani maupun rohani.

Tuhan Yesus sangat peduli kepada umat manusia yang menderita, dan Ia sangat berkuasa atas kehidupan manusia. Oleh sebab itu ketika kita punya permasalahan dalam kehidupan kita, datanglah kepada Tuhan Yesus. Karena Dialah satu-satunya yang dapat memberikan pengharapan. Kita akan merasa nyaman sekalipun permasalahan itu tetap ada dalam kehidupan kita.

Tuhan Yesus memberkati saudara

Oleh :

Pdt. Puspa Noviana

Kristus Berkuasa Atas alam Semesta

Yohanes 6 : 16 – 21
Referensi Kotbah 18 Maret 2012

Fenomena alam apa yang paling dikhawatirkan?  Mungkin jawabannya dapat beragam.  Bagi orang di pesisir pantai khususnya di pantai Barat Sumatera, mungkin mereka akan mengatakan khawatir akan gempa dan tsunami.  Bagi orang yang tinggal di lereng gunung Merapi, mungkin akan mengkhawatirkan letusan gunung api tersebut.  Bagi orang yang tinggal di daerah pesisir Barat Amerika, akan mengkhawatirkan kehadiran angin topan.  Bagi dengan kita yang ada di Jakarta?  Mungkin kita akan lebih mengkhawatirkan hujan lebat yang seringkali berakibat banjir.  Fenomena alam di atas membuat khawatir karena mendatangkan bencana.  Namun pertanyaannya sekarang bagi kita adalah, bagaimana sikap kita dalam menghadapi fenomena alam semesta ini?

Dalam bacaan hari ini, jelas dikatakan bahwa murid-murid tampak kepayahan menghadapi angin ribut (Mrk 6:48).  Fenomena alam yang dihadapi murid-murid ini cukup serius.  Dapat kita bayangkan bahwa dengan cahaya seadanya, fisik yang lelah karena seharian mendampingi Tuhan Yesus melayani lebih dari 5000 orang, kini mereka harus berusaha keras menjaga agar perahu jangan sampai terbalik.  Setidaknya ini juga yang mungkin dirasakan oleh sebagian besar orang ketika menghadapi fenomena alam yang tidak bersahabat dengan mereka.  Hujan lebat tak henti-hentinya, segala tenaga dan akal dicurahkan, tanggul dipertinggi, sementara hati berdebar-debar mengharapkan air untuk tidak masuk ke dalam rumah.  Atau  ketika   sirene   tanda  bunyi   akan datangnya tsunami dalam waktu setengah jam, maka kepanikan dan kekalutan yang mungkin terjadi.  Saat hal itu terjadi, pertanyaan sebagian orang adalah: apakah Tuhan peduli?   Mrk 6:48, sebagai bagian yang paralel dengan bacaan ini, menunjukkan bahwa Tuhan peduli terhadap kesulitan yang dihadapi umat-Nya.

Tidak hanya peduli, namun Tuhan juga berkuasa atas alam semesta ini karena memang Dialah Pencipta semesta.  Kekuasaan Tuhan atas alam di perikop ini diperlihatkan dengan, berjalan di atas air (ay.19), dengan mengijinkan Petrus berjalan di atas air (Mat 14:28), dan redanya angin (Mrk 6:51).  Seringkali kita terjatuh seperti murid-murid, terlalu fokus pada kekhawatiran alam semesta namun lupa pada kuasa Tuhan.  Di sore hari, murid-murid baru saja melihat mujizat lima roti dan dua ikan, namun malamnya (menjelang pagi) mereka begitu takutnya pada sosok yang berjalan di atas air dan tidak mengira itu adalah Tuhan.  Bahkan Petrus sampai harus memastikan dan meminta bukti, daripada langsung percaya.

Saat ini ada banyak rumor-rumor yang beredar mengenai gejolak alam dan masa depan manusia.  Ramalan suku Maya mengenai nasib bumi, yang ditafsirkan sebagai kiamat di tahun 2012 (sudah dibuat film layar lebar) menarik perhatian dan kekhawatiran sebagian besar.  Laporan-laporan para ilmuwan antariksa mengenai asteroid yang dapat menabrak bumi jelas menggelisahkan umat manusia.  Keanehan-keanehan alam yang berusaha diintepretasikan dengan pesimis oleh sebagian orang seringkali membuat kehebohan bagi pembaca di internet, bbm, dll.  Jika kita fokus kepada hal tersebut, maka kita akan terjatuh seperti murid-murid yang akhirnya lupa dan tidak mengenali Tuhan yang hadir dengan penuh kuasa di tengah mereka (bahkan Tuhan disangka hantu oleh murid-muridNya).  Marilah kita menyikapi berbagai fenomena alam ini dengan sebuah keyakinan bahwa Tuhan peduli dan berkuasa atas alam ini.

 

Oleh :

Bp. Richard Natasasmita

Kristus Berkuasa Memenuhi Kebutuhan Manusia

Yohanes 6 : 1 – 14

Kitab Yohanes sangatlah ingin membuktikan bahwa setiap pelayanan Yesus adalah karya Allah yang mulia. Oleh sebab itu peristiwa dalam kitab Yohanes ini mau menyatakan bahwa segala karya pelayanan-Nya agar orang-orang percaya kepada Kristus sebagai Mesias, Anak Allah, dan supaya oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yoh 20:31). Bahkan Yesus menyaksikan diriNya sendiri barang siapa yang percaya kepadaNya akan pindah dari alam maut ke dalam hidup (Yoh 5:24)

Peristiwa memberi makan lima ribu orang merupakan salah satu pelayanan Tuhan Yesus yang dilakukan saat itu. Banyak orang mengikuti Dia saat itu menyaksikan mujizat-mujizat penyembuhan dari sakit. Betapa besar perhatianNYA kepada orang banyak saat itu sehingga karya-karyaNya ingin membuktikan bahwa Yesus utusan Allah. Ini sangatlah membutikan kuasa yang ada di dalam diriNya. Ketika Yesus melihat orang berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus “dimanakah kita akan membeli roti, supaya mereka mendapat makan?”.  Walaupun pertanyaan  Yesus untuk menguji muridNya, sebab Ia sendiri tahu apa yang akan dilakukan (ay. 5-6). Penyatan ini berbeda dengan Injil yang lain membuktikan siapa sesungguhnya Yesus anak ALLAH.  Tentunya untuk memberi makan untuk orang sebanyak itu uang seharga 200 dinar (mata uang romawi, 1 dinar  upah kerja orang  satu hari). mau mengatakan bahwa apa yang dimiliki tidak akan cukup walaupun mereka mendapat bagian kecil (ay.7).

Tetapi Andreas saudara Simon Petrus berkata: “ada seorang anak yang mempunyai lima roti dan dua ikan, tetapi apakah artinya untuk orang sebanyak ini? (ay. 9). Dalam peristiwa itu akhirnya Yesus mengambil roti dan mengucap syukur dan membagi-bagikan kepada yang duduk sampai mereka kenyang dan dikumpulkan potongan-potongan menjadi 12 (dua belas) bakul penuh (ay 11-13). Akhirnya dari pelayanan Yesus orang-orang yang melihat mujizat itu berkata “Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia” (ay. 14).

Melalui peristiwa memberi makan limaribu orang pesan penting yang harus kita pelajari dalam perenungan ini: pertama: Tuhan Yesus memperhatikan kebutuhan manusia, dalam pelayanan-Nya ternyata bukan hanya sekedar kebutuhan rohani tetapi kebutuhan jasmani yang Yesus perhatikan. Banyak pemimpin yang cuek, tidak peduli dengan umat. Tetapi melalui pelayanan ini Yesus ingin murid-muridNya peduli dengan kebutuhan umat. Kedua, Tuhan mampu memenuhi kebutuhan manusia, ketika manusia memahami pergumulan dan kebutuhannya sangat diperlukan, ternyata Tuhan mampu memenuhi kebutuhan manusia. Tuhan tidak perlu dipaksa, di suruh-suruh, bahkan sering manusia iri, kuatir terhadap apa yang dimiliki, tetapi Tuhan Yesus mampu memenuhi kebutuhan manusia. Walaupun jalannya harus berkelak-kelok, butuh kesabaran dan kesetiaan agar Tuhan memenuhi kebutuhan kita.  Ketiga;  melalui peristiwa memberi makan lima ribu orang sangat jelas mau mengatakan umat agar bergantung/menggantungkan diri dalam rencana Allah. Sering banyak manusia menjalani hidup ini kurang bergantung, tentunya sikap ini salah jika kita memahami kita tidak membutuhkan Allah, tanpa Allah saya bisa. Tetapi melalui peristiwa ini kita diingatkan bahwa Allah lebih tahu apa yang kita perlukan. Oleh sebab itu, jangan melepaskan diri dari anugrah Allah, tanpa pertolongan dan rencana Allah kita bukan apa-apa, kita hanya manusia yang menjalankan kehendak-Nya.

Melalui minggu Pra-paskah ke-3 mengingatkan kita kembali akan kuasa Kristus memenuhi kebutuhan manusia. Kristus tidak hanya memenuhi kebutuhan jasmani atau rohani. Tetapi Yesus mengetahui setiap kebutuhan kita. Mungkin kebutuhan yang tidak kita ungkapkan dan pikirkan. Oleh sebab itu untuk mengertai kuasa-Nya ada adalah kita mengandalkan dan terus percaya kepadaNya dalam kehidupan ini. Dalam setiap keadaan dan kondisi, biarlah kita percaya kepadaNya mengalahkan kondisi yang ada.   Selamat merenungkan dan melakukan Firman Tuhan dalam minggu pra-paskah.

 

 

Oleh :

Bp. Andri Wahyudi

Kristus Berkuasa Atas Segala Penyakit

Yohanes 4 : 46 – 5 : 9

Keluarga besar Gereja Kristus Ketapang dalam 7 minggu ini, dalam suasana pra Paskah, sedang membahas Seri 7 Mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus di kitab Yohanes.  Pada hari ini seri yang kedua dengan tema: “Kristus berkuasa atas sakit penyakit” diambil Yohanes 4:46 – 5:9, tentang Yesus menyembuhkan anak pegawai istana dan penyembuhan pada hari Sabat di kolam Betesda. Namun, dalam waktu yang singkat kita fokuskan pembahasan pada “penyembuhan pada hari Sabat di kolam Betesda”.

Pada hari raya orang Yahudi, di Yerusalem dekat pintu gerbang domba,  ada sebuah kolam, namanya Betesda.  Artinya: Rumah Anugrah.  Di situ terdapat 5 serambi.  Dan di serambi-serambi tersebut banyak orang sakit.  Mereka yang buta, yang timpang dan yang lumpuh.  Mereka menantikan goncangan air kolam itu.

Apa yang mereka nantikan dalam goncangan kolam itu?  Pada saat itu ada sebuah cerita bahwa ada arus bawah tanah di kolam itu yang menimbulkan gelembung-gelembung udara sehingga air kolam bergoncang. Masyarakat percaya bahwa goncangan-goncangan itu disebabkan karena malaikat Tuhan turun.

Bagi kita yang hidup di jaman modern ini, sepertinya hal seperti itu hanya merupakan suatu tahayul belaka. Tetapi kepercayaan semacam itu agaknya tersebar luas di dalam masyarakat kuno.  Banyak mereka yang percaya kepada roh-roh tertentu baik roh jahat maupun roh yang baik.  Roh-roh tersebut mempunyai tempat tinggalnya masing-masing seperti di pohon, sungai, bukit, kolam dan beberapa tempat tertentu lainnya.

Dan di dekat kolam itu ada seseorang yang sakit 38 tahun lamanya.  Ketika Yesus melihat orang itu, bertanyalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”  Orang itu tidak langsung menjawab “ya atau tidak”.  Tetapi ia menyadari keterbatasannya, bagaimana caranya ia turun ke dalam kolam itu? Seolah-olah ia berkata “kapan saya bisa mendapat kesempatan?”

Namun, Yesus berkata kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah”.  Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu, lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan.  Tetapi hari itu adalah hari Sabat.

Pelajaran apa yang dapat kita ambil melalui nats ini? Bahwa: Kristus berkuasa atas sakit penyakit.  Kuasa Yesus tidak dibatasi oleh ruang, waktu lamanya sakit, maupun beratnya sakit penyakit tersebut.  Sumber kuasa dan kesembuhan tersebut ada di dalam pribadi Tuhan, bukan kolamnya, airnya atau hal-hal yang lain.  Nats ini mengungkapkan tentang ketidakmampuan manusia dan kekuasaan Kristus.  Jangan sampai alat, menjadi  lebih utama dari Tuhannya.

Bagaimana pemahaman dan pengajaran tentang kesembuhan untuk masa kini?  Mengapa di antara orang-orang yang didoakan, ada yang satu sembuh total, sedangkan ada pula yang tambah parah bahkan meninggal dunia.  Apakah imannya kurang, sedangkan yang sembuh imannya lebih mantap.  Dalam hal ini janganlah kita terlalu cepat menarik kesimpulan.

Di dalam bagian Firman Tuhan yang lain Bartolomeus disembuhkan dari kebutaan karena imannya – “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau”, sementara Rasul Paulus yang tidak diragukan lagi imannya, tidak sembuh dari ”duri dalam daging”.  Apalagi orang Gerasa, bukan hanya tidak beriman tetapi mereka adalah orang-orang yang kerasukan setan, namun tetap Tuhan sembuhkan.

Bukankah di dalam nats ini juga banyak orang yang tidak disembuhkan – (ay. 3) – “dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu”.  Jadi jawaban tentang kesembuhan Ilahi adalah kedaulatan Tuhan.  Dia bebas berdaulat melakukan sesuai dengan kehendakNya.  Di dalam Roma 11: 33-34: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan- jalanNya.  Sebab siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?  Atau siapakah yang pernah menjadi penasehatNya?”

Jadi adalah benar bahwa bukan iman yang besar yang kita perlukan, tetapi beriman kepada Allah yang besar.  Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya                    (I. Yoh. 5:14).

Dan puncak dari pengajaran Firman Tuhan tentang kesembuhan adalah kesembuhan rohani.  Apa artinya kesembuhan jasmani bila kerohanian kita buta.  Seperti 9 orang kusta yang sembuh dari penyakit jasmani tetapi tidak sembuh dari penyakit rohani.  Mereka tidak tahu berterima kasih dan tidak mengalami Tuhan sebagai sumber dari kesembuhan tersebut.

Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya.  Selamat memohon dan berharap hanya kepadaNya!  Tuhan Yesus memberkati.

Oleh :
Pdt. Setiawan  Sutedjo

1 29 30 31 32 33 35