Yang Paling Besar Di antaranya Ialah Kasih

I KORINTUS 13 : 1-13

Bulan Februari, tepatnya tanggal 14 banyak orang merayakan hari Valentin. Kaum muda khususnya memanfaatkan ini untuk menyatakan cintanya kepada orang-orang yang mereka sukai. Dengan demikian hari Valentin menjadi cenderung identik dengan cinta romantic antara pria dengan wanita. Padahal dari sejarahnya hari Valentin merupakan hari peringatan orang suci Valentin dari Gereja Katolik yang pada tahun 1969 peringatan ini dicabut dengan alasan secara sejarah tidak banyak yang diketahui dari pribadi Valentin ini.

Walaupun demikian banyak orang termasuk gereja masih memanfaatkan hari Valentin ini untuk mengungkapkan kasih sayang. Karena itu gereja-gereja pada umumnya menganggap hari Valentin sebagai produk budaya umum dan hari Valentin dimanfaatkan untuk menjelaskan Kasih dengan makna Kristiani seperti khotbah dan renungan pada hari ini.

Dalam 1 Korintus Kasih diungkapkan sebagai yang terbesar. Mengapa demikian? Pemikiran Paulus ini bukan muncul dari dirinya pribadi. Ini adalah pengajaran Alkitab secara keseluruhan. Dalam Perjanjian Lama ayat yang mewakili adalah Imamat 19:18. Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan agar orang percaya mengasihi Allah dan manusia (Mat 22:37-40; Mrk 12:28-34; Luk 10:25-28). Jadi kasih kepada Allah yang secara sederhana berkaitan dengan kerohanian seseorang harus terwujud dalam tindakan kasih kepada sesama manusia.

Pemikiran utama di atas dipakai oleh Paulus untuk menegur jemaat di Korintus. Mereka terlalu mengutamakan karunia pelayanan yang mereka punya dan lakukan. Dalam ayat 1-3 Paulus menyebutkan lima karunia yaitu bahasa roh, bernubuat, mengetahui rahasia dan memiliki pengetahuan, iman dan berbagi. Jika hal-hal tersebut dilakukan tanpa kasih semuanya sia-sia! Dalam ayat 4-7 Paulus menguraikan ciri-ciri kasih yang semuanya secara unik mendorong jemaat Korintus untuk mempraktekkannya karena mereka terlibat dalam perselisihan antara golongan (1Kor 3:1-9) dan karenanya mereka belum dianggap dewasa rohani (ayat 11 bdk. 3:1-3). Jadi melakukan pelayanan dengan karunia bukan berarti seseorang telah dewasa rohani! Orang yang dewasa rohani melakukan pelayanan karena kasihnya kepada Allah dan sesama bukan karena kasihnya kepada kegiatannya itu sendiri.

Hal berikut yang menjadi alasan Paulus adalah bahwa pada akhirnya karunia melayani akan tidak diperlukan lagi karena karunia adalah alat yang tidak sempurna untuk melayani dunia yang tidak sempurna. Tetapi kasih masih akan ada dalam relasi manusia bahkan sampai akhir zaman nanti. Karena kasih adalah dasar paling utama dari etika kehidupan Kristen. Dengan demikian hiduplah dan melayanilah dengan kasih karena yang paling besar di antaranya adalah kasih.

Pnt.K. Djeffry Hidajat

Kasih Vs Kebencian

Amsal 10 : 12

“Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.” (Amsal 10:12)

Kata “Benci” berlawanan arti dengan kata “Kasih”. Keduanya mempunyai dampak: yang satu negatip dan yang lain positip. Keduanya juga tidak bisa menjadi satu, sebab jika seseorang memiliki kebencian, pasti pada saat yang sama ia tidak mampu mengasihi, sebaliknya jika seseorang mengasihi maka kebencian tidak ada padanya.

Contoh: Ada orang yang saking bencinya terhadap seseorang ia mengatakan: “sampai mati saya tidak akan memaafkan dia, karena ia telah menyakiti hatiku.”
Dalam contoh di atas, kebencian timbul dari sakit hati. Sakit hati seseorang berasal dari bagaimana kita menyikapi (dari dalam diri) terhadap tindakan, perkataan, perbuatan, sikap orang lain.(dari luar diri).Orang tidak dapat mengasihi dan memaafkan karena pada saat ia membenci, ia tidak bisa mengasihi.

Dampak negatip dari kebencian adalah menimbulkan pertengkaran.
Amsal 17:14 memberi peringatan: “Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.”

Kata “kebencian” memiliki arti menganggap orang lain itu sebagai musuh. Sedangkan kata “pertengkaran” memiliki akar kata yang berarti “menghakimi”.

Dengan demikian bagaimana orang bersikap tergantung dari prasuposisi yang ada dalam pikiran dan hatinya. Alkitab berkata: “kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Lukas 6:27b-28)

Ini adalah prasuposisi yang perlu ada dalam hati dan pikiran kita, sebab ayat berikutnya yang menjelaskan mengapa kita bersikap demikian; adalah karena kita adalah anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. (Lukas 6:35b). Sesuai dengan nasihat firman Tuhan: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,…” (Filipi 2:5).

Prasuposisi yang perlu kita bangun adalah menaruh pikiran dan perasaan seperti Kristus. Sebab tanpa prasuposisi ini kita tidak dapat mengasihi ketika diperhadapkan kepada orang-orang yang berbuat jahat, yang merugikan kita, yang melukai hati kita, yang menghina kita, yang menfitnah kita, dan lain sebagainya.

Jangan biarkan kebencian menguasai hidup kita, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih menutupi segala pelanggaran. Kasih menghindarkan kita dari perbuatan dosa yaitu dengan membenci sesama. Kebencian merupakan hal yang sangat serius, I Yoh. 3:15 mengatakan: “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.”

Hiduplah di dalam kasih Kristus, maka kebencian tidak dapat menguasai hidup kita.

Pdt. Martin Elvis.

Pembinaan Pranikah April – Mei 2012

retreat
Apakah Pembinaan Pra Nikah itu?

Pembinaan Pranikah merupakan pembinaan yang WAJIB diikuti oleh pasangan-pasangan yang akan menikah di GKK, dimana bagian ini memiliki visi dan misi yang tidak terpisahkan dari visi dan misi Family Ministries, yaitu membantu mempersiapkan jemaat untuk memasuki kehidupan pernikahan ilahi yang berkenan kepada Tuhan. Kegiatan dilaksanakan 2X dalam setahun, yaitu di Bulan April – Mei dan September – Nopember, masing-masing selama kurang lebih 11/2 bulan. Kelas pembinaan ini ditujukan bagi yang akan menikah minimal 1 tahun ke depan.

Apa saja yang dapat diperoleh dalam Pembinaan Pra Nikah?

Disini para pasangan akan mengikuti kegiatan-kegiatan seperti Assessment, Seminar, Talk Show dan juga permainan-permainan simulasi yang akan sangat membantu peserta untuk lebih mengenal diri dan pasangannya masing-masing. Selama kurang lebih 11/2 bulan, para pasangan juga akan didampingi oleh para mentor yang selalu siap untuk mensharingkan kehidupan pernikahan mereka yang rata-rata telah berjalan lebih dari 5 tahun, sehingga dapat menjadi tempat bertanya yang baik bagi para peserta.

Sebagai puncaknya, di akhir pembinaan akan diadakan retreat luar kota yang selama ini terbukti efektif untuk mengendapkan seluruh materi pembinaan yang telah berlangsung di Jakarta. Di retreat ini, para peserta akan mendapatkan banyak kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati dengan pasangannya masing-masing dan mengevaluasi hubungan mereka selama ini. Sepulangnya dari retreat, setiap peserta diharapkan untuk lebih mengenal pasangannya masing-masing dan menjadi semakin siap dalam memasuki pernikahan.

 

Apa saja yg akan dibahas di Kelas Pembinaan Pra Nikah?

I. Understanding  Self Awareness:

  1. Membantu  pasangan untuk mengenal siapa dirinya dan keunikannya.
  2. Membuka wawasan pasangan untuk memahami konsep dan tujuan pernikahan Kristen.
  3. Materi:

1. Mengapa menikah?

2. Tujuan pernikahan Kristen

II. Understanding other needs:

  1. Membantu pasangan untuk memahami adanya perbedaan kebutuhan yg harus dikerjakan bersama2 dalam pernikahan dengan membangun “jembatan perbedaan”.
  2. Materi:

3. Latar belakang keluarga dan masa lalu

4. His needs and her needs

5. The love of money

6. Purity & sexuality

7. Anak perjanjian titipan Allah

8. Mengasihi, menghormati orang tua dan mertua

9. Komunikasi & konflik

III. Understanding God’s will:

  1. Membantu peserta untuk bergumul kembali bersama Tuhan apakah saya orang yang tepat untuk menikah dengannya sesuai dengan kehendak Tuhan?
  2. Membantu peserta untuk membuat perubahan2 dalam perbaikan relasi sesuai dengan firman Tuhan    sebelum mengambil keputusan menikah.
  3. Menolong peserta untuk memahami pentingnya kehidupan spiritualitas dalam relasi pernikahan.
  4. Materi:

10. Kekuatan dari sebuah Janji Nikah

11. Spiritualitas suami istri

12. Visi dan transformasi keluarga

 

JADWAL Pembinaan Pra Nikah April – Mei 2012

  • Jakarta, pada tgl 22 April – 20 Mei 2012, setiap hari Sabtu,
    Pk.16.30 – Pk.19.00 dan Minggu, Pk.12.00 – Pk.15.00.
  • Retreat, pada tgl 26 – 27 Mei 2012, berangkat Pk.07.00.


STAND PENDAFTARAN
Hari Minggu, tgl 26 Februari & 4 Maret 2012,
di Lobby GKK (Jl. KH. Zainul Arifin no: 9)
Pk.10.00 – 11.00 & Pk.12.00 – 13.00.

PENGISIAN ASSESSMENT
–         Minggu, 11 Maret 2012, Pk.13.00
–         Sabtu, 17 Maret 2012, Pk. 15.00

SYARAT-SYARAT
1. Diprioritaskan bagi pasangan yang akan menikah antara Bulan Januari  – Juni 2013
2. Melengkapi data-data formulir pendaftaran kelas pembinaan Pra Nikah
3. Sudah dibaptis atau sidi (lampirkan fotokopi akte baptis atau sidi)
4. Melampirkan foto berdua (background merah), uk. 4 x 6 (2 lembar)
5. Fotokopi KTP masing-masing
6. Melunasi biaya pembinaan Pra Nikah
Anggota GKK sebesar Rp. 500.000/pasang
Non Anggota GKK sebesar Rp. 600.000/pasang
7. Setiap peserta wajib mengikuti seluruh acara pembinaan Pra Nikah

Catatan:
Form Pendaftaran dapat diambil di Lobby GKK, Kantor Sekretariat GKK (Ibu Liana) atau Rohaniwan masing-masing pos (pada tanggal 12 & 19 Februari 2012).  Paling lambat penyerahan Form Pendaftaran pada tanggal 4 Maret 2012.

Contact person: Jessica, Janti

YUNUS DIPAKAI UNTUK BANGSA-BANGSA LAIN

YUNUS DIPAKAI UNTUK BANGSA-BANGSA LAIN – MISI SEDUNIA

Yunus 4 Kitab Yunus, adalah salah satu kitab dalam Perjanjian Lama yang sangat jelas dan kuat mengajarkan tentang pelayanan Misi kepada bangsa lain. Dan Yunus adalah nabi Tuhan yang diutus untuk masuk dalam pelayanan misi untuk bangsa lain. Membaca pasal yang keempat dari kitab Yunus, menunjukkan kepada kita sikap Yunus, mengapa ia tidak bersedia diutus untuk menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Ninewe. Sebab, Yunus tidak menghendaki pertobatan bangsa ini tetapi menginginkan Ninewe yang selalu melakukan kekerasan dan kejahatan ini (termasuk kepada Israel), dibinasakan. Sikap yang tentu bertentangan dengan tugas dan panggilan yang dikehendaki Tuhan atas pelayanan Yunus. Tentu firman Tuhan ini, tidak sekedar menceritakan kisah nabi Yunus, tetapi ini adalah firman Tuhan yang juga ditujukan kepada kita sebagai jemaat Tuhan. Ada dua hal penting yang dikemukakan dalam teks firman Tuhan ini:

1. Pelayanan Misi adalah pelayanan untuk Semua Bangsa dan didasarkan pada Kehendak TUHAN serta demi Tujuan TUHAN. (ayat 1-9) Alkitab menyaksikan dengan jelas, bahwa ada umat TUHAN yang mempunyai pandangan yang keliru tentang panggilan pelayanan misi kepada bangsa-bangsa lain. Alkitab terang-terangan menyaksikan ada pelayan yang pikirannya masih sempit. Oleh karena nasionalisme yang dangkal serta pemahaman tentang kasih Allah yang sangat tipis. Akibatnya ialah, ketidaktaatan terhadap panggilan misi. Dan kalaupun kemudian melakukan pelayanan misi, tetap saja dilakukan dengan keinginan yang berbeda dengan keinginan dan tujuan TUHAN. Firman Tuhan menghendaki Yunus untuk harus masuk dalam pelayanan misi, dengan tujuan memberitakan firman Tuhan, supaya manusia berdosa bertobat dan diselamatkan. Perhatikanlah Amanat Agung Tuhan Yesus dalam Injil Matius 28:19-20: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Bagian firman Tuhan ini mengingatkan kita sebagai umat TUHAN. Bagaimana dengan kita? Apakah kita, gereja kita juga melaksanakan panggilan Misi? Dan kalau melaksanakan, apakah hanya untuk lingkungan sendiri? Serta apakah dilaksanakan dengan kerinduan seperti kerinduan TUHAN?

2. Pelayanan Misi adalah pelayanan yang didasarkan pada belaskasihan TUHAN atas orang berdosa (ayat 10-11) Memperhatikan keseluruhan pasal dalam kitab Yunus dan secara khusus pasal yang keempat, Nampak bahwa pelayanan misi kepada bangsa-bangsa lain adalah pelayanan yang didasarkan pada hati kasih (ayat 10-11). Kebenaran ini disinggung oleh Yunus dalam ayat 2, bahwa TUHAN adalah Allah yang pengasih dan penyayang. Panjang sabar serta berlimpah kasih setia. Injil Yohanes 3:16, menegaskan prinsip ini; “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Pertanyaan penting bagi kita ialah bagaimana dengan program pelayanan misi yang kita laksanakan? Apakah hanya sekedar program? Ataukah sebuah panggilan pelayanan yang kita lakukan atas dasar kasih?

Pada minggu kelima yang adalah minggu misi dalam lingkungan GKK, marilah kita melayani dengan didasarkan pada, kehendak serta tujuan Tuhan atas kita serta melayani dengan hati penuh kasih.

Oleh : Pdt. Dennie Olden Frans

PERTOBATAN NINIWE

Yunus 3
Allah berfirman agar Nabi Yunus pergi ke Niniwe dan berseru agar Niniwe bertobat. Namun jiwanya yang picik tidak mampu menerima kenyataan bahwa Allah juga mengasihi bangsa-bangsa lain. Hatinya yang dengki tidak sanggup membayangkan bangsa Niniwe diselamatkan. Itu sebabnya pikirannya yang degil itu lalu mencari cara untuk menjauhi Allah. Dia melarikan diri ke Tarsis. Apakah kedegilan hati dari seorang Nabi Allah dapat membatalkan rencana kekal Allah bagi Niniwe? Mari kita lihat rencana Allah bagi bangsa Niniwe

1. Allah Mengasihi Niniwe (ayat 1-3 )
Allah adalah Allah yang panjang sabar Sifat ini hampir selalu dikaitkan dengan sifat kasih sayang dan kemurahan Allah terhadap orang berdosa dan pemberontak, Niniwe sebenarnya patut terkena murka Allah. Namun kesabaran Allah yang membuat Allah tidak langsung memberikan penghukuman kepada Niniwe. Pemberian waktu dan tempat bagi manusia dengan maksud agar mereka bertobat.Panjang sabar Allah adalah kesempatan yang diberikan untuk bertobat. ” Allah sangat mengasihi manusia, tetapi di sisi yang lain, Allah tidak berkompromi dengan dosa.

2. Allah bekerja di dalam diri orang Niniwe, sehingga mereka bertobat (ay 5-8). 
Sejak kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, maka manusia selalu ada keinginan untuk berbuat dosa dan tidak akan mau bertobat.Manusia tidak mempuyai kesadaran untuk melepaskan diri dari dosa kalau Allah tidak bekerja di dalam dirinya untuk menginsafkan manusia dari dosa. Manusia itu mati secara rohani dan karena itulah maka ia tidak akan mau dan tidak akan bisa bertobat secara sendiri. Hanya kalau Allah bekerja dalam diri manusia, maka barulah manusia itu bisa percaya / bertobat . Orang-orang Niniwe mau mendengarkan teguran Tuhan dan lalu bertobat, menunjukkan bahwa Tuhan telah bekerja dalam diri mereka, karena karya Tuhanlah yang membuat orang Niniwe merasa bahwa mereka telah berdosa.

3. Berharap Adanya Pengampunan Tuhan.(ayat 9-10)
Orang Niniwe menyadari akan kejahatan mereka dihadapan Allah sehingga mereka tidak dapat tahu apakah Allah akan mengampuni kesalahan mereka atau tidak. Kedaulatan kekal Allah menentukan keberadaan kita namun Kedaulatan kekal Allah itu tidak meniadakan tanggung jawab manusia untuk melakukan bagian mereka masing-masing. Hal ini terlihat dimana orang-orang Niniwe mereka berusaha dan berharap dapat melunakkan hati Tuhan dengan berdoa dan berpuasa.

Berespon akan teguran Tuhan atas kehidupan adalah suatu keharusan yang perlu diperhatikan.Bertobatlah jika Firman Tuhan itu menegur kita , jangan pernah mengeraskan hati dihadapan Tuhan,jika kita tidak mau mengalami cambukan yang keras yang Tuhan berikan kepada setiap orang yang keras hati.

Oleh :

Pnt.K. Lily Ester

Doa Syukur Atas Pergumulan Hidup

Referensi Kotbah 08 Januari 2011
Yunus 2

“Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!” Yunus 2:9

Biasanya bila kita belum pernah terjepit, mengalami kesesakan atau dalam keadaan yang menakutkan, kita sulit mengucap syukur kepada Tuhan. Seringkali Tuhan mengijinkan kita mengalami masalah dan masuk dalam kegelapan agar kita mengerti dan menyadari bahwa hanya Tuhan yang sanggup melepaskan. Namun terkadang saat kita mengalami ujian berat kita putus asa, lari meminta pertolongan manusia dan meninggalkan Tuhan.
Ketika Yunus mengalami ujian berat dan berada di ujung maut karena “…tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya.” (Yunus 1:17), ia berseru kepada Tuhan dari dalam perut ikan itu dan mengarahkan iman pengharapanannya kepadaNya, “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.” (Yunus 2:2).
Iman kita perlu diuji kadarnya. Bila tiada kesulitan, tentu semua orang bisa mengucap syukur dan bersorak-sorai. tetapi saat kita diijinkan mencicipi kesulitan/penderitaan, bisakah kita mengucap syukur dan tetap fokus pada Tuhan? Jangan sekali-kali berpegang pada kekuatan sendiri atau berharap pada manusia, nanti kita akan kecewa dan terluka. Jalan terbaik adalah berseru kepada Tuhan dan menanti-nantikanNya saja. Ketuklah pintu hati Yesus dengan seruan yang keluar dari dalam jiwamu yang letih lesu seperti yang dilakukan Yunus, “Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.” (Yunus 2:7).
Jangan mengeluh dan menggerutu! Ucapkanlah syukur walaupun gelap pekat menyelubungi kita dan secercah sinar pun tiada. Yunus yang seharusnya sudah dicerna dalam perut ikan sanggup ditolong Tuhan dan dikeluarkanNya hidup-hidup. Dalam Dia selalu ada jalan keluar! Lalu Yunus bersyukur dan berkata, “…yang kunazarkan akan kubayar. ..” (Yunus 2:9).
Pernahkan kita bernazar apabila Dia sanggup menolong kita? Sudahkah kita memenuhinya?
– Diambil AIR HIDUP RENUNGAN HARIAN
“Berserulah Kepada Tuhan”

Panggilan Tuhan Terhadap Yunus

Referensi Kotbah 08 Januari 2011

Yunus  1

“Datanglah firman Tuhan kepada Yunus … Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepadaKu.”    (Yunus 1 : 1-2)

            Kita di dunia ini bukan suatu kebetulan. Tuhan menciptakan dan menempatkan kita di dunia untuk menggenapi rencanaNya melalui panggilan khusus yang Tuhan sudah siapkan bagi kita. Panggilan Tuhan dalam hidup kita bukan untuk dilupakan atau diabaikan melainkan harus dikerjakan. Ia mau supaya kita hidup dan menjalani panggilan itu untuk kebaikan kita, kebaikan orang lain serta kemuliaan namaNya (Efesus 2 : 10).

          Dalam Yunus 1 : 1 – 17,  kita menemukan bahwa Tuhan memiliki panggilan terhadap Yunus. Melalui panggilan Tuhan terhadap Yunus, ada banyak hal yang dapat kita pelajari, beberapa di antaranya adalah :

1.     Tuhan memiliki panggilan kepada setiap orang (1 : 1-3) Panggilan Tuhan terhadap Yunus supaya pergi ke Niniwe dan memberitakan pertobatan merupakan pergumulan yang berat baginya. Bahkan Yunus pun membenci orang-orang Niniwe, mengapa ? Karena bangsa Niniwe adalah bangsa yang sangat jahat (Yun 3:8) dan sadis / penumpah darah (Nahum 3:1). Bangsa Israel  pernah ditawan dan diperlakukan kejam oleh orang Niniwe.  Oleh karena itu, sulit bagi Yunus untuk mentaati panggilan Tuhan melayani orang Niniwe. Yunus tidak terima kalau Tuhan menginginkan orang-orang Niniwe bertobat dan bebas dari hukumanNya. Bagi Yunus, bangsa Niniwe itu jahat maka pantas dihukum dan dibinasakan. Tetapi Allah justru sangat mengasihi orang-orang Niniwe dan menginginkan mereka bertobat.

Penerapan : Seperti Yunus, Tuhan juga punya panggilan kepada setiap orang termasuk kita. Allah rindu semua orang mengetahui kasihNya. Oleh karena itulah, Tuhan memanggil kita untuk mengasihi dan melayani setiap orang, termasuk orang-orang yang menurut kita tidak pantas untuk dikasihi dan layani.  Mungkin mereka adalah orang-orang yang berbuat jahat kepada kita / yang menghianati kita / mempersulit hidup kita, dll.  Atau bahkan mereka adalah keluarga atau sahabat yang sudah melukai perasaan kita.  Maukah kita belajar mengasihi, seperti Tuhan mengasihi semua orang ?

 2.     Resiko menolak panggilan Tuhan (1 : 4 – 17)

Respon Yunus terhadap panggilan Tuhan adalah tidak taat sehingga ia melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan (ayat 3a). Pada waktu itu, mereka beranggapan bahwa Tarsis adalah ‘ujung bumi’, sehingga untuk pergi ke Tarsis Yunus harus belayar selama satu tahun. Yunus  berpikir dengan melarikan diri ke Tarsis ‘ujung bumi’, maka ia bisa lari dari panggilan Allah. Yunus lupa bahwa Allah Mahatahu, di manapun kita  berada Tuhan hadir di sana (Mazmur 139 : 7-10). Yunus juga tidak menyadari bahwa ketidaktaatannya terhadap panggilan Allah membawa resiko bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya yaitu nyawa mereka terancam bahaya.

Penerapan : Memenuhi panggilan Tuhan bukan berarti tanpa pengorbanan, karena kita harus keluar dari zona nyaman dengan segala resiko yang ada. Meskipun begitu, TAAT pada panggilan Tuhan adalah pilihan terbaik apapun resikonya – berat tapi jadi berkat !  Sebaliknya, jika menolak panggilan Tuhan tentu ada resikonya seperti Yunus mengalami masalah bahkan menjadi sumber masalah bagi orang lain. Bagaimana respon kita panggilan Allah, Apakah kita mau taat secara langsung seperti Maria, ‘. . .  jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Lukas 1: 38); Atau memilih seperti Yunus, kita mau taat setelah dipaksa / dihajar / dididik Tuhan ?

“Dalam perjalanan hidup ini, kita merasa sudah berkorban banyak hal  untuk taat pada panggilan Tuhan. Ternyata, ini adalah sebuah pemahaman yang keliru. Sebenarnya bukan kita  yang berkorban banyak untuk Tuhan tetapi justru Tuhan yang meresikokan diri lebih besar dengan mempercayakan pelayanan yang mulia kepada kita. Segala sesuatu  dapat Tuhan lakukan sendiri dengan sempurna tanpa bantuan kita, namun Tuhan ajak kita bersama-sama untuk melakukannya. Itu sebab setiap pelayanan yang ada biarlah kita melihat sebagai sebuah anugerah, apapun itu. Kita melakukannya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia ataupun gereja sehingga engkau tidak akan pernah kecewa” (saduran tulian Pdt. Yohan Candawasa).  Marilah kita benar-benar mendengar dan melakukan apa yang Tuhan mau, maka Tuhan akan memberkati pelayanan kita, dan orang lainpun akan mendapatkan berkat dari pelayanan yang ada.

  

Oleh :

Ibu  Relly  Rajagukguk 

1 29 30 31 32 33