Kristus Berkuasa Memenuhi Kebutuhan Manusia

Yohanes 6 : 1 – 14

Kitab Yohanes sangatlah ingin membuktikan bahwa setiap pelayanan Yesus adalah karya Allah yang mulia. Oleh sebab itu peristiwa dalam kitab Yohanes ini mau menyatakan bahwa segala karya pelayanan-Nya agar orang-orang percaya kepada Kristus sebagai Mesias, Anak Allah, dan supaya oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yoh 20:31). Bahkan Yesus menyaksikan diriNya sendiri barang siapa yang percaya kepadaNya akan pindah dari alam maut ke dalam hidup (Yoh 5:24)

Peristiwa memberi makan lima ribu orang merupakan salah satu pelayanan Tuhan Yesus yang dilakukan saat itu. Banyak orang mengikuti Dia saat itu menyaksikan mujizat-mujizat penyembuhan dari sakit. Betapa besar perhatianNYA kepada orang banyak saat itu sehingga karya-karyaNya ingin membuktikan bahwa Yesus utusan Allah. Ini sangatlah membutikan kuasa yang ada di dalam diriNya. Ketika Yesus melihat orang berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus “dimanakah kita akan membeli roti, supaya mereka mendapat makan?”.  Walaupun pertanyaan  Yesus untuk menguji muridNya, sebab Ia sendiri tahu apa yang akan dilakukan (ay. 5-6). Penyatan ini berbeda dengan Injil yang lain membuktikan siapa sesungguhnya Yesus anak ALLAH.  Tentunya untuk memberi makan untuk orang sebanyak itu uang seharga 200 dinar (mata uang romawi, 1 dinar  upah kerja orang  satu hari). mau mengatakan bahwa apa yang dimiliki tidak akan cukup walaupun mereka mendapat bagian kecil (ay.7).

Tetapi Andreas saudara Simon Petrus berkata: “ada seorang anak yang mempunyai lima roti dan dua ikan, tetapi apakah artinya untuk orang sebanyak ini? (ay. 9). Dalam peristiwa itu akhirnya Yesus mengambil roti dan mengucap syukur dan membagi-bagikan kepada yang duduk sampai mereka kenyang dan dikumpulkan potongan-potongan menjadi 12 (dua belas) bakul penuh (ay 11-13). Akhirnya dari pelayanan Yesus orang-orang yang melihat mujizat itu berkata “Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia” (ay. 14).

Melalui peristiwa memberi makan limaribu orang pesan penting yang harus kita pelajari dalam perenungan ini: pertama: Tuhan Yesus memperhatikan kebutuhan manusia, dalam pelayanan-Nya ternyata bukan hanya sekedar kebutuhan rohani tetapi kebutuhan jasmani yang Yesus perhatikan. Banyak pemimpin yang cuek, tidak peduli dengan umat. Tetapi melalui pelayanan ini Yesus ingin murid-muridNya peduli dengan kebutuhan umat. Kedua, Tuhan mampu memenuhi kebutuhan manusia, ketika manusia memahami pergumulan dan kebutuhannya sangat diperlukan, ternyata Tuhan mampu memenuhi kebutuhan manusia. Tuhan tidak perlu dipaksa, di suruh-suruh, bahkan sering manusia iri, kuatir terhadap apa yang dimiliki, tetapi Tuhan Yesus mampu memenuhi kebutuhan manusia. Walaupun jalannya harus berkelak-kelok, butuh kesabaran dan kesetiaan agar Tuhan memenuhi kebutuhan kita.  Ketiga;  melalui peristiwa memberi makan lima ribu orang sangat jelas mau mengatakan umat agar bergantung/menggantungkan diri dalam rencana Allah. Sering banyak manusia menjalani hidup ini kurang bergantung, tentunya sikap ini salah jika kita memahami kita tidak membutuhkan Allah, tanpa Allah saya bisa. Tetapi melalui peristiwa ini kita diingatkan bahwa Allah lebih tahu apa yang kita perlukan. Oleh sebab itu, jangan melepaskan diri dari anugrah Allah, tanpa pertolongan dan rencana Allah kita bukan apa-apa, kita hanya manusia yang menjalankan kehendak-Nya.

Melalui minggu Pra-paskah ke-3 mengingatkan kita kembali akan kuasa Kristus memenuhi kebutuhan manusia. Kristus tidak hanya memenuhi kebutuhan jasmani atau rohani. Tetapi Yesus mengetahui setiap kebutuhan kita. Mungkin kebutuhan yang tidak kita ungkapkan dan pikirkan. Oleh sebab itu untuk mengertai kuasa-Nya ada adalah kita mengandalkan dan terus percaya kepadaNya dalam kehidupan ini. Dalam setiap keadaan dan kondisi, biarlah kita percaya kepadaNya mengalahkan kondisi yang ada.   Selamat merenungkan dan melakukan Firman Tuhan dalam minggu pra-paskah.

 

 

Oleh :

Bp. Andri Wahyudi

Kristus Berkuasa Atas Segala Penyakit

Yohanes 4 : 46 – 5 : 9

Keluarga besar Gereja Kristus Ketapang dalam 7 minggu ini, dalam suasana pra Paskah, sedang membahas Seri 7 Mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus di kitab Yohanes.  Pada hari ini seri yang kedua dengan tema: “Kristus berkuasa atas sakit penyakit” diambil Yohanes 4:46 – 5:9, tentang Yesus menyembuhkan anak pegawai istana dan penyembuhan pada hari Sabat di kolam Betesda. Namun, dalam waktu yang singkat kita fokuskan pembahasan pada “penyembuhan pada hari Sabat di kolam Betesda”.

Pada hari raya orang Yahudi, di Yerusalem dekat pintu gerbang domba,  ada sebuah kolam, namanya Betesda.  Artinya: Rumah Anugrah.  Di situ terdapat 5 serambi.  Dan di serambi-serambi tersebut banyak orang sakit.  Mereka yang buta, yang timpang dan yang lumpuh.  Mereka menantikan goncangan air kolam itu.

Apa yang mereka nantikan dalam goncangan kolam itu?  Pada saat itu ada sebuah cerita bahwa ada arus bawah tanah di kolam itu yang menimbulkan gelembung-gelembung udara sehingga air kolam bergoncang. Masyarakat percaya bahwa goncangan-goncangan itu disebabkan karena malaikat Tuhan turun.

Bagi kita yang hidup di jaman modern ini, sepertinya hal seperti itu hanya merupakan suatu tahayul belaka. Tetapi kepercayaan semacam itu agaknya tersebar luas di dalam masyarakat kuno.  Banyak mereka yang percaya kepada roh-roh tertentu baik roh jahat maupun roh yang baik.  Roh-roh tersebut mempunyai tempat tinggalnya masing-masing seperti di pohon, sungai, bukit, kolam dan beberapa tempat tertentu lainnya.

Dan di dekat kolam itu ada seseorang yang sakit 38 tahun lamanya.  Ketika Yesus melihat orang itu, bertanyalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”  Orang itu tidak langsung menjawab “ya atau tidak”.  Tetapi ia menyadari keterbatasannya, bagaimana caranya ia turun ke dalam kolam itu? Seolah-olah ia berkata “kapan saya bisa mendapat kesempatan?”

Namun, Yesus berkata kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah”.  Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu, lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan.  Tetapi hari itu adalah hari Sabat.

Pelajaran apa yang dapat kita ambil melalui nats ini? Bahwa: Kristus berkuasa atas sakit penyakit.  Kuasa Yesus tidak dibatasi oleh ruang, waktu lamanya sakit, maupun beratnya sakit penyakit tersebut.  Sumber kuasa dan kesembuhan tersebut ada di dalam pribadi Tuhan, bukan kolamnya, airnya atau hal-hal yang lain.  Nats ini mengungkapkan tentang ketidakmampuan manusia dan kekuasaan Kristus.  Jangan sampai alat, menjadi  lebih utama dari Tuhannya.

Bagaimana pemahaman dan pengajaran tentang kesembuhan untuk masa kini?  Mengapa di antara orang-orang yang didoakan, ada yang satu sembuh total, sedangkan ada pula yang tambah parah bahkan meninggal dunia.  Apakah imannya kurang, sedangkan yang sembuh imannya lebih mantap.  Dalam hal ini janganlah kita terlalu cepat menarik kesimpulan.

Di dalam bagian Firman Tuhan yang lain Bartolomeus disembuhkan dari kebutaan karena imannya – “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau”, sementara Rasul Paulus yang tidak diragukan lagi imannya, tidak sembuh dari ”duri dalam daging”.  Apalagi orang Gerasa, bukan hanya tidak beriman tetapi mereka adalah orang-orang yang kerasukan setan, namun tetap Tuhan sembuhkan.

Bukankah di dalam nats ini juga banyak orang yang tidak disembuhkan – (ay. 3) – “dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu”.  Jadi jawaban tentang kesembuhan Ilahi adalah kedaulatan Tuhan.  Dia bebas berdaulat melakukan sesuai dengan kehendakNya.  Di dalam Roma 11: 33-34: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan- jalanNya.  Sebab siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?  Atau siapakah yang pernah menjadi penasehatNya?”

Jadi adalah benar bahwa bukan iman yang besar yang kita perlukan, tetapi beriman kepada Allah yang besar.  Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya                    (I. Yoh. 5:14).

Dan puncak dari pengajaran Firman Tuhan tentang kesembuhan adalah kesembuhan rohani.  Apa artinya kesembuhan jasmani bila kerohanian kita buta.  Seperti 9 orang kusta yang sembuh dari penyakit jasmani tetapi tidak sembuh dari penyakit rohani.  Mereka tidak tahu berterima kasih dan tidak mengalami Tuhan sebagai sumber dari kesembuhan tersebut.

Berbahagialah yang tidak melihat namun percaya.  Selamat memohon dan berharap hanya kepadaNya!  Tuhan Yesus memberkati.

Oleh :
Pdt. Setiawan  Sutedjo

Ps Maranatha GKK

P1350927

Mari bergabung melayani bersama kami di dalam Paduan Suara.

Call : 081286561125, 08129107620 untuk informasi.

 

The video cannot be shown at the moment. Please try again later.

The video cannot be shown at the moment. Please try again later.

The video cannot be shown at the moment. Please try again later.

The video cannot be shown at the moment. Please try again later.

The video cannot be shown at the moment. Please try again later.

The video cannot be shown at the moment. Please try again later.

The video cannot be shown at the moment. Please try again later.

The video cannot be shown at the moment. Please try again later.

The video cannot be shown at the moment. Please try again later.

The video cannot be shown at the moment. Please try again later.

 


PS Gabungan dengan Wahana Visi Indonesia dan The Choir Company Belanda – Agustus 2011

Kristus Berkuasa Atas Benda-benda

Yohanes 2 : 1 – 12

Sebuah perjalanan yang mengesankan ketika kami berkunjung ke Israel. Di kota Kana kami beribadah di Gereja Kana. Ini mengingatkan peristiwa yang dahulu dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dalam ibadah tersebut ada acara peneguhan keluarga (suami-isteri) yang mau rekomitmen pernikahan mereka kembali.

Dalam Firman Tuhan ini, Yesus dan murid-muridNya diundang ke pesta perkawinan di Kana, juga ibuNya, Maria. Pasti yang punya hajatan tidak pernah menduga hal kekurangan itu terjadi. Sama halnya, tidak ada orang didalam perjalanan hidup dan rumah tangganya tahu bakal ada masalah, pergumulan yang menyakitkan. Namun sekalipun masalah tidak juga diundang, ia datang, dan itulah kejadian yang kadang-kadang kita hadapi.

Apa yang dilakukan oleh Ibu Yesus pada Yesus meminta tolong padaNya, dan Ibu Yesus menyampaikan pada para pelayan yang ada di situ : “apa yang dikatakan padamu, buatlah itu.” Itu adalah sebuah Petunjuk dan perintah dari sang Ibu yang penuh tanggung jawab. Dan para pelayanpun mendengarkan dan melaksanakan apa yang disuruh Sang Juruselamat itu, walaupun terasa aneh dengan mengisi Guci / Tempayan dengan “air”. Aneh bukan, tapi nyata. Orang butuh anggur, masa disuruh isi air, namun para pelayan menjalankan perintah Yesus dengan mengisi, sebab dengan penuh keyakinan akan ada jalan keluar.

Apa yang terjadi ? Air putih berubah menjadi Anggur, bahkan anggur yang terbaik sesuai dengan pengakuan tamu undangan yang hadir, “:Engkau menyimpan air anggur yang terbaik sampai sekarang” (ayat 10). Yesus berkuasa atas benda-benda, dalam hal ini : air dalam guci berubah menjadi anggur.

Luar biasa apa yang akan terjadi bagi orang percaya dan mau melakukan kehendakNya, pasti yang terbaik selalu hadir baik dalam rumah tangga maupun di dalam kehidupan ini. Yesus tidak pernah mempermalukan setiap orang percaya padaNya, maka Ia akan tolong jikalau kita meminta kekuatan dan petunjuk padaNya.

Nyatakan persoalanmu pada Yesus dan hadirkanlah Yesus ditengah pergumulan hidup dan keluarga. Jangan disimpan masalah itu, sebab lambat laun akan meledak dan persoalan itu semakin sulit untuk menyelesaikannya. Yesus sanggup menyelesaikan masalahmu sampai tuntas ketika engkau datang dan menyerahkan kepadaNya. Apa yang diserahkan kepadaNya akan diambil alih dan diubah menjadi baik dan indah. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

 

Oleh :
Pdt. Adieli Waruwu

Kasih Yang Mempersatukan dan Menyempurnakan

Kolose 3 : 14

Terjemahan Baru : “Dan diatas semuanya itu kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”

Jemaat Kolose merupakan hasil pelayanan Jemaat Efesus yang bertobat oleh Paulus maka kedua surat tersebut hampir separuh ayat muncul di Surat Efesus dan juga Surat Kolose. Sekalipun Paulus tidak bersentuhan langsung dengan Jemaat Kolose namun tetap mendorong jemaat untuk menjalani hidup kudus yaitu dengan proaktif 3 cara yaitu :
1. Matikan (manusia lama; cara hidup lama yang duniawi);
2. Tanggalkan (menanggalkan kain kafan dosa dan kehidupan lama) dan
3. Kenakanlah (mengenakan jubah kekudusan dan kehidupan baru di dalam Kristus).
Dan penekanan dari ketiga kalimat perintah ialah motivasi.

Mengapa kita harus mematikan dan menanggalkan perbuatan-perbuatan lama dan mengenakan sifat-sifat hidup yang baru? Paulus mendorong Jemaat Kolose dan pembaca Alkitab untuk berjalan dalam hidup yang baru adalah kasih. (Roma 6 : 4).

Sayangnya kata kasih dalam jaman sekarang sudah kena degradasi. Bahkan kata “Love” mungkin adalah salah satu kata yang paling disalah gunakan, disalah mengertikan dan disalahpahami dalam kosa kata bahasa Inggris dimana budaya pop telah mengeksploras kata love dengan menggunakan banyak lapisan seperti seks (berita Metronews.com, Pacitan : Jelang hari Valentine, paket cokelat berisi kondom beredar di Pacitan, Jawa Timur, Senin (13/2). Harganyapun terbilang murah) ini fenomena tidak dapat lagi membedakan antara Love vs Lust (cinta kasih yang memberi dibanding dorongan nafsu yang meminta), pengkhianatan dan banyak lagi malahan menjadi komoditas bisnis. Yang perlu ditelaah ialah apa yang menjadi dasar, dorongan atau motifnya ?

Kembali pada Kolose 3 : 14
Motivasinya Kasih Karunia ALLAH yang adalah pemberianNYA untuk orang-orang berdosa yang tidak layak menerimanya dan apa yang telah ALLAH kerjakan yaitu Kasih Karunia dalam hidup orang percaya. Kata Kenakanlah Kasih melebihi kebaikan yang disebut Kebajikan yang utama dalam orang percaya, kalimat teknis yaitu fungsi dari ikat pinggang yang menyatukan semua kebajikan yang lain (belas kasihan; kemurahan; kerendahan hati; kelemah-lembutan; kesabaran dan pengampunan). Itulah aspek-aspek dari Kasih Kristen. Mengingat renungan minggu lalu I Korintus 13 dimana Kasih adalah buah pertama dan diikuti kebajikan-kebajikan lainnya. Bila kasih memerintah dalam hidup orang percaya, semua kebajikan akan dipersatukan sehingga terlihat indah dan harmonis yang menunjukkan kedewasaan rohani yang pastinya mempertahankan keseimbangan dan pertumbuhan hidup.

Renungkanlah kata bijak dari Martin Luther King Jr, Saya memutuskan untuk tetap konsisten dengan kasih karena kebencian sungguh merupakan beban yang terlalu berat untuk ditanggung. Jika kita tidak memilih mengasihi orang lebih daripada yang patut diterimanya, maka tidak seorangpun akan pernah mengungkapkan cinta kasih.
Oleh :
Bp. Hilton Tantra

Yang Paling Besar Di antaranya Ialah Kasih

I KORINTUS 13 : 1-13

Bulan Februari, tepatnya tanggal 14 banyak orang merayakan hari Valentin. Kaum muda khususnya memanfaatkan ini untuk menyatakan cintanya kepada orang-orang yang mereka sukai. Dengan demikian hari Valentin menjadi cenderung identik dengan cinta romantic antara pria dengan wanita. Padahal dari sejarahnya hari Valentin merupakan hari peringatan orang suci Valentin dari Gereja Katolik yang pada tahun 1969 peringatan ini dicabut dengan alasan secara sejarah tidak banyak yang diketahui dari pribadi Valentin ini.

Walaupun demikian banyak orang termasuk gereja masih memanfaatkan hari Valentin ini untuk mengungkapkan kasih sayang. Karena itu gereja-gereja pada umumnya menganggap hari Valentin sebagai produk budaya umum dan hari Valentin dimanfaatkan untuk menjelaskan Kasih dengan makna Kristiani seperti khotbah dan renungan pada hari ini.

Dalam 1 Korintus Kasih diungkapkan sebagai yang terbesar. Mengapa demikian? Pemikiran Paulus ini bukan muncul dari dirinya pribadi. Ini adalah pengajaran Alkitab secara keseluruhan. Dalam Perjanjian Lama ayat yang mewakili adalah Imamat 19:18. Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan agar orang percaya mengasihi Allah dan manusia (Mat 22:37-40; Mrk 12:28-34; Luk 10:25-28). Jadi kasih kepada Allah yang secara sederhana berkaitan dengan kerohanian seseorang harus terwujud dalam tindakan kasih kepada sesama manusia.

Pemikiran utama di atas dipakai oleh Paulus untuk menegur jemaat di Korintus. Mereka terlalu mengutamakan karunia pelayanan yang mereka punya dan lakukan. Dalam ayat 1-3 Paulus menyebutkan lima karunia yaitu bahasa roh, bernubuat, mengetahui rahasia dan memiliki pengetahuan, iman dan berbagi. Jika hal-hal tersebut dilakukan tanpa kasih semuanya sia-sia! Dalam ayat 4-7 Paulus menguraikan ciri-ciri kasih yang semuanya secara unik mendorong jemaat Korintus untuk mempraktekkannya karena mereka terlibat dalam perselisihan antara golongan (1Kor 3:1-9) dan karenanya mereka belum dianggap dewasa rohani (ayat 11 bdk. 3:1-3). Jadi melakukan pelayanan dengan karunia bukan berarti seseorang telah dewasa rohani! Orang yang dewasa rohani melakukan pelayanan karena kasihnya kepada Allah dan sesama bukan karena kasihnya kepada kegiatannya itu sendiri.

Hal berikut yang menjadi alasan Paulus adalah bahwa pada akhirnya karunia melayani akan tidak diperlukan lagi karena karunia adalah alat yang tidak sempurna untuk melayani dunia yang tidak sempurna. Tetapi kasih masih akan ada dalam relasi manusia bahkan sampai akhir zaman nanti. Karena kasih adalah dasar paling utama dari etika kehidupan Kristen. Dengan demikian hiduplah dan melayanilah dengan kasih karena yang paling besar di antaranya adalah kasih.

Pnt.K. Djeffry Hidajat

Kasih Vs Kebencian

Amsal 10 : 12

“Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.” (Amsal 10:12)

Kata “Benci” berlawanan arti dengan kata “Kasih”. Keduanya mempunyai dampak: yang satu negatip dan yang lain positip. Keduanya juga tidak bisa menjadi satu, sebab jika seseorang memiliki kebencian, pasti pada saat yang sama ia tidak mampu mengasihi, sebaliknya jika seseorang mengasihi maka kebencian tidak ada padanya.

Contoh: Ada orang yang saking bencinya terhadap seseorang ia mengatakan: “sampai mati saya tidak akan memaafkan dia, karena ia telah menyakiti hatiku.”
Dalam contoh di atas, kebencian timbul dari sakit hati. Sakit hati seseorang berasal dari bagaimana kita menyikapi (dari dalam diri) terhadap tindakan, perkataan, perbuatan, sikap orang lain.(dari luar diri).Orang tidak dapat mengasihi dan memaafkan karena pada saat ia membenci, ia tidak bisa mengasihi.

Dampak negatip dari kebencian adalah menimbulkan pertengkaran.
Amsal 17:14 memberi peringatan: “Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.”

Kata “kebencian” memiliki arti menganggap orang lain itu sebagai musuh. Sedangkan kata “pertengkaran” memiliki akar kata yang berarti “menghakimi”.

Dengan demikian bagaimana orang bersikap tergantung dari prasuposisi yang ada dalam pikiran dan hatinya. Alkitab berkata: “kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Lukas 6:27b-28)

Ini adalah prasuposisi yang perlu ada dalam hati dan pikiran kita, sebab ayat berikutnya yang menjelaskan mengapa kita bersikap demikian; adalah karena kita adalah anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. (Lukas 6:35b). Sesuai dengan nasihat firman Tuhan: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,…” (Filipi 2:5).

Prasuposisi yang perlu kita bangun adalah menaruh pikiran dan perasaan seperti Kristus. Sebab tanpa prasuposisi ini kita tidak dapat mengasihi ketika diperhadapkan kepada orang-orang yang berbuat jahat, yang merugikan kita, yang melukai hati kita, yang menghina kita, yang menfitnah kita, dan lain sebagainya.

Jangan biarkan kebencian menguasai hidup kita, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih menutupi segala pelanggaran. Kasih menghindarkan kita dari perbuatan dosa yaitu dengan membenci sesama. Kebencian merupakan hal yang sangat serius, I Yoh. 3:15 mengatakan: “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.”

Hiduplah di dalam kasih Kristus, maka kebencian tidak dapat menguasai hidup kita.

Pdt. Martin Elvis.

1 27 28 29 30 31 32