NYANYIAN SYUKUR PARA PEMENANG

Referensi Kotbah 28 Oktober 2018

Wahyu 15 : 1 – 4

Inti Kitab Wahyu adalah KRISTUS YANG MENANG sebagai pusat pengharapan jemaat yang membawa terang fajar bagi umat manusia. Hal ini sejalan dengan tema puncak bulan ibadah dan pujian Gereja Kristus: NYANYIAN SYUKUR PARA PEMENANG. Tepat sekali kita membicarakan Wahyu 15: 1-4, LAI memberi tema: NYANYIAN MEREKA YANG MENANG. Sangat menarik di dalam ayat 3 dikatakan: “Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, …”. Mengapa disebut demikian? Karena nyanyian Musa di dalam Kitab Keluaran pasal 15 yang mendasari nyanyian dalam Wahyu 15: 3-4 ini.

Kapan Musa menyanyikan nyanyian itu? Keluaran 15 menuliskan bahwa Musa bernyanyi bersama umat Israel setelah berhasil menyeberangi Laut Teberau. Pada saat itu Musa sudah berpikir bahwa mereka tidak akan selamat. Mereka berhadapan dengan laut sementara tentara Firaun sedang mengejar mereka. Tidak ada pilihan lain selain mati tenggelam atau mati karena senjata prajurit Firaun. Namun kemudian yang terjadi adalah laut terbelah dan mereka berhasil selamat ke seberang sementara prajurit Firaun malah mati tenggelam. Semuanya ini dimungkinkan karena tangan dan kuasa Tuhan yang kuat.

Dalam Wahyu pasal 15, si penulis yaitu Yohanes dalam penglihatannya melihat sekumpulan besar orang yang berhasil keluar dari kesusahan besar, orang-orang kudus yang menang atas segala godaan, dan menyembah Tuhan Allah.

Maka bukanlah suatu kebetulan jika nyanyian Musa ini dinyanyikan kembali oleh orang-orang kudus dalam Wahyu 15 sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Mereka mengalami penderitaan dan tekanan yang begitu hebat di dalam dunia ini “tujuh malapetaka terakhir” (15: 1). Mereka merasa riwayatnya akan tamat menghadapi kuasa dan kejahatan dunia yang kejam, tetapi ternyata tidak. Tangan Tuhan yang kuat menyelamatkan sehingga “di tepi lautan kaca itu berdiri orang-orang yang telah mengalahkan binatang itu dan patungnya dan bilangan namanya” (15: 2) dan “Pada mereka ada kecapi Allah” (15: 2b). “Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya:
Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu,ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa!
Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!
Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan,dan yang tidak memuliakan nama-Mu?
Sebab Engkau saja; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman-Mu.” (15: 3-4)
Nyanyian ini juga sering kita nyanyikan di dalam ibadah-ibadah kita. Apa yang menarik dari nyanyian ini? Jika kita perhatikan dengan seksama di dalam nyanyian itu, ternyata tidak ada ada satu pun kata atau kalimat yang bercerita tentang diri manusia sendiri. Tidak ada kata yang melukiskan tentang kehebatan dan keperkasaan manusia. Namun, yang dinyatakan, dinyanyikan dan diserukan adalah keperkasaan, kejayaan, dan kemuliaan Allah yang telah menyelamatkan dan memberi mereka kemenangan.
Nyanyian itu mengungkapkan pengakuan kekal bahwa Allah yang telah menyelamatkan, membebaskan dan memberi mereka kemenangan. Nyanyian Musa dan Nyanyian Anak Domba Allah saling berkaitan. Dalam Perjanjian Lama nyanyian Musa dinyanyikan dalam setiap upacara pengorbanan domba Paskah memperingati kebebasan umat Israel dari tanah Mesir. Sementara dalam Perjanjian Baru, Anak Domba adalah sebutan untuk Yesus Kristus – Nyanyian Anak Domba. Pembebasan yang Allah demonstrasikan melalui Musa dalam Perjanjian Lama adalah fakta sejarah yang mengarahkan kita pada suatu pembebasan dan kemenangan sempurna dan sejati dalam Perjanjian Baru yaitu pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib membebaskan manusia dari dosa. Amin, terpujilah Tuhan!
Marilah kita terus berjuang dalam iman, meninggikan dan mengagungkan Tuhan Yesus Kristus dalam hidup kita. Mensyukuri kemenangan dalam Yesus Kristus melalui nyanyian pujian dan pengagungan kepada-Nya. Demikianlah Rasul Paulus dan Rasul Yohanes menasehatkan agar jemaat Tuhan “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa” (Roma 12:12) dan “Hendaklah engkau setia sampai mati (akhir), dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahyu 2: 10b).

SELAMAT HIDUP BERKEMENANGAN DI DALAM KRISTUS!

~ Pdt. Setiawan Sutedjo ~