Nyanyian Pemulihan

Referensi Kotbah 29 Oktober 2017

Mazmur 85 : 1 – 14

Bulan Oktober adalah bulan musik dan pujian dalam lingkungan Sinode Gereja Kristus. Bersyukur pada Tuhan bahwa kita semua dapat memasuki minggu terakhir di bulan ini. Sebagaimana sudah disampaikan dalam tema kotbah-kotbah sebelumnya Pujilah Tuhan hai sorga dan bumi, Nyanyian Musa dan Israel, Nyanyian Debora, Nyanyian Pengharapan dan hari ini tentang Nyanyian Pemulihan.

Nas hari ini terambil dari kitab Mazmur 85 yang berisi tentang Doa mohon Israel dipulihkan. Dari judul perikop ini maka tersirat bahwa bangsa Israel sedang dalam keadaan yang tidak atau kurang baik sehingga memohon agar bangsanya dipulihkan. Hal ini terlihat dalam ayat 5: “Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami.”

Bangsa Israel dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk. Mereka seringkali berontak kepada Tuhan, padahal mereka selalu menikmati kebaikan dan pemeliharaan Tuhan. Ketika mereka mengalami kesulitan dan penderitaan akibat kesalahan mereka, barulah mereka ingat Tuhan dan memohon belas kasihan-Nya untuk memulihkan keadaan mereka. Pemazmur mengatakan: “Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun? Apakah Engkau tidak mau menghidupkan kami kembali, sehingga umat-Mu bersukacita karena Engkau?” (Mazmur 85:6-7)

Untuk mengalami pemulihan, Bangsa Israel tidak boleh berdiam diri saja. Ada hal-hal yang harus mereka lakukan.

Firman Tuhan dalam 2 Tawarikh 7: 14 menuliskan, “…dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” Melalui ayat ini, ada tiga hal yang menjadi kunci untuk pemulihan terjadi (diambil dari Air Hidup Renungan Harian) yaitu:

1. Merendahkan diri. Memiliki kerendahan hati adalah syarat mutlak mengalami pemulihan karena Tuhan sangat menentang orang yang congkak atau tinggi hati. Saat kita merasa mampu, tidak butuh bantuan orang lain, merasa lebih baik, saat itulah awal kehancuran kita. Ingat! Di luar Tuhan kita tidak dapat melakukan apa-apa.

2. Berdoa. Ini adalah wujud ketergantungan kita kepada Tuhan. Seperti ranting yang selalu melekat pada pokoknya, kita harus selalu melekat (intim) dengan Tuhan melalui doa-doa kita. Hanya orang-orang yang senantiasa karib dengan Tuhan yang akan beroleh kekuatan dan terus bertumbuh, daunnya tidak pernah layu, tetapi selalu menghasilkan buah pada musimnya.

3. Mencari wajahNya dan berbalik dari jalan yang jahat. Bila kita ingin mengalami terobosan baru dalam hidup ini, kita harus tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita. Dengan melakukan kehendak Tuhan berarti kita tidak lagi berkompromi dengan dosa alias bertobat dengan sungguh. Perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri, tanpa perubahan kita tidak mungkin mengalami sesuatu yang baru.

Mereka memohon Tuhan memberikan kasih setia dan memberi keselamatan serta mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah. Mereka menyadari bahwa dengan bertobat dan berbalik kepada Allah sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia (10). Maka ketika mereka kembali kepada Tuhan, Tuhan akan memberikan kebaikan dan negeri kita akan memberi hasilnya serta keadilan akan berjalan di hadapan-Nya (13-14).

Bila hidup kita berkenan kepada Tuhan, maka Dia akan memulihkan kita!
Tuhan memberkati!

~ Pdt. Setiawan Sutedjo ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *