Nyanyian Debora

Referensi Kotbah 15 Oktober  2017
Hakim-hakim 5 : 1 – 31

Bangsa Israel dalam kondisi sangat liar. Dalam Hak. 21:25 kita melihat saat itu mereka berbuat semaunya sendiri. Karena keliaran Israel, Tuhan mengirim bangsa lain yang jauh lebih kuat untuk menindas dan menyadarkan mereka: dari segi persenjataan Israel kalah jauh dari pasukan Yabin, yang dipimpin oleh panglima Sisera, yang memiliki 900 kereta besi.
Israel juga mengalami krisis kepemimpimpian. Ini terlihat dalam pasal 4, tidak laki-laki yang berani memimpin bangsa Israel untuk melawan penindasan Yabin, sehingga Tuhan mengutus Debora. Dalam peperangan yang dipimpin Debora (4:15 dst.), Tuhan mengacaukan pasukan Sisera hingga Sisera mati di tangan wanita, yakni Yael, dan Israel memperoleh kemenangan. Dalam konteks inilah muncul nyanyian Debora, sebuah ungkapan syukur atas kemenangan bangsa Israel. Ada dua alasan Debora menyanyikan nyanyian ini:
1. Sebagai ucapan syukur untuk pertolongan Tuhan.
Ayat 4-5 dengan jelas melukiskan betapa berkuasanya Tuhan. Ayat 4 melukiskan bagaimana pasukan Sisera dikacaubalaukan oleh Tuhan, sedangkan ayat 5 melukiskan bagaimana Tuhan memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Jadi Nyanyian Debora ini bukan hanya mengingat pertolongan Tuhan di masa itu namun juga di masa lalu.

Lalu ayat 6 dan 8 secara jelas melukiskan kelemahan dan ketidakberdayaan bangsa Israel. Ketika melihat bagaimana Tuhan menolong mereka mereka menyadari betapa dahsyatnya Tuhan di tengah ketidakberdayaan mereka. Inilah yang mendasari nyanyian Debora dan Barak ini.
Setiap kita dapat merasa tidak berdaya dihadapan masalah yang besar, tetapi Kesetiaan dan Kuasa-Nya adalah kekuatan dan kelepasan kita, asal kita mau mengandalkan Dia.
2. Sebagai ucapan syukur karena Tuhan memampukan Debora memimpin bangsa Israel.
Dalam ayat 11-23 terlihat dengan jelas bagaimana Debora bersyukur bahwa Tuhan memampukan dirinya memimpin Israel. Dalam ayat 14-15 disebutkan bahwa suku Efraim, Benyamin, Makhir, Zebulon, Isakhar, dan Naftali mengikuti kepemimpinan Debora dan Barak. Walaupun ada suku-suku yang tidak ikut namun Tuhan memberikan wibawa kepada Debora untuk memimpin Israel mengalahkan musuh. Seorang wanita dimampukan Tuhan memimpin bangsa Israel, inilah yang disyukuri oleh Debora.
Seringkali kita tidak mau melayani Tuhan karena kita merasa tidak mampu. Namun sesungguhnya bukan ketidakmampuan kita yang menghalangi kita untuk tidak melayani Tuhan namun karena kita kurang mengenal siapa Tuhan yang kita sembah. Debora sangat mengenal Tuhan yang ia sembah, terbukti dengan perkataan Debora dalam penutup nyanyiannya: “Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya”

Bagaimana dengan saudara? Mampukah saudara bersyukur ketika dalam pergumulan? Mampukah saudara bersyukur atas ketidakmampuan saudara? Kalau kita mengenal Allah yang kita sembah maka kita akan mampu mengucap syukur seperti tertulis dalam Efesus 5:20, “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.”

~ Bp. Cahyono Candra ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *