MEREKATKAN KEMBALI HUBUNGAN ANTAR KELUARGA YANG RETAK

Referensi Kotbah, 23 September 2018
Kolose 3:18-21

Surat Kolose adalah surat yang dikenal sebagai surat penjara. Sebab surat ini ditulis oleh Rasul Paulus ketika ia berada dalam penjara, Kolose 1:24, 4:10,18. Dari isi surat, nampak jelas beberapa persoalan yang diperhadapkan kepada jemaat Tuhan, antara lain; ajaran-ajaran yang bertentangan dengan iman Kristen. Ajaran-ajaran yang didasarkan pada filsafat yang kosong, Kolose 2:8. Belum lagi praktek-praktek keagamaan yang bertentangan dengan pola ibadah jemaat Tuhan, Kolose 2:16-23. Selanjutnya, setelah nasihat yang berkaitan dengan ibadah, Paulus mengingatkan bahwa jemaat Tuhan adalah orang-orang yang telah mengalami pembaharuan, manusia baru. Hal menarik selanjutnya ialah nasihat berikutnya yang diarahkan secara rinci terhadap keluarga Kristen. Mengapa nasihat ini muncul? Jawabannya tentu didasarkan pada berita yang diterima oleh Paulus dari Epafras, Kol. 1:7-9. Keluarga Kristen yang masih baru hidup di tengah-tengah lingkungan masyarakat dengan pengaruh-pengaruh budaya serta perkembangan-perkembangan yang tejadi pada masa itu. Keberadaan keluarga-keluarga sangat rawan, sebab beralih dari pola keluarga dari luar kekristenan sekarang menjadi warga gereja. Mengapa nasihat ini muncul begitu kuat dalam surat Kolose termasuk surat Efesus, sebab persoalan penting pada masa itu ialah kehidupan keluarga dan latar belakang keluarga yang bermasalah. William Barclay dalam buku “pemahaman Alkitab setiap hari, Surat-surat Galatia dan Efesus”, khususnya komentar tentang pokok yang sama, tentang nasihat kepada keluarga, menuliskan:

“Pada masa Paulus, kehidupan keluarga dan tumah tangga Romawi pada umumnya mengalami keretakan… Menurut Seneca para wanita tidak menyebut tahun menurut bilangannya tetapi menurut urutan suami mereka… Hironimus membenarkan adanya wanita yang menikah dengan suami yang keduapuluh tiga sedangkan bagi pria itu, wanita tersebut adalah isteri yang ke duapuluh satu.” Keluarga yang retak, hubungan suami-istri yang tidak harmonis, Kehidupan orang tua dan anak yang bermasalah, mewarnai kehidupan pada masa gereja mula-mula. Atas semuanya itu, Paulus menasihatkan keluarga-keluarga kristen yang mengalami keretakan dan menjaga jangan sampai retak, hendaklah mereka melakukan hal-hal berikut:

1. Ayat 18, Isteri kristen adalah isteri yang tunduk kepada suami, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. “tunduk” yang dimaksud dalam pengertian menghargai, menghormati, mentaati suami sebagai kepala keluarga. Selanjutnya ketundukkan itu dijelaskan dalam konteks “sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.”
2. Ayat 19, Suami kristen adalah suami yang mengasihi (agape) isterinya. Kita tentu tahu apa yang dimaksud dengan kasih agape. Kasih yang sedia memberi, rela berkorban, sebagaimana kasih Kristus kepada jemaat-Nya.
3. Ayat 20, Demikian juga halnya dengan anak-anak. Jika ingin tahu hal indah yang dapat ia lakukan ialah, taatilah ayah-ibu dalam segala hal. Yang dimaksud “Segala hal” tentu adalah hal yang di dalam Tuhan, sebab konteks nasihat adalah keluarga kristen.
4. Ayat 21, ada juga pesan khusus bagi bapa-bapa, sebagai ayah dan sekaligus sebagai suami dan kepala keluarga. Jangan sakiti hati anak-anakmu. Banyak persoalan dan keretakan keluarga terjadi oleh karena kekerasan yang dilakukan seorang bapa pada masa gereja mula-mula.

Pertanyaan penting ialah bagaimana dengan keluarga kita?

~ Pdt. Dennie Olden Frans ~