“MENYEMBAH ALLAH DALAM ROH DAN KEBENARAN”

Referensi Kotbah 07 Oktober 2018

Yohanes 4 : 21 – 24

Seringkali orang beranggapan bahwa kalau mereka telah menerima Kristus dan mengalami kelahiran kembali, bertobat dari kehidupan lama mereka, maka dengan sendirinya mereka menyembah Allah dengan cara yang benar, sesuai dengan kehendak Allah dalam Alkitab. Akan tetapi, hal itu tidaklah selalu benar. Mungkin sekali cara kita menyembah Allah, merupakan cara lama kita sebelum kita mengenal Tuhan.
Banyak orang Kristen yang masih membedakan antara kehidupan di hari Minggu dan di hari-hari lainnya. Mereka beranggapan hari Minggu adala hari khusus untuk beribadah kepada Tuhan di gereja dan enam hari lainnya bukan hari untuk beribadah. Pandangan seperti itu sudah jelas bukan pandangan tentang bagaimana seorang percaya beribadah kepada Tuhan sebagaimana diajarkan oleh Alkitab.
Tuhan Yesus menolong wanita Samaria untuk memahami beberapa kebenaran penting tentang ibadah yang benar, yang sesuai dengan keinginan Bapa di Surga:
1. Menyembah Allah hanya dapat dilakukan ketika seeorang memiliki pengenalan secara pribadi terhadap Allah yang disembahnya. Bagaimana mungkin seseorang dapat menyembah Allah dengan benar, jika ia sendiri belum mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya? Wanita Samaria itu beranggapan bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat Samaria yang menyembah Allah di gunung Samaria, sebagaimana diajarkan turun temurun oleh nenek moyang mereka.

Akan tetapi sikap hidup wanita Samaria itu, tidak menunjukkan bahwa ia mengenal Allah yang diajarkan oleh Kitab Suci. Jika seorang mengenal Allah dengan benar, maka orag tersebut pastilah hidup dalam penyerahan dan ketaatan pada Firman Allah. Ia akan rajin mempelajari Firman Allah untuk mengenal Allah dengan benar dan dengan itu ia mengalami perubahan-perubahan hidup sesuai dengan tuntutan/ ajaran Tuhan.
2. Allah adalah Roh yang tidak dibatasi oleh tempat dan waktu. Pengenalan akan natur Allah yang seperti itu memungkinkan orang menyembah-Nya lepas dari tempat tertentu dan waktu-waktu tertentu. Artinya, orang tidak lagi terikat pada tempat tertentu untuk dapat menyembah Tuhan. Ia dapat melakukannya dimana saja dan kapan saja. Wanita Samaria itu masih saja terikat pada tradisi yang membatasinya untuk berpikir bahwa Orang Samaria beribadah di gunung dan Orang Yahudi di Yerusalem. Kebebasan untuk menyembah Allah, dimana saja dan kapan saja, merupakan hak istimewa dan sukacita setiap orang yang mengenal Allah dengan benar, Allah yang hadir dimana saja. Setiap saat, setiap tindakan, setiap tarikan nafas, setiap pikiran, perasaan, dapat merupakan penyembahan kepada Tuhan – jika dilakukan dengan penuh kesadaran akan kehadiran-Nya yang tak terbatas itu.
3. Penyembahan kepada Allah yang sejati, hanya dapat dilakukan melalui Yesus sang Kristus/ Mesias. Hanya Dialah yang dapat memberikan air hidup yang tidak akan pernah berhenti mengalir dalam diri seorang percaya. Air yang terus-menerus membersihkan, mengubahkan seseorang untuk menyembah Tuhan dengan benar. Pengenalan akan Yesus menuntun seseorang pada pengenalan akan Allah yang sejati. Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya dengan jelas kepada wanita Samaria itu: “…Akulah Dia (Sang Mesias)….”, yang akan memberitahukan segala sesuatu kepada umat-Nya. Wanita Samaria itu berubah, ia percaya dan dengan penuh keberanian masuk ke dalam kota untuk mengajak orang-orang bertemu dengan Yesus Sang Mesias itu, karena ia sendiri telah bertemu dengan Mesias secara pribadi.
Marilah kita menyembah Dia dengan cara yang berkenan kepada-Nya. Jadikanlah setiap pikiran, perasaan dan tindakan kita dimana saja, kapan saja, sebagai suatu pujian kepada Allah. Hanya dengan cara itu, kita dapat menyembah Allah dengan benar, sesuai dengan kehendak-Nya. Bapa mencari penyembah-penyembah yang demikian! Amin!

~ Pdt. Albert Adam ~