MENOLAK IBADAH SEMU

Referensi Kotbah 09 Februari 2020
Yesaya 58 : 1 – 12

Ibadah, walaupun sudah berulang kali kita mendengar dan melakukannya, tidak sedikit dari kita yang keliru dalam melaksanakannya atau melupakan hakikat ibadah yang benar di hadapan TUHAN. Bukan hanya bagi kita yang hidup pada masa kini, yang menghadapi lebih banyak gangguan dari pada orang-orang pada masa lalu. Umat Tuhan pada masa lalupun bergeser dari prinsip-prinsip ibadah yang benar. Umat TUHAN pada masa Yesaya telah kehilangan pengertian yang benar tentang ibadah. Fokus mereka dalam beribadah bukan lagi TUHAN, tetapi kepentingan mereka. Ibadah mereka sangat egosentris, berpusat pada diri sendiri. Mereka suka berselisih, melakukan kekerasan pada sesama, bahkan bertengkar dengan sesamanya saat menjalankan ibadah, demi mencapai tujuan mereka (ay. 3b-6a).
Paulus—yang dituntun Roh Kudus—ratusan tahun setelah Yesaya, mengingatkan hal yang sama kepada Timotius agar ia menyadarkan umat Tuhan, bahwa ibadah bukanlah untuk “mencari keuntungan” (1 Tim. 6:5), bukan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi untuk Tuhan, yaitu fokus memuliakan nama-Nya. Kualitas ibadah umat TUHAN dapat merosot menjadi sekadar ritual-ritual kering yang kehilangan jiwanya. Hati umat TUHAN tidak lagi sepenuhnya pada TUHAN.

Ibadah seperti apa yang diinginkan TUHAN?
Tuhan menghendaki ibadah sejati, di mana umat TUHAN datang merendahkan diri di hadapan-Nya, dengan hati yang penuh kerinduan bersekutu dan siap melaksanakan kehendak-Nya. Umat yang mengasihi TUHAN dan sesamanya. Umat yang demikian, peka terhadap kehendak dan tuntunan TUHAN, peka terhadap kebutuhan sesamanya dan punya kemauan untuk melayani sesamanya, menjadi berkat bagi sesamanya (ay. 6, 7, 9b, 10a):
• Umat tidak membiarkan kelaliman membelenggu sesamanya. Mereka berjuang untuk melepaskan orang yang teraniaya dari orang yang semena-mena.
• Umat membagi berkat yang mereka terima kepada sesama yang membutuhkan (makanan, tempat tinggal, pakaian).
• Umat siap maju bagi sesama yang membutuhkan, bukan malah menyembunyikan diri.
• Umat tidak membebani, menuding dan memfitnah sesama mereka.
• Umat berusaha untuk memberi yang terbaik—bahkan apa yang mereka ingini—kepada sesama yang membutuhkan; bukan yang tidak mereka perlukan lagi.
• Umat memuaskan, memberi kelegaan kepada saudara-saudara mereka yang tertindas.
Tindakan nyata seperti itulah yang sesungguhnya ibadah yang memuliakan TUHAN, menghormati nama-Nya dan yang diinginkan-Nya!
Ada janji yang menyertai ibadah yang seperti itu (ay. 8,9a, 10b -12): Kebenaran dan kemuliaan TUHAN melingkupi umat, TUHAN menjawab seruan-seruan mereka, di tengah kegelapan selalu ada terang, tuntunan TUHAN selalu tersedia bagi mereka, TUHAN memuaskan mereka di tengah kesulitan, TUHAN membaharui kekuatan mereka, mereka menjadi sumber yang tidak pernah mengecewakan bagi sesama, mereka bahkan dapat memulihkan, membangun “reruntuhan yang terbengkalai.”
Sudahkah ibadah kita sesuai dengan ibadah yang diinginkan TUHAN? Bagaimana kita tahu bahwa ibadah kita benar-benar berkenan kepada TUHAN? Mari kita bangkit dari ibadah semu, yang kering dan mematikan, kepada ibadah yang hidup, yang memberkati dan diberkati. Soli Deo Gloria!

~ Pdt. Albert Adam ~