MENJADI AGEN ALLAH

 

Referensi Kotbah 20 Januari 2019

Yesaya 62 : 1 – 12

Pada mulanya pemberitaan Yesaya ditujukan bagi suku Yehuda yang telah mengalami penyakit-penyakit moral dan rohani. Walaupun masih beribadah, tetapi mereka sebenarnya tidak lagi mengikut Tuhan. Untuk itulah Yesaya memanggil mereka supaya bertobat agar tidak mendatangkan hukuman atas diri mereka.
Di sisi lain, Yesaya mengimbangi pemberitaannya ini dengan berita keselamatan dan rencana pembaharuan Allah untuk bangsa Israel yang membawa pengharapan dan penghiburan bagi mereka. Di dalam nas ini Yesaya mengungkapkan:

Menuju Sion yang Baru (ay. 1, 6, 11)
Sion disamakan dengan Yerusalem sebagai pusat keagamaan dan sekaligus lambang surga (Leon-Dufor, Ensiklopedi Perjanjian Baru, hlm. 513; lihat juga 2 Sam. 5:7, Yes. 2:2-3, Rm. 11:26, Ibr. 12:22, Why. 14:1). Tuhan telah menjanjikan pemulihan bagi Sion, sebuah berita kelepasan bagi Israel. Sesungguhnya, pengharapan yang Tuhan janjikan ini adalah sebuah pengharapan akhir zaman. Kita tidak tahu kapan dan bagaimana Tuhan akan mewujudkan janji itu. Apakah dengan demikian berarti umat hanya berdiam diri dan menunggu Tuhan untuk mewujudnyatakan janji-Nya? Dalam ayat 6-7 dituliskan bahwa Tuhan ingin agar kita terus berdoa dengan tekun sampai janji Tuhan jadi kenyataan. Tuhan mendorong kita untuk terus berdoa sehingga doa menjadi pola pikir dan gaya hidup kita yang kemudian membuat hidup kita terarah dan berfokus pada janji pemulihan Tuhan itu, hingga Tuhan mewujud nyatakan Sion yang baru.

Ini sejalan dengan pengajaran Tuhan Yesus dalam Lukas 11:9-10; 18:7. Doa yang sungguh-sungguh dan tekun harus menjadi salah satu ciri kehidupan orang beriman.

Keintiman seperti Suami-Istri (ay. 4-5)
Hubungan Tuhan dengan umat digambarkan seperti suami-istri. Setelah menerima Kristus kita memiliki status yang baru sebagai mempelai perempuan kudus-Nya. “Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” (2 Korintus 11:2b).
Dalam masa menantikan kedatangan Sang Mempelai beberapa hal haruslah kita perhatikan. Pertama-tama sudah seharusnyalah kita hidup dalam kekudusan. Menjaga kekudusan dan kesucian adalah hal utama bagi seorang calon mempelai apalagi kita sebagai mempelai Kristus (1 Petrus 1:15-16). Hidup dalam kekudusan berarti tidak berkompromi dengan dosa; tidak mencemarkan diri dengan kehidupan duniawi; tidak menyerahkan anggota tubuh kepada dosa untuk dipakai senjata kelaliman, sebab “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” (Galatia 5:24). Kedua, kita harus setia menantikan kedatangan-Nya. “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6). Tanpa kesetiaan kita akan mudah kecewa dan berubah sikap, jika yang dinanti-nantikan itu belum kunjung datang.

Menjadi Agen Allah
Pada akhirnya, ayat 10-12 menggambarkan pemulihan Sion sebagai kesaksian bagi bangsa-bangsa. Perlahan namun pasti, seluruh sejarah menuju momen ini. Melalui kehidupan doa dan kehidupan yang bersukaria, marilah kita ambil bagian dalam karya Allah merestorasi dan menjadi agen Allah untuk dunia ini, menuju Sion yang baru.
Tuhan sudah memakai Israel, Yesaya dan hamba-hamba-Nya yang lain, sementara kita hidup di dunia, menunggu pemulihan dan penggenapan Sion yang Tuhan janjikan, apakah kita menyediakan diri untuk dipakai oleh Tuhan menjadi agen Tuhan bagi dunia ini? Menjadi berkat untuk keluarga, gereja, negara dan bangsa-bangsa.

Selamat menanti dan melayani!

~ Pdt. Setiawan Sutedjo ~