MENGINJAK BUMI, BERPIKIR SORGAWI

Referensi Kotbah 04 Agustus 2019

Kolose 3 : 1 – 11

Sinode Gereja Kristus (SGK) menetapkan bulan Agustus sebagai bulan budaya berkenaan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus. Sebuah ucapan syukur bahwa kita hidup di negara dengan beragam budaya tetapi tetap bersatu dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Pada minggu pertama ini, tema yang dipilih adalah: “Menginjak Bumi, Berpikir Sorgawi” dengan maksud mengajak kita membicarakan tentang suatu keseimbangan, karena seringkali orang Kristen bersikap dalam dua (2) ekstrim: “membumi” dan “sorgawi”. Bila memilih ekstrim “membumi” dan kontekstual kadangkala dapat menjadi kompromi. Bila mengambil ekstrim “sorgawi” seringkali menjadi tidak bisa bergaul dengan mereka yang berbeda dengannya (eksklusif/ tidak membumi). Pada titik inilah kemudian timbul masalah teologi dan etika. Lalu bagaimana orang percaya dapat hidup secara seimbang dan proposional? Untuk itu melalui nas hari ini, paling tidak ada tiga (3) hal yang dapat kita pelajari dalam menyikapi hal tersebut:
1. Status dan identitas orang percaya (ay. 1-4)
Dalam bagian Firman Tuhan ini, Paulus secara berturut-turut mengacu pada peristiwa-peristiwa penting dalam karya keselamatan Yesus Kristus, yakni: kematian, kebangkitan dan kedatangan-Nya yang kedua. (1) Dibangkitkan bersama dengan Kristus. (3) Mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus.

(4) Kristus menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia. Perhatikan kata: bersama dengan, artinya: kita dipersatukan dengan Kristus, melalui iman dan baptisan. Inilah status dan identitas orang percaya: Bersama dengan Kristus, sampai di dalam kekekalan.

2. Gaya/ cara hidup orang percaya (5-14), terdapat dua (2) perintah utama:
Menanggalkanlah manusia lama serta kelakuannya: (5-9):
(5) Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala. (8) Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor. Inilah latar belakang hidup jemaat Kolose (7), yaitu: manusia lama yang harus ditanggalkan, karena semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang orang durhaka) (6).
Sebaliknya: Mengenakan manusia baru (10-14).
(10) Yang terus menerus di perbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar … karena itu, sebagai orang orang pilihan Allah yang di kuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran (12) dlsbnya. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (14).
Sebagai orang percaya, kita diajak untuk berpikir perkara yang di atas bukan yang di bumi (2). Orang percaya wajib memusatkan pikiran mereka pada perkara-perkara rohani, dan memberi prioritas pada pencarian hal-hal rohani di atas hal-hal duniawi. Kita harus dapat memahami dan membedakan manusia lama dan baru, mempunyai kerinduan untuk menghidupi kehidupan manusia baru yang terus menerus diperbaharui, dan mau diproses oleh Tuhan.

3. Kemajemukan – Keberagaman
Bagaimana hidup orang percaya di tengah masyarakat yang majemuk? Tentu tidaklah mudah, karena kita sebagai orang Kristen sekaligus juga sebagai anak bangsa Indonesia. Dengan mengingat semboyan Bhineka Tunggal Ika, maka patutlah kita tetap bersatu sebagai bangsa yang majemuk. Hidup bersama dalam perbedaan sebagai suatu kekayaan. Disinilah kita perlu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Kita harus dapat bekerja sama dalam perbedaan, bertoleransi dalam pergaulan namun tetap tidak berkompromi dalam hal-hal yang prinsip. Di dalam situasi seperti inilah kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Garam memang kecil bahkan kemudian larut namun “mengasini”, memberi cita rasa dan berpengaruh mencegah kebusukan dunia serta menjadi terang yang “menyinari”. Demikianlah kita menjadi saksi-saksi Kristus sesuai dengan Firman-Nya bahwa: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum taurat dan kitab para nabi.” (Mat. 7: 12). Selamat bersinar dan menjadi berkat!
~ Pdt. Setiawan Sutedjo ~