Mengasihi Karena Dikasihi

 

Referensi Kotbah 29 April 2018
1 Yohanes 4 : 7 – 21

Kitab-kitab Injil menuliskan bahwa Yohanes adalah saudara Yakobus, anak Zebedeus. Yesus memanggil mereka berdua di danau Galilea (Mrk. 1:19, Mat. 4:21, Luk. 5:10). Ia adalah salah satu murid yang dekat dengan Yesus, (Yoh. 13:21-23). Yohanes dikenal seperti saudaranya Yakobus sebagai murid yang berani dan bersemangat (Mrk. 3:17). Keberanian dan kasihnya kepada Yesus membuatnya menjadi satu-satunya murid yang berdiri di bawah kaki salib Yesus ketika Yesus disalibkan (Yoh. 19:26-27). Namun demikian, Yohanes juga dikenal sebagai rasul yang penuh kasih. Hal itu nampak dalam surat 1-3 Yohanes, surat-surat yang sangat sarat dengan ajaran tentang kasih. Tema “Mengasihi karena Dikasihi” tidak sedang menyatakan prinsip balas-membalas, sebab apa pun yang dilakukan oang pecaya, tidak dapat membalas kasih Tuhan. Tema ini mau mengungkapkan bahwa orang yang telah menerima kasih Allah di dalam Kristus pasti mengasihi Allah dan sesamanya. Bagian Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 4:7-21 mengemukakan beberapa prinsip penting berkaitan dengan tema “mengasihi karena dikasihi”.

1. Mengasihi adalah ciri kehidupan anak-anak Allah (ayat 7-10)
Ayat 7 dengan sangat jelas mengungkapkan bahwa kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah. Orang kristen atau pengikut Kristus seharusnya adalah orang-orang yang telah dilahirkan kembali sebagai anak Allah dan orang-orang yang mengenal Allah (Yoh. 1:12).

Jika ia adalah anak Allah dan mengenal Allah, ia pasti hidup dalam kasih Allah. Jika ia hidup dalam kasih Allah, maka ia pasti mengasihi sesamanya, sebab itu kasih adalah ciri dari kehidupan anak-anak Allah. Penegasan ayat 7 diulangi dalam ayat 8, “Barangsiapa tidak mengasihi (atau dapat diterjemahkan: “tidak memiliki kebiasaan mengasihi”), ia tidak mengenal Allah.”

2. Mengasihi adalah tanda adanya hubungan orang percaya dengan Allah (ayat 11-16)
Ayat 11-16 menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi kita dapat melihatnya melalui perbuatan kasih yang kita tunjukkan kepada sesama. Tindakan mengasihi sesama adalah tanda nyata adanya hubungan antara Allah dan umat-Nya, sebab Allah adalah kasih. Hal ini ditegaskan berulang kali dalam frasa, “Allah di dalam kita” dan “kita di dalam Allah” (ayat 13, 15, 17) yang menunjukkan hubungan yang sangat dekat. Jika Allah yang adalah kasih diam di dalam kita dan kita di dalam Dia, maka sudah pasti mengasihi menjadi hal yang dilakukan kepada sesama, sebab Allah telah menyatakan kasih-Nya kepada kita dengan mengutus Anak-Nya (ayat 14).

3. Kasih sejati pasti terwujud dalam tindakan nyata (ayat 17-21)
Rasul Yohanes, setelah menguraikan hal-hal penting berkaitan dengan kasih, sekarang menyatakan bahwa kasih bukan hanya teori atau sesuatu yang ada di dalam hati, dipikirkan dan direnungkan. Kasih mesti terwujud dalam perbuatan nyata. Mengasihi juga adalah prinsip yang diperintahkan untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. “Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (ayat 21).

Satu pertanyaan penting: bagaimana dengan kita?

~ Pdt. Dennie Olden Frans ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *