MENGALAMI PENYERTAAN ALLH DALAM MASA KRISIS

23 Juni 2019

I Raja-raja 19 : 8 – 18

Dari sudut kesehatan mental, krisis terjadi dalam hidup seseorang ketika ia memandang bahwa masalah yang sedang dihadapinya lebih besar daripada kemampuan mengatasi masalah itu. Akibatnya, ia seperti tenggelam dalam kekuatiran yang besar dan ketakutan. Bisa jadi krisis yang dahsyat bahkan membuat orang berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
Elia yang telah bekerja giat sekali untuk TUHAN merasa bahwa tidak satu pun usaha pelayananya membuahkan hasil seperti yang diharapkannya. Israel tidak datang kepada TUHAN dan penguasa sama sekali tidak berubah, sekalipun melalui Elia TUHAN telah melakukan banyak mujizat. Ada kesenjangan besar antara harapan Elia dan kenyataan yang TUHAN izinkan dia alami. Yang kelihatannya akan dia peroleh bukannya sukses, malah kematian mengerikan yang terbayang di matanya. Elia melarikan diri, tujuannya Gunung Horeb, mencari TUHAN di tempat TUHAN pertama kali menemui Musa. Dalam perjalanannya, di suatu tempat di gurun Bersyeba, Elia berdoa bagi dirinya sendiri kepada TUHAN: Cukuplah itu! … ambillah nyawaku, sebab aku tidak lebih baik dari pada nenek moyang ku” (19:4). Itulah krisis hidup Elia!
TUHAN adalah Konselor yang Agung, ia mengerti bagaimana menolong hamba-Nya, yang mencari-Nya. Kita dapat melihat tahapan-tahapan pelayanan TUHAN, Sang Konselor Agung (Wonderful Counselor – Yesaya 9:5) dalam menolong Elia:

1. TUHAN menerima Elia apa adanya. Elia nabi TUHAN yang luarbiasa dipakai TUHAN itu, ternyata juga sangat rapuh:
a. Elia lari dari ancaman kematian dari Izebel, tetapi Elia juga berpikir untuk mati saja. Ironis!
b. TUHAN mengirim malaikatnya untuk mendampingi Elia dalam perjalanannya, dua kali menjamunya dengan makanan dan minuman (ay. 5-8)
c. Ketika Elia sampai di gunung Horeb, TUHAN membiarkan Elia beristirahat, tidak mendesak Elia segera menghadap-Nya (ay. 9a)
2. TUHAN melayani Elia; TUHAN tidak menghakimi Elia dengan kata-kata yang keras, apalagi menghukumnya karena ia meninggalkan pelayanannya dan melarikan diri, demi keselamatan dirinya sendiri:
a. Pertanyaan pertama: “Apa kerjamu di sini, hai Elia?” (ay. 9b). Menolong Elia mengeluarkan semua kekesalan hatinya – semua alasan yang dipikirkannya selama ini, lewat mulutnya sendiri; menolong Elia untuk melihat sendiri (refleksi) fokus melihat pada poin-poin masalah yang sedang dihadapinya.
b. TUHAN menyatakan diri-Nya lebih dalam kepada Elia – mengingatkan Elia pada peristiwa Musa di gunung yang sama. Frase “Maka TUHAN lalu”, di ayat 11, menggunakan kata yang persis sama ketika TUHAN menyatakan kemuliaan-Nya di hadapan Musa (Kel. 33). Menolong Elia melihat dan mengingat Kebesaran TUHAN – yang melampaui apapun (ay. 11-12).
c. TUHAN mengulang pertanyaan yang sama (ay. 13), setelah memperlihatkan kemuliaan-Nya kepada Elia. Menolong Elia untuk menyadari bahwa ia tidak sendiri, ada TUHAN yang dahsyat yang menyertainya untuk menghadapi masalahnya. Ia tidak bersandar pada kekuatannya sendiri.
3. TUHAN mengutus Elia kembali ke tengah pelayanannya, memberikan tugas baru kepada Elia, dan memberitahu bahwa masih ada 7.000 orang yang tidak pernah menyembah Baal. Elia tidak sendiri (ay. 15-18)
Sebagai Konselor Agung, TUHAN mengembalikan Elia ke tengah pelayanan yang tidak berbeda dengan sebelumnya. Tantangannya sama, ancamannya sama, namun dengan tugas yang baru. Elia telah belajar satu hal, yang memampukannya menghadapi semua itu, dengan sikap yang benar.
Apakah saudara sedang mengalami krisis atau sedang kuatir karena sedang melihat kemungkinan datangnya krisis dalam hidupmu, keluargamu, kelompokmu di tempat kerja dan lingkunganmu? TUHAN adalah Konselor Agung yang mampu dan mau menolongmu. Cari wajah-Nya! Bertekunlah dalam doa dan nantikanlah Dia! Dengarkan suara-Nya, taati Firman-Nya, lihat kebesaran-Nya yang melampaui segala persoalanmu.
Dia sanggup dan mau menolong kita semua! Amin!

~ Pdt. Albert Adam ~