Meneladani Krendahan Hati Kristus

Referensi Kotbah 25 Maret 2018

Filipi 2 : 5 – 11

Kerendahan hati bukan suatu kata yang menarik untuk banyak orang saat ini. Corak hidup di tengah budaya yang terus-menerus menggembar-gemborkan gaya hidup narsistik merasuk ke kehidupan banyak orang, tidak terkecuali orang Kristen juga. Gaya hidup narsistik – yang selalu ingin menjadi pusat perhatian, penghormatan, pemujaan dari orang lain; sulit menerima kritik – telah menjadi tren abad ke-21 ini. Berbagai media sosial telah memfasilitasi penyebaran corak hidup ini dan bahkan memberikan contoh-contoh bagaimana seseorang bisa mendapatkan perhatian, komentar-komentar yang menyanjung dirinya, pujian-pujian, dengan intensitas yang besar meng-upload gambar dirinya dengan berbagai gaya, berbagai latar belakang tempat/lokasi, berbagai menu makan pagi, siang, dan malam. Pada tingkat tertentu, gaya hidup ini tanpa disadari meningkat menjadi kebutuhan dan tuntutan yang mengarah pada ketergantungan dalam diri seseorang.

Dosa, sekali lagi, telah menunjukkan kekuatan tipu dayanya, dengan diam-diam menyusup dengan kedok budaya zaman now! Banyak anak yang dibesarkan dengan ketidakseimbangan antara pujian dan teguran dan hukuman. Mereka akhirnya melihat bahwa hidup adalah semata sebagai pengejaran penghormatan, penghargaan, pujian – entah dari orangtua maupun orang lain. Sukses adalah nilai tertinggi yang harus dikejar. Tidak jarang yang menghalalkan berbagai cara, mengorbankan apa pun – termasuk, kalau perlu, menggadaikan Tuhan – untuk mencapainya, karena sukses dipercaya selalu akan membuahkan pujian, penghargaan, dan pujaan dari orang-orang di sekitarnya.

Bukankah hal ini mengingatkan kita pada satu pribadi yang jatuh ke dalam dosa kekal karena kesombongannya, dan karena semarak keindahannya ia merusak hikmatnya dan mengabaikan penyembahan kepada Allah, ingin mengejar pujian dan penyembahan bagi dirinya sendiri, menyamakan diri dengan Allah (Yes. 14:12-14; Yeh. 28:12-17)?

Kita seharusnya waspada terhadap hal seperti ini. Kita perlu selalu mengevaluasi diri sendiri dan bertanya apa yang selama ini memotivasi hidup kita dalam berkarya, melayani, mengisi waktu luang? Sejauh mana ketergantungan kita terhadap kesenangan dipuji, dipuja, dihargai oleh orang-orang di sekitar kita? Bagaimana saya menghadapi kritikan dan penolakan?

Teladan hidup Kristus Yesus bertolak belakang dengan gaya hidup narsistik. Sebagai Allah, Ia dengan penuh kerelaan dan ketulusan mengambil rupa seorang manusia, tanpa mengurangi sedikitpun natur-Nya sebagai Allah. Ia telah menunjukkan kerendahan-hati yang luar biasa: Ia tidak mementingkan diri-Nya sendiri, tidak mencari hormat dan pujian bagi diri-Nya sendiri, Ia menjalani kehidupan seorang hamba yang taat. Sebagai Pencipta dan Pemilik dunia dan isinya, ia rela ditolak dan diihinakan oleh ciptaan-Nya yang telah jatuh dalam dosa; bahkan Ia rela memberikan pengampunan kepada mereka yang tidak hanya menghina-Nya tetapi juga merancangkan kematian-Nya. Ia rela menjadi kutuk untuk mereka dengan menanggung kehinaan salib; Ia menanggung dosa mereka dalam diri-Nya untuk melepaskan manusia dari kematian kekal.

Adakah kita sedang menjadikan Kristus sebagai teladan hidup yang sejati dan sedang menghidupi manusia baru yang terus-menerus diperbaharui sesuai gambar Kristus? Atau jangan-jangan dunia ini dan si jahat telah berhasil mengalihkan fokus hidup kita dari Kristus dan tanpa sadar kita semakin lama justru hidup makin serupa dengan dunia ini? Marilah kita dengan penuh kerendahan hati memohon tuntunan-Nya untuk mengubah arah hidup yang serupa dengan dunia menjadi makin serupa dengan Kristus Yesus. Mulailah, teruskanlah, kejarlah teladan kerendahan hati-Nya! Tolong kami ya Tuhan!

~ Pdt. Albert Adam ~

Leave a Reply