MEMILIKI CARA HIDUP YANG BAIK DI TENGAH BANGSA

Referensi Kotbah 24 Februari 2019

I Petrus 2 : 11 – 17
Jika benar ungkapan: “Hidup kita adalah surat yang terbuka, yang dapat dibaca semua orang,” Apakah yang akan dibaca oleh mereka yang melihat hidup seorang Kristen, pengkikut Yesus Kristus? Bagaimana masyarakat menilai cara hidup orang percaya – Gereja Tuhan – di Indonesia saat ini? Apa image mereka tentang Kekristenan, jika membandingkan dengan kepercayaan mereka? Akankah mereka mengatakan bahwa orang Kristen benar-benar adalah pengikut/ peneladan Kristus Yesus, yang memiliki keunikan tersendiri, atau, mungkinkah mereka akan mengatakan bahwa Kekristenan sama saja dengan semua agama lain?
Saat ini, hampir tidak ada batasan untuk menyaksikan atau mendengarkan peristiwa hidup orang-orang Kristen tertentu yang menjadi icon-publik. Beberapa waktu belakangan ini, kita dikejutkan dengan ada perceraian seorang tokoh nasional – yang fenomenal beberapa waktu yang lalu – bahkan dengan rumor bahwa yang bersangkutan akan menikah kembali, setelah perceraiannya itu. Peristiwa beruntun yang langsung menuai kontroversi dan menjadi perbincangan di seluruh Indonesia dan bahkan di dunia. Tidak hanya itu, mereka yang mengaku Kristen dari kalangan artis, pejabat, bahkan juga yang berstatus Pejabat Gerejawi – pemimpin Gereja. Kasus KDRT dan perselingkuhan dalam rumah tangga artis, kasus suap oleh Pendeta, Kasus perselingkuhan Pemimpin Gereja dan tidak ketinggalan kasus ajaran yang ‘menyimpang’ dari standar Alkitab dan tradisi ajaran sehat. Beberapa kasus ini mencuat, menonjol, menjadikan Kekristenan sebagai sorotan publik.

Mungkin tidak semudah itu menjelekkan Kekristenan, karena masih ada para pejabat Kristen, artis Kristen, Pemimpin Kristen yang memiliki prestasi dan sikap hidup yang baik dan menjadi berkat bagi banyak orang. Namun, berbagai sikap hidup yang tidak sejalan dengan karakter Kristus itu, telah menjadi batu sandungan bagi banyak orang percaya dan orang lain yang belum percaya kepada Kristus. Tidak menutup kemungkinan, ada pihak yang memakai semua itu untuk menjadi alat menghalangi orang datang pada Kristus.
Pesan Petrus kepada orang percaya yang saat itu tersebar di berbagai daerah (1 Pet. 1:1, 2), yang sekarang kita kenal sebagai bagian negara Turki, adalah untuk menolong jemaat Tuhan – sebagai pendatang dan perantau (2:11) – untuk menghidupi nilai-nilai yang telah diajarkan Kristus kepada mereka. Tujuannya, selain untuk menangkal fitnahan, juga dengan sikap hidup yang baik, mereka yang memfitnah dan semua orang lain, tidak menemukan bukti apapun yang sesuai dengan fitnahan mereka bahkan dengan sikap/ cara hidup yang baik itu, orang lain dapat mengenal Kristus Yesus (2:12). Cara hidup yang baik itu mencakup menghindari keinginan daging (2:11), tunduk kepada semua lembaga manusia – karena Allah, dan menghormati mereka yang bukan orang percaya yang berbuat baik (2:14). Petrus menegaskan bahwa itulah kehendak Allah (2:15); dengan berbuat baik, kita membungkamkan kepicikan orang bodoh!
Jika kita hidup benar di mata Allah dan manusia, kita pasti tidak menyalahgunakan kebebasan (2:16), tidak secara diam-diam melakukan berbagai kejahatan. Hidup yang benar-benar merdeka/ bebas hanyalah mungkin dilakukan kalau kita hidup sebagai hamba Allah (2:16). Hanya dengan demikian, kita dapat menghormati semua orang, mengasihi saudara-saudara kita, takut akan Allah dan menghormati pemimpn kita.
Sudahkah kita melakukan semua itu? Sudahkah kita hidup sebagai hamba Allah, sedemikian kita menjadi orang yang benar-benar merdeka, terlepas dari berbagai ikatan dan tipu muslihat kejahatan dan dosa? Bagaimana kita tahu bahwa kita telah hidup sebagai hamba Allah? Dapatkah kita menyebutkan beberapa contoh nyata dari hidup kita sehari-hari, bahwa kita hidup sebagai hamba Allah yang sejati?
Doa: Tuhan Yesus, ajar kami hidup sama seperti Engkau telah hidup dan menang! Amin!

~ Pdt. Albert Adam ~