Memilih Dengan Hikmat Tuhan

 

Referensi Kotbah 12 November 2017
Kejadian 13 : 1 – 18

Memilih adalah bagian tak terhindarkan dalam hidup dan setiap pilihan memiliki dampak, entah besar atau kecil, entah untung atau buntung. Betapa beruntungnya, ketika kita membuat pilihan yang tepat, kebahagiaan bukan hanya kita yang merasakan, tetapi orang lain juga. Tetapi jujur, bukankah kita juga pernah membuat pilihan yang salah sehingga mengecewakan diri sendiri, orang lain, dan bahkan Tuhan? Bahkan ada pula yang mendatangkan penyesalan yang sangat mendalam serta berdampak besar bagi masa depan.
Ada sebuah kisah: Sokrates adalah seorang cerdas yang mempunyai istri yang culas. Suatu hari ketika ia sedang berbincang dengan beberapa murid, si istri terus mengomel dan marah-marah. Ia tidak mempedulikannya, hingga si istri mengambil semangkuk air dan menyiramkannya ke wajah Sokrates. Para murid terkesima dan terdiam, tetapi Sokrates hanya tersenyum, menyeka air di wajahnya, dan kembali berbicara. Akhirnya para murid penasaran dan bertanya, “Guru, mengapa engkau diam saja diperlakukan seperti itu oleh istrimu?” Jawabnya, “Yah, begitulah … setelah terdengar bunyi guntur, bukankah biasanya akan turun hujan?” Di akhir hidupnya, Sokrates mencatat sebuah kalimat yang sangat bijaksana, “Bila kamu memilih seorang istri yang baik, maka engkau akan hidup berbahagia. Tetapi bila engkau memilih istri yang kurang baik, setidaknya engkau akan menjadi seorang filsuf!” Saya percaya, tidak ada orang yang mau mengalami apa yang dialami Sokrates. Ini hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kisah kehidupan akibat salah dalam membuat pilihan.

Nas hari ini dari Kejadian 13:1-8 menceritakan bagaimana Abram dan Lot memilih dan menghadapi resikonya. Kisah ini dimulai ketika Abram, istrinya, segala kepunyaannya, dan Lot meninggalkan Mesir dan mengembara sampai dekat Betel. Abram dan Lot sama-sama sangat kaya sehingga negeri itu tidak cukup luas untuk mereka diami bersama-sama. Untuk menghindari perkelahian, Abram segera memutuskan mereka harus berpisah dan ia meminta Lot memilih. Lot memilih lembah Yordan yang terlihat sangat baik (Kej. 13:10-11). Abram pun mengalah dan menetap di tanah bagian lainnya, di Kanaan.
Apa akibat dari pilihan Lot? Pada akhirnya tempat yang dipilih oleh Lot itu, dimusnahkan oleh Tuhan, yaitu Sodom dan Gomora. Sementara Abram? Secara kasat mata hanya mendapatkan tanah sisa dan terlihat tidak sebaik lembah Yordan yang banyak airnya, tetapi Abram rela untuk mengalah dan menjauhi pertengkaran. Kita melihat bahwa justru Tuhan memberikan yang terbaik bagi Abram (Kej. 13:14, 15).
Pelajaran apa yang kita dapatkan dari kisah Lot dan Abram sehubungan dengan pengambilan keputusan/pilihan? Jangan pernah mengambil keputusan hanya berdasarkan apa yang dilihat oleh mata dan diinginkan hati (ay. 10), tetapi ambillah pilihan setelah Anda benar-benar bergumul di hadapan Tuhan, “Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya” (Maz. 25:12).
Bagaimana dengan hidup kita saat ini? Apakah kita memilih apa yang kita inginkan atau apa yang Tuhan inginkan? Akhir hidup Lot sangat menyedihkan. Jadi, jangan mengulangi kesalahan Lot. Mari belajar dari Abram, mengandalkan Tuhan sehingga di tanah kering sekalipun, Tuhan mengubah ketiadaan harapan menjadi berkat.
Selamat belajar mencari kehendak Tuhan di dalam setiap keputusan! Tuhan Yesus memberkati.

~ Pnt.K. Relly Rajagukguk ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *