Man of Honor

Referensi Kotbah 17 September 2017

Tema ini didasarkan antara lain oleh ayat-ayat Firman Tuhan dalam Ulangan 6 : 4 – 9, Yosua 24 : 15 dan Efesus 5 : 25.
Dari ayat-ayat Firman Tuhan itu kita melihat bahwa kehormatan seorang pria / suami / ayah atau dengan kata lain; layak dihomatinya, seorang pria / suami / ayah, sehingga patut diteladani, terutama apabila dia melaksanakan Firman Tuhan itu; bukan karena keberhasilannya dalam karier ataupun memupuk harta sebanyak-banyaknya.

Kata ‘hormat’ adalah sikap hati seseorang terhadap sesamanya atau kepada Tuhan-nya, yang didasarkan pada standar penilaian tertentu dalam suatu masyarakat atau aturan agama pemeluknya. Seseorang dihormati karena orang tersebut dinilai patut mendapatkan penghargaan tersebut dari dalam diri seseorang atau dari kelompok masyarakat dimana ia berada. Misalnya, seorang terpandang, karena jabatannya sebagai pemimpin dalam masyarakat yang menjalankan kepemimpinannya dengan baik, dan keberhasilannya mendatangkan kebaikan bagi banyak orang, lalu ada lagi seorang yang suka menolong dan memperhatikan orang lain yang dalam kesulitan; mereka dapat dikatakan ‘patut’ atau ‘layak’ mendapat penghormatan dari orang-orang disekeliling mereka. Merekalah ‘men of honor’, dalam masyarakat/ kelompok tersebut.

Jadi, jika ditanya siapakah, ‘Man of Honor?’ yang sesuai dengan kriteria Alkitab? Maka jawabnya: “Dia adalah orang yang takut akan TUHAN dan yang menghormati TUHAN (1 Samuel 2:30).

Dia yang memiliki semangat yang tinggi untuk mengasihi Tuhan dan sesamanya, yang memahami dan menjalankan peran mereka sebagai laki-laki, suami, ditengah keluarga, masyarakat dan lingkungan – dengan integritas rohani yang melingkupi semua bidang kehidupannya. Dia terus-menerus dilatih oleh Tuhan untuk hidup dalam disiplin rohani yang telah diajarkan-Nya (Ibrani 12:1-7), disetiap bidang peran mereka. Dia dihormati orang-orang disekitarnya (bdg. Efs. 5:22-33; 1 Pet. 3:1-7; Ams. 31:10-12, 23; Maz. 128), dia juga dihormati Tuhan (1 Samuel 2:30). Di sisi lain, kita tidak boleh lupa bahwa kehormatan dihadapan Tuhan dan umat-Nya, juga adakalanya menuai hinaan dari dunia ini (2 Kor. 6:8-10). Dalam hal itupun, kehormatan anak-anak Tuhan, tidak pudar, hanya karena penghinaan dari dunia yang tidak mengenal Dia.

Kehormatan sejati merupakan akibat hidup dalam kebenaran dan kasih yang dapat dirasakan oleh banyak orang, akibat dari hidup takut akan Tuhan (Ams. 15:33, 21:21). Tidak ada kehormatan tanpa perjuangan dalam kebenaran-Nya. Maukah kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *