KEPEKAAN TERHADAP PERKATAAN ALLAH YANG MEMANGGIL UMAT-NYA

Referensi Kotbah 14 Januari 2018

Pembacaan Alkitab I Samuel 3 : 1 – 21 menceritakan tentang panggilan Tuhan kepada Samuel.
Samuel yang masih muda dam belum mengerti, datang kepada imam Eli pembimbingnya, karena dia sangka imam Eli yang memanggilnya. Setelah tiga kali hal itu berulang, imam Eli mengerti; Tuhanlah yang memanggil Samuel, karena itu imam Eli menasihati, agar Samuel menjawab panggilan itu dengan berkata “ Berbicaralah Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar”. Samuel melakukan seperti yang dinasehati imam Eli dan Tuhan mengatakan kepada Samuel tentang Tuhan akan menghukum keluarga Eli dengan berat, karena dosa-dosa yang besar dari kedua anak Eli dan dia tidak memarahinya dengan tegas dan keras.

Dari cerita itu kita belajar beberapa hal, yang antar lain :
1. Samuel mau bertanya pada imam Eli dan bersedia meuruti nasihatnya.
Tidak mudah untuk mau bertanya pada seseorang dan kemudian menuruti nasihatnya. Apalagi kalau kita dalam posisi yang lebih tinggi, lebih berpengalaman, lebih berpendidikan, lebih rohani daripada orang yang kita tanya dan akan laksanakan nasihatnya. Perlu kerendahan hati untuk melaksanakannya. Dalam Alkitab diceritakan tentang Musa yang sangat rohani; pernah berbicara dan berhadapan langsung dengan Tuhan, pemimpin besar umat Israel, dapat membuat banyak mujizat di Mesir di hadapan Firaun. Tetapi sekalipun demikian, dia brsedia melaksanakan nasihat Jitro mertuanya.

2. Samuel berani menyampaikan Firman Tuhan yang tidak enak didengar, tentang penghukuman Tuhan kepada imam Eli. Apa yang dilakukan Samuel juga tidak mudah. Kita seringkali tidak berani menyampaikan Firman Tuhan yang tidak enak, apalagi menyakiti orang yang mendengarnya, apalagi orang itu orang yang terhormat, berpengaruh dan berkuasa, mungkin kita segan dan sungkan atau takut. Beranikah kita menyampaikan kebenaran Firman Tuhan dan penghukuman Tuhan yang akan diberikan kepada atasan kita, pemimpin kita yang berbuat curang dan tidak benar? Hal seperti itulah yang dilakukan oleh Samuel setelah dia mendengar Firman Tuhan.
3. Sikap imam Eli ketika mendengar Firman Tuhan yang dikatakan Samuel tentang penghukuman Tuhan terhadap keluarganya. Mendengar itu imam Eli tidak marah, tidak tersinggung, tidak emosional, sebaliknya dia berkata “Dia Tuhan, biarlah diperbuat-Nya apa yang dipandang-Nya baik.” Sikap imam Eli ini, sikap yang dewasa, yang bersedia mendengar Firman Tuhan dan menerimanya sekalipun tidak enak, pahit dan menyakitkan. Tidak mudah untuk dapat bersikap dewasa seperti yang dilakukan imam Eli dalam mendengar teguran, hukuman, sekalipun dari Tuhan.

Jadi dalam semua itu diperlukan kepekaan kita terhadap perkataan Tuhan. Kepekaan untuk mendengar, memahami menerima dan melaksanakannya seperti yang dilakukan Samuel dan imam Eli dalam posisinya masing-masing.

~ Pdt. Em. Kumala Setiabrata ~

Leave a Reply