Kepastian Janji Keselamatan

Referensi Kotbah 28 Januari 2018

Yesaya 40 : 21 – 31

Pernah dikecewakan oleh sebuah janji? Tentu bukan kita saja yang pernah mengalami, namun ada banyak orang di dunia yang pernah merasakan hal tersebut. Sebenarnya apa yang menyakitkan dari janji yang tidak terealisasi? Pupusnya harapan. Ya, harapan yang hilang karena batalnya sebuah janji sering membuat seseorang tidak berani memiliki harapan baru kembali. Tentu hal tersebut dapat dipahami. Hanya saja, yang harusnya menjadi pertimbangan bagi setiap orang ketika menerima janji adalah apakah pemberi janji tersebut adalah seorang yang dapat diandalkan?

Bagaimana dengan janji dari Tuhan? Pada kenyataannya ada orang yang kecewa terhadap Tuhan, kadang mereka menjadi ragu terhadap janji-janji-Nya. Apakah itu berarti Tuhan menjadi tidak dapat diandalkan bagi orang tersebut? Setidaknya inilah yang sedang dialami oleh bangsa Israel. Kenyataan pahit terjadi saat mereka diperhamba oleh bangsa asing. Kecewakah mereka? Tentu saja kecewa. Mereka bahkan merasa hidupnya tersembunyi dari Tuhan dan haknya tidak diperhatikan (ay.27). Lalu bagaimana? Bukankah juga ada banyak orang percaya masa kini juga merasakan yang dirasakan oleh bangsa Israel, merasa tidak diperhatikan oleh Tuhan?

Sesungguhnya bangsa Israel dan orang-orang yang kecewa terhadap Tuhan perlu memahami lebih lagi siapa Tuhan yang mereka percaya. Tuhan bukanlah sembarang Allah dan tidak dapat disamakan dengan ilah-ilah hasil buatan dan imajinasi manusia. Menyamakan Tuhan dengan ilah-ilah dunia sama saja dengan mengerdilkan kebesaran Tuhan.

Mengapa Tuhan bertanya kepada bangsa Israel perihal menyamakan Dia dengan ilah lain? (ay. 18 dan 25). Ilah-ilah lain sesungguhnya merupakan ciptaan dari manusia (ay.19-20). Ilah-ilah tersebut adalah gambaran dari hasrat manusia. Sehingga kehendak manusialah sebenarnya yang menjadi pusat kendali. Hal ini berbeda dengan gambaran Allah di sepanjang perikop ini, bahwa Allah yang mengatur bumi dan alam semesta, Allah jugalah yang mengendalikan hidup bangsa dan pemimpin-pemimpin dunia. Jadi jelas, ini sangat berbeda sekali antara kehendak manusia yang menjadi pusat, dengan kehendak Allah yang menjadi pusat.

Ketika bangsa Israel mengharapkan kelepasan dari penindas mereka, bangsa Israel perlu terlebih dahulu melihat bahwa Allah berdaulat di atas segala sesuatu. Dia tidak kehilangan kedaulatan-Nya sekalipun umat-Nya sedang tertawan. Kedaulatan-Nya tidak ditentukan oleh persepsi manusia, seperti memberikan kemenangan perang, memberikan hidup makmur, mengabulkan keinginan manusia. Justru segala kehendak manusia perlu ditundukkan di bawah kedaulatan-Nya. Seringkali orang menjadi kecewa kepada Tuhan karena keinginan hati mereka menjadi ukuran apakah Tuhan berdaulat atau tidak.

Harapan bagi bangsa Israel dan orang percaya masa kini, adalah tetap menantikan Tuhan yang akan memberikan kekuatan. Memang ada masa-masa sulit dalam hidup. Tapi teruslah berharap menantikan kekuatan yang diberikan oleh Tuhan. Dan jangan jadikan keinginan diri kita sebagai penentu kuasa Tuhan. Hal tersebut tidak ubahnya seperti seorang pematung yang ingin membuat ilah bagi dirinya. Allah tetap berdaulat dan berkuasa sekalipun keinginan kita tidak atau belum terkabul, karena memang Dialah yang berdaulat bukan kehendak kita. Kiranya kita tetap memiliki pengharapan dan menanti kekuatan yang daripadaNya.

~ Pnt.K. Richard Natasasmita ~

Leave a Reply