KEKUASAAN KRISTUS MENGATASI SEGALA KUASA

Referensi Kotbah  24 November 2019

Kolose 1 : 15 – 23
Minggu ini adalah akhir dari siklus Kalender Gereja. Kalender Gereja dimulai dengan Masa Adven (penantian kedatangan Kristus) dan diakhiri dengan Minggu Kristus Raja, sebagai puncak dari perayaan gereja atas seluruh janji Allah dan pengharapan umat TUHAN. Dengan mengikuti pembagian dalam kalender Gereja, diharapkan umat TUHAN dapat dibantu menghayati perjalanan iman mereka dari awal sampai puncak kemenangan, di saat Kristus datang sebagai Raja yang mengatasi segala sesuatunya. Allah memulihkan seluruh tatanan alam semesta sebagaimana yang diinginkan-Nya, direncanakan-Nya dari semula. Manusia hidup selamanya menikmati Allah, Sang Raja (yang tak-terbatas) selama-lamanya.
Dalam bagian ini, Paulus menyampaikan dua hal tentang keutamaan Kristus: Yang pertama, keutamaan atas segala yang diciptakan; dan yang kedua keutamaan atas jemaat Tuhan. Bagian akhir nas ini, memberikan aplikasi praktis dan tuntunan sikap orang percaya yang seharusnya dalam kaitan dengan kenyataan karya Allah dalam Kristus.
Keutamaan Kristus dan respons orang percaya:
1. Keutamaan Kristus atas segala yang ada (eksis)
a. Kristus adalah gambar Allah. Tidak seorangpun yang dapat melihat Allah dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Allah adalah Roh yang tak terbatas, tak berbentuk, tak dapat dihampiri/ ditemukan siapapun kecuali Ia menyatakan diri-Nya kepada orang tersebut.

Kristus adalah representasi Allah yang tak nampak dan tak terbatas itu. Namun, Ia tidak dapat hanya dipahami seperti layaknya “interface” Allah. Ia juga adalah Allah yang sejati, pada diri-Nya sendiri; salah satu pribadi dalam Tritunggal Kudus.
a. Keberadaan Kristus mendahului segala yang eksis saat ini, diseluruh alam semesta. Segala sesuatu diciptakan oleh-Nya dan untuk-Nya (ay. 16). Tidak ada satu hal pun yang dapat disebut ‘eksis’, yang berada di luar diri-Nya (ay. 17, bandingkan Ibrani 1:2, 3)
2. Keutamaan Kristus atas Jemaat
a. Kristus adalah kepala dari Jemaat, yang pertama bangkit dari antara orang mati (dan hidup selamanya), dan seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia (ay.18). Walaupun Kitab suci banyak menyaksikan kebangkitan orang mati, tetapi kebangkitan Kristus adalah satu-satunya yang berkelanjutan sampai kekekalan. Semua kebangkitan lainnya, kembali mengalami kematian. Akan datang saatnya, dimana kebangkitan orang percaya akan menjadi sama seperti kebangkitan-Nya. Itu sebabnya Kristus disebut buah sulung kebangkitan. Tidak hanya itu saja, di dalam Kristus seluruh kepenuhan Allah berdiam. Artinya, Tritunggal kudus dapat ditemui, dilihat, dikenal, hanya di dalam Kristus Yesus. Hal lain, bahwa Dia – Kristus – adalah Allah, sekaligus membawa ‘tubuh manusiawi-Nya’, yang sudah dimuliakan; di dalam Dia, Allah dan manusia – menjadi satu (Ibr. 2:1).
b. Jemaat dapat didamaikan dengan Allah melalui pengurbanan Kristus (ay.22). Sedemikian, jemaat kudus, tak bercela dan tak bercacat, di hadapan Allah. Oleh Kristus-lah, kita dilayakkan Allah ada di hadapan-Nya; tanpa Dia, kita adalah obyek murka Allah.
3. Respons yang diharapkan dari orang percaya
a. “…kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil….” (ay. 23).
b. Memperhatikan, tidak melupakan pelayan Tuhan yang telah memberitakan Injil kepada mereka (ay. 23); Injil yang telah didengar dan telah dikabarkan di seluruh kolong langit.
Mari kita lebih giat lagi hidup sebagai hamba Kristus – Sang Raja kekal! Cintai firman-Nya, setia kepada-Nya! Sambil kita menantikan penggenapan kedatangan Kristus, Raja kita! Amin!

~ Pdt. Albert Adam ~