JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

REferensi Kotbah 23 Desember 2018

Lukas 1 : 46 – 55

Bulan Desember seringkali menjadi bulan yang sangat menyibukkan bagi orang percaya. Gereja-gereja berlomba-lomba menyiapkan yang terbaik untuk merayakan kelahiran Tuhan Yesus. Pernak pernik Natal dijual dimana mana. Kita mudah menemukan ornament ornament Natal dipajang dimana mana. Itulah bulan Desember.
Bukanlah hal yang salah merayakan Natal tetapi sejauh mana kita sudah memaknai Natal itu yang terpenting daripa da merayakannya dengan besar besaran. Berita Natal yang diterima Maria kurang lebih 2000 tahun yang lalu saat ini sudah bergeser makananya. Ketika berita Natal diterima oleh Maria tidak ada pernak Pernik, tidak ada kemewahan, tidak ada tarian oleh Malaikat. Ketika Maria menerima berita Natal reaksi yang Maria tunjukkan adalah kaget. Yang walaupun pada akhirnya ia sampai kepada keputusan, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan itu” (Luk 1:38). Pujian yang dinaikkan Maria dalam Lukas 1:46-55 ini disebut “Magnificat” atau pujian “bagi keagungan dan kemuliaan Allah” dalam pujian ini kita melihat bagaimana Maria mengagungkan dan memuliakan Allah dengan segenap hatinya. Pertanyaanya apa yang mendasari Maria menaikkan pujian yang luar biasa ini? Ada dua point penting.

1. Karena Maria menyadari ia bukan siapa siapa (48-51)
Maria sadar benar siapa dirinya, dia bukan orang siapa siapa. Maria adalah seorang wanita yang sederhana dan secara materi tidak ada yang bisa dibanggakan.

Namun Maria mendapatkan posisi sebagai “ibu Tuhan” dan ini adalah suatau anugerah yang Tuhan berikan bagi Maria. Hal ini tercemin dalam pujian Maria di ayat 48-49 “sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.”
Bagaimana jika bapak bu mendapatkan posisi seperti Maria? Apa yang terjadi? Mengucap syukur? Merendahkan diri di hadapan Tuhan? Atau menyombongkan diri? Seringkali jabatan gerejawi, pelayanan gerejawi tidak membuat orang semakin rendah hati namun semakin menyombongkan diri.

2. Maria bersyukur karena ditinggikan Tuhan (52)
Karena Maria menyadari bahwa Maria bukan siapa siapa maka hal ini justru berdampak pada spiritualitas Maria. Perasaan bukan siapa siapa inilah yang membuat Maria mampu bersyukur ditinggikan Tuhan dengan menjadi ibunya TUhan. Hal ini terlihat Dalam pujian Maria ayat 53 “Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa.”

Jemaat sekalian, hanya orang yang merasa dirinya bukan siapa siapa yang mampu bersyukur dan memuliakan Tuhan. Hanya orang percaya yang memposisikan diri sebagai Hamba yang mampu menjalankan pekerjaan Tuhan. Setiap orang yang dipanggil sebagai anak Tuhan adalah hambanya Tuhan, tidak ada alas an bagi kita untuk menyombongkan diri. Status seorang hamba seharusnya menjadikan kita bersyukur seperti yang Maria lakukan.

~ Bp. Cahyono Candra ~