JANGAN GEGABAH KARENA MERASA KUAT

 

Referensi Kotbah  24 Maret 2019

I Korintus 10 : 1 – 13

Apa yang menjadi maksud Paulus ketika menuliskan 1 Korintus 10:1-13 ini? Jika kita membaca 1 Korintus 10:6a,11, jelas bahwa semua yang ingin disampaikan Paulus dalam bagian ini bertujuan untuk memberikan contoh yang menjadi peringatan, bagi jemaat di Korintus, juga bagi kita.

Lalu apa sesungguhnya yang ingin disampaikan Paulus lewat contoh yang diberikan untuk memperingatkan kita semua?
Pertama, meski telah menikmati berkat-berkat ilahi namun bukan jaminan bahwa tidak akan lagi menginginkan hal-hal yang jahat. Apa yang menjadi keistimewaan dari umat Israel? Umat Israel telah banyak menikmati berkat dari Allah, seperti perlindungan-Nya atas mereka melalui awan dan penyertaan-Nya serta pimpinan-Nya dalam menyeberangi laut. Selain itu, mereka juga boleh menikmati manna dan minum air dari batu karang yang semuanya itu dipahami Paulus sebagai sebagai lambang dari baptisan dan perjamuan kudus dalam hidup orang beriman. Namun demikian, bagian terbesar dari mereka justru binasa dihukum Tuhan. Mengapa? Karena ternyata mereka menginginkan (dan melakukan) hal-hal yang jahat, hal-hal berdosa (ay 7-10). Semua itu menunjukkan mereka tidak sungguh beriman kepada Tuhan dan mereka tidak bertobat. Jadi meski seseorang telah menikmati berkat-berkat rohani tapi jangan mengira bahwa hal itu sudah cukup menjamin bahwa ia tidak lagi menginginkan bahkan melakukan hal-hal yang jahat

Kedua, Kegagalan umat Israel jadi peringatan agar tidak perlu terulang lagi, ay 7-12
Semua hal-hal jahat yang diinginkan dan diperbuat umat Israel dan yang menjadi penyebab kegagalan dan kebinasaan mereka, dilihat Paulus sebagai peristiwa-peristiwa sejarah yang suka atau tidak, harus diceritakan kembali untuk menjadi peringatan bagi kita. Kata “kita” (ay 6a, 11) mengisyaratkan bahwa peringatan itu bukan hanya berlaku bagi jemaat Korintus sendiri tapi juga termasuk Paulus di dalamnya dan juga tentunya bagi kita orang-orang percaya. Lalu untuk tujuan apa peringatan itu dituliskan? Tentu saja agar kita tidak mengulangi dan berbuat hal yang sama dengan yang diperbuat Israel (ay 6b,11). Juga agar kita senantiasa berhati-hati terhadap prasangka diri sendiri yang merasa telah berdiri teguh dalam iman, padahal faktanya tidak. Kalaupun itu benar, juga tidak perlu pamer dan tetap waspada. Paulus sendiri tidak berprasangka demikian atas dirinya, karena itu ia memberlakukan peringatan tersebut juga bagi dirinya sendiri.

Ketiga, Pencobaan bisa datang pada siapa saja tetapi jalan keluarnya hanya datang dari Allah
Meskipun Paulus memakai kata “kamu” dalam ay 13, namun jika melihat kembali uraian sebelumnya maka dapat dikatakan bahwa setiap orang percaya tidak ada yang dikecualikan dari pencobaan, baik itu yang bersifat ujian untuk menguatkan iman atau bersifat godaan untuk menjatuhkan kita dalam dosa. Namun demikian, Paulus meyakini bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami itu adalah pencobaan biasa, yang umumnya juga dihadapi orang lain dan tidak melebihi kekuatan manusia. Apa dasarnya Paulus berkata seperti itu? Sebab Allah yang diimaninya adalah Allah yang setia pada janjiNya untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya kepadaNya, karena itu:
a) Ia tidak akan membiarkan kita menghadapi cobaan di luar batas kekuatan kita
b) Ia akan menolong dan menyediakan solusi bagi setiap cobaan yang kita hadapi sehingga dapat ditanggung dan diatasi.

Dalam memasuki Minggu Pra-Paskah ke 3 ini, biarlah kita semua sungguh mau belajar dari kegagalan Israel sehingga hal itu tidak akan dan tidak perlu terjadi pada kita. Ujian dan godaan bisa kita alami, namun hanya Allah yang membuat kita dapat mengatasinya.

~ Pdt. Widianto Yong ~