IRONI KETAATAN ORANG-ORANG PERCAYA KETIKA MENDENGAR PERKATAAN ALLAH

Referensi Kotbah 21 Januari 2018

Yunus 3 : 1 – 10

Berbicara mengenai ketaatan orang percaya, khususnya seorang pilihan TUHAN untuk menjadi penyambung lidah-Nya, Yunus, hanyalah salah satu dari sekian banyak Nabi yang menunjukkan ketidak-taatannya kepada perintah TUHAN.
Dalam kasus Yunus ini, ia telah mendapatkan teguran yang keras dari TUHAN dan mendapatkan kesempatan kedua untuk mentaati perintah TUHAN menyampaikan pesan-Nya kepada orang-orang di Ninewe. Yunus memang tidak punya pilihan lain, selain menuruti perintah TUHAN, setelah ia dimuntahkan ikan besar yang menelannya, dan berangkat ke Ninewe untuk memberitakan perkataan TUHAN. Benarkah sedemikian sukarnya bagi Yunus untuk menuruti perintah TUHAN menyampaikan perkataan-Nya? Apa yang sebenarnya membuat Yunus berusaha menghindar untuk menuruti perkataan TUHAN?
Agenda pribadi seringkali menjadi penghalang utama dalam menundukkan diri lalu mentaati Firman Tuhan. Keinginan Yunus agar orang Ninewe dibinasakan oleh TUHAN sedemikian besar, sehingga Yunus enggan untuk membuka hati bagi rencana Tuhan untuk keselamatan orang Ninewe – hal yang sebenarnya sudah diperkirakan oleh Yunus sendiri (4:1-2). Pelarian Yunus, sebagai tindakan ketidaktaatan, adalah wujud keinginan agar orang Ninewe tidak mendapat belas kasih Tuhan dan pengenalannya akan Allah yang pengasih dan penyayang, berlimpah kasih setia dan Allah yang dapat menahan murkaNya kepada mereka yang berbalik dari dosa mereka.

Sebaliknya orang Ninewe yang saat itu mendengar seruan Yunus tentang penghukuman Allah yang akan datang, ternyata disambut dengan penyesalan dan pertobatan; bukan hanya diantara masyarakat biasa, tetapi juga diserukan kepada seluruh masyarakat Ninewe oleh Raja. Lebih dari itu, raja memerintahkan bukan hanya manusia yang harus berpuasa, tetapi semua ternak dan binatang juga.
Mengapa mereka sedemikian cepat merespon seorang asing yang menyerukan penghukuman dari Allah?
Ayat 3:5, menyatakan bahwa “Orang Ninewe percaya kepada Allah”, dari teks aslinya, lebih kepada hasil pemberitaan Yunus di sana, bukan karena mereka sudah percaya kepada Allah dari dulunya.
Perhatian TUHAN kepada bangsa-bangsa lain selain Israel, sangat jelas dinyatakan melalui peristiwa Yunus ini. Jika TUHAN tidak berbelaskasihan kepada orang-orang di Ninewe, mungkin sekali Yunus tidak akan dipanggil untuk menyatakan penghukuman-Nya kepada orang-orang di Ninewe. Jadi jelaslah, bahwa ketaatan orang Ninewe, merupakan dampak penyampaian berita penghukuman melalui Yunus. Dengan kata lain, TUHAN sendirilah yang berkasih karunia melalui pemberitaan penghukuman tersebut yang membawa pada penyesalan dan pertobatan orang-orang Ninewe.
Hidup kita dengan Tuhan sehari-harinya, jika disederhanakan, dapat dinyatakan dalam ketaatan atau ketidaktaatan terhadap Firman-Nya. Mungkinkah agenda pribadi kita sedemikian menghalangi kita untuk taat pada-Nya dan menjadi pelaku Firman yang setia? Mungkinkah kita sedemikian terlena dengan dosa, sehingga kita perlu teguran-Nya menolong kita untuk sadar kembali dan berbalik dari jalan kita yang sesat? TUHAN kasihani kami!

~ Pdt. Albert Adam ~

Leave a Reply